
Pesawaran, sinarlampung.co – Kasus dugaan bullying dan penganiayaan santri di Pondok Modern Daarul Iqrom Kedondong, Pesawaran, mendapat sorotan dari Ketua Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Pesawaran, Mahmuddin yang menyayangkan peristiwa tersebut terjadi.
Mahmuddin menilai munculnya persoalan tersebut merupakan cerminan lemahnya pengawasan pengelola pondok. Korban bernama M. Fa’iq Maulana harus mengalami patah tulang hidung akibat dikeroyok seniornya.
“Kami sangat menyesalkan kurangnya tanggung jawab pihak pesantren sehingga terjadinya kasus yang mengakibatkan korban penganiayaan ini,” terang Mahmuddin kepada wartawan, saat ditemui di Kediamannya pada Senin, 3 Maret 2025.
Belajar dari kejadian tersebut, Mahmuddin menyarankan agar para pengurus dan guru di pondok tersebut menerapkan program ramah anak. Perlunya, mengevaluasi proses pembinaan, pengawasan, dan pola relasi antar santri yang lebih baik.
“Sehingga bila terjadi masalah antara santri, pengawas bisa segera mengetahui dari awal, sehingga aksi-aksi kekerasan dan main hakim sendiri bisa dihindari,” katanya.
Ia meminta kasus yang sudah ditangani oleh Satreskrim Polres Pesawaran ini sesuai prosedur penanganan anak sesuai dengan Undang-Undang Peradilan Pidana Anak.
“Saya berharap pihak Polres Pesawaran dapat menangani kasus ini sesuai dengan undang-undang peradilan pidana anak. Supaya ada efek jera dan kejadian serupa tidak terulang lagi karna orang tua mempercayakan Anaknya menimba ilmu di situ bukan untuk hal lain,” tutupnya. (Red)