
Majalengka, sinarlampung.co – Sejarah terbentuknya Sanggar Panghégar Production adalah kisah indah tentang cinta, dedikasi, dan perjalanan panjang sebuah keluarga seni yang terus tumbuh dan berkembang.
Pada kesempatan ini Hegar Parangina, S.Sn selaku Ketua Yayasan Panghegar serta guru SMPN 3 Majalengka akan berbagi kisah tentang sejarah awal terbentuknya Sanggar Panghégar Production. Saat ini ia menjalankan perputaran roda bersama sang adik Restu Muara Bagja.
Pada awal tahun 2000-an, sanggar ini lahir dengan nama Setra Galih, sebuah kelompok seni sederhana yang dipimpin oleh Asikin Hidayat. Ia seorang guru Bahasa Inggris, penyair, sekaligus seniman tradisional, kata Hegar panggilan akrabnya pada sinarlampung.co. Sabtu, 16/8/2025.
Asikin Hidayat bersama sang istri, Lia Marliani, seorang guru TK yang juga seniman tradisional. Dari panggung ke panggung, baik di hajatan maupun di berbagai event, mereka berdua menaburkan karya seni yang penuh makna, ditemani semangat keluarga kecil mereka, tutur Hegar.
Seiring perjalanan waktu, lanjut Hegar, Setra Galih berubah menjadi Hegar Grup. Tahun 2010 menjadi titik penting ketika keluarga ini membeli sebuah rumah di Kelurahan Munjul. Kemudian disulap menjadi pusat pelatihan kesenian, khususnya tari dan karawitan. Dari sinilah nama Sanggar Panghégar lahir, menjadi wadah resmi untuk tumbuhnya ratusan generasi muda seni.
Menurutnya, nama Sanggar Panghégar semakin harum dengan torehan prestasi demi prestasi. Kini, lebih dari 150 murid aktif belajar seni tari dan karawitan di sanggar ini. Pertumbuhan Sanggar Panghégar semakin kuat ketika kedua putra mereka mengambil peran sebagai penerus.
Hegar Parangina, menempuh pendidikan seni di SMKN 10 Bandung dan ISBI Bandung, kini dikenal sebagai komposer musik tradisional, pencipta lagu, dan penggagas ide-ide kreatif yang membuat setiap pagelaran Sanggar Panghégar tampil segar dan inovatif. Ia juga piawai memainkan berbagai alat musik tradisional.
Restu Muara Bagja, sang adik, menempuh pendidikan di SMKN 10 Bandung dan melanjutkan kuliah di UPI Bandung jurusan seni musik. Ia dikenal sebagai komposer serbabisa, mampu menjembatani musik modern dan tradisional, pencipta lagu, penata musik andal untuk Sanggar Panghégar, sekaligus sosok muda kreatif yang populer sebagai selebriti digital.
Kini, Sanggar Panghégar Production bukan hanya sekadar sanggar seni, tetapi sebuah rumah besar yang melahirkan karya, menjaga tradisi, sekaligus mencetak generasi baru yang mencintai budaya. “Dari panggung kecil hingga event besar nasional, Sanggar Panghégar terus menorehkan jejak positif dan menjadi kebanggaan Majalengka, bahkan Jawa Barat”, ujar Hegar bangga.
Tak lupa, Hegar juga menceritakan bagaimana proses peralihan pengelolaan dari Asikin Hidayat yang merupakan ayah kandungnya. Serta kolaborasi dengan sang adik sehingga Sanggar Panghégar meraih sukses.
Hegar meneruskan, proses peralihan kepemimpinan di Sanggar Panghégar terjadi secara alami. Setelah ayah saya diangkat menjadi kepala sekolah, beliau mulai fokus pada dunia pendidikan dan kemudian memilih jalan hidup baru bersama keluarga barunya.
“Seiring waktu, beliau pun lebih banyak menekuni dunia kepenyairan setelah pensiun dari tugasnya sebagai PNS dan tetap aktif berkarya lewat puisi”, imbuhnya.
Sementara itu, agar Sanggar Panghégar tetap hidup dan terus berkembang, tongkat estafet diteruskan kepada saya. Dengan penuh rasa tanggung jawab, saya melanjutkan perjuangan beliau dan kini dipercaya sebagai Ketua Yayasan Panghégar Production, tambahnya.
Bagi saya, ini bukan hanya tentang melanjutkan sanggar, tetapi juga menjaga warisan, meneruskan cita-cita, dan mengembangkan karya seni agar tetap relevan di masa kini, tutup Hegar.
Sebagai informasi, saat ini Restu Muara Bagja berperan sebagai penata musik sekaligus memegang kendali studio rekaman Sanggar Panghégar. Ia tidak hanya menciptakan aransemen musik untuk setiap pertunjukan.
Tetapi, ia juga menjadi sosok penting dalam menggabungkan unsur tradisional dan modern sehingga karya-karya Sanggar Panghégar terdengar segar, kreatif, dan berkarakter. Kehadirannya membuat setiap garapan panggung semakin hidup dan bernilai. (Heny)