
Pesawaran, sinarlampung.co – Operasional Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Hanura 2 Yayasan Alfian Husin-06 di Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, dikeluhkan warga setempat. Selain memicu bau menyengat akibat penumpukan limbah sisa pengolahan masakan, pola pengelolaan dapur tersebut juga menuai sorotan terkait minimnya pelibatan UMKM lokal.
Berdasarkan pantauan dan keterangan warga Dusun B Desa Hanura, limbah cair dialirkan melalui pipa yang terhenti tepat di areal pemukiman dan berdekatan dengan persawahan. Bau busuk yang dihasilkan dirasa sangat mengganggu kenyamanan, terutama pada malam hari.
“Saya sendiri sudah pernah menyampaikan keberatan ke pihak dapur. Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sudah sempat mengecek ke lokasi dan meminta kami bersabar karena akan diajukan ke yayasan. Namun, sampai sekarang belum ada tindakan nyata,” ujar Dodi, warga setempat, Sabtu (15/8/2026).
Sebelumnya, lokasi dapur tersebut pernah ditinjau oleh rombongan DPRD Kabupaten Pesawaran, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta pihak terkait. Solusi penanganan berupa perpanjangan saluran pipa pembuangan justru menimbulkan masalah baru karena penyambungan pipa terhenti di sekitar pemukiman warga di bagian bawah.
Warga khawatir jika pipa pembuangan nantinya dipanjangkan hingga ke arah laut, limbah tersebut berpotensi mencemari areal Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung milik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Masyarakat pun mendesak Pemerintah Daerah dan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk segera turun tangan memberikan solusi permanen.
Sorotan Pelibatan UMKM Lokal
Di sisi lain, keluhan terhadap tata kelola SPPG MBG di bawah naungan Yayasan Alfian Husin juga datang dari wilayah lain. Pola pengadaan bahan pangan dapur MBG dinilai kurang memberdayakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi kegiatan.
Irwan, warga Rajabasa, Bandar Lampung, mengungkapkan bahwa penyediaan bahan baku untuk SPPG MBG Yayasan Alfian Husin 2 di wilayahnya didominasi oleh pihak internal yayasan.
“Di wilayah kami, SPPG MBG tidak melibatkan UMKM setempat. Pasokan bahan pangan kabarnya dipasok langsung oleh koperasi internal Yayasan Alfian Husin,” ungkap Irwan.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa Yayasan Alfian Husin mengelola lebih dari satu unit Dapur MBG di wilayah Lampung, yang kini mulai mendapatkan perhatian publik terkait aspek dampak lingkungan dan transparansi kemitraan lokal. (Red)