
Lampung Timur, sinarlampung.co – Impian warga Kebayan XV Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur, untuk memiliki jalan yang layak akhirnya mulai terwujud. Namun, pembangunan tersebut bukan dari pemerintah, melainkan hasil patungan warga setempat.
Sejumlah warga dari lima RT di Kebayan XV bergotong royong menyusun, meratakan batu kriting, hingga melakukan pengecoran di badan jalan RT 044.
“Pembangunan ini dari hasil patungan warga, ditambah beberapa donatur, termasuk sumbangan dari warga yang menjadi PMI di luar negeri,” ujar Jefri, salah satu warga RT 044, Selasa (9/9/2025).
Krista, Ketua Karang Taruna Garda Pemuda Nagasari, menjelaskan bahwa dana pembangunan dikumpulkan melalui program Jumat Berkah selama tiga bulan terakhir. Warga menaruh kotak di depan rumah masing-masing untuk diisi uang secara sukarela, kemudian hasilnya diserahkan kepada karang taruna untuk dikelola.
“Alhamdulillah, jalan ini berhasil dibangun dari uang yang dikumpulkan secara kolektif tersebut,” kata Krista. Ia menambahkan, bantuan dari pemerintah sangat diharapkan. “Kami butuh molen pengaduk semen untuk mempercepat pekerjaan, karena masih banyak jalan yang belum dicor,” keluhnya.
Ketua Bayan XV Desa Bandar Agung, Suwondo, menuturkan bahwa karang taruna mempelopori pembangunan sejumlah jalan di wilayahnya dengan sistem gotong royong. “Sekitar 150 orang antusias ikut bergotong royong,” jelasnya.
Menurut Suwondo, dari total panjang jalan sekitar 4.000 meter, baru 1.150 meter yang dikerjakan. Dari jumlah itu, sekitar 400 meter berhasil dicor, ditambah 50 meter di RT 044 yang didanai oleh donatur warga. Selebihnya masih berupa penyusunan dan perataan batu kriting.
Ia berharap pemerintah desa tidak hanya memberi bantuan alat berat seperti road roller, melainkan juga mendukung penuh percepatan pengecoran, pengaspalan, dan pemasangan batu di titik lain.
Apa yang dilakukan warga Kebayan XV menjadi potret miris kerinduan masyarakat terhadap infrastruktur yang layak. Di satu sisi, sebagian masyarakat di negeri ini menikmati fasilitas memadai, sementara sebagian lain harus berjuang dengan cara patungan dan gotong royong untuk mendapatkannya.
Padahal, infrastruktur yang baik merupakan salah satu indikator kemajuan wilayah, penopang roda perekonomian, peningkat kesejahteraan, sekaligus memudahkan masyarakat mengakses layanan pemerintah. (Afandi)