
Banten (SL)-Banjir yang merendam Kota Serang, Banten, Selasa 1 Maret 2022 malam, disebabkan luapan air Bendungan Sindangheula, yang jebol. Bendungan Sindangheula merupakan sebuah proyek bendungan yang berlokasi di Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Banten.

Hal ini dibenarkan oleh Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, Cidurian (BBWSC3), I Ketut Jayada. Dia menerangkan, ada sekitar 2 juta kubik air yang luber dari waduk ke permukiman warga. “Daya tampung bendungan kami itu hanya 9 juta. Dari hasil perhitungan kami, debit yang diterima (bendungan) sekitar 11 juta, ada kelebihan yang memang harus mengalir ke laut secara alamiah, bukan kami sengaja, memang bisanya dia mengalir ke sungai,” kata Jayada, Rabu 2 Maret 2022.
Menurut Jayada curah hujan tinggi menyebabkan debit air di Bendungan Sindangheula tidak lagi tertampung, kemudian membanjiri Ibu Kota Banten. Sejak 28 Februari hingga 1 Maret, curah hujan yang turun mencapai 243 milimeter. Jayada meninjau Bendungan Sindangheula bersama Wali Kota Serang Syafrudin dan Wagub Banten Andika Hazrumy.
Mereka melihat kondisi air dan memastikan penyebab banjir terbesar yang pernah dialami di Kota Serang. “Pengamatan kami ada curah hujan yang cukup tinggi dengan durasinya panjang 243 milimeter. Banjir kala ulang, curah hujan ini kalau ulang 200 tahun ya ini terjadi sekarang, sementara (bendungan) ini di desain 1.000 tahun. Ini mungkin pengaruh perubahan cuaca global warming, cuaca ekstrem,” terangnya.
Banjir yang disebabkan luapan air dari Bendungan Sindangheula yang diresmikan Presiden Jokowi pada 4 Maret 2021 juga merendam kawasan Masjid Agung Banten. Hingga Rabu sore, air masih menggenangi kawasan makam Sultan Banten dan komplek Keraton Kesultanan Banten, di Kecamatan Kasemen, Kota Serang.
Bendungan Sindangheula jebol lantaran tidak dapat menampung debit air hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Serang. Jebolnya Bendungan Sindangheula mengakibatkan banjir di 43 titik. Wali Kota Serang Syafrudin menyebutkan, banjir di Kota Serang kali ini merupakan banjir terparah dengan ketinggian air mulai dari 50 cm hingga 5 meter.
Wali Kota Serang Syafrudin menyebutkan, Bendungan Sindangheula tidak mampu menampung debit air karena hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Kota Serang. Akibatnya, bendungan Sindangheula jebol sehingga air meluap dan mengakibatkan banjir. “Waduk Sindangheula sudah tidak bisa menampung debit air, ada kemungkinan jebol. Sebab, tidak pernah terjadi banjir Kota Serang seperti ini (parah),” kata Syafrudin.
Menurut Walikota, sedimentasi yang terjadi di Kali Cibanten juga memperparah banjir yang terjadi. Pasalnya, Kali Cibanten ini melintasi Kota Serang karena bermuara di Kecamatan Kasemen, Serang. Sebelumnya, Syafrudin sudah mengusulkan agar dilakukan normalisasi di Kali Cibanten kepada Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, Cidurian (BBWSC3). Kendati demikian, BBWXC3 belum merespons dan melakukan normalisasi.
Salah satu tokoh dan ulama Banten, KH Fathul Adzim, sekaligus pimpinan Ponpes Masaqotul Muntadzir yang lokasinya tepat berdampingan dengan Masjid Agung Banten mengatakan, banjir terparah yang dialaminya terjadi sekitar 49 tahun lalu, tepatnya 1973.
Kali ini, dia mengalami banjir yang dirasakan lebih parah dibanding saat itu. “Iya, ini yang paling parah. Banjir itu hanya lewat saja, tidak lama, dan tidak menggenang seperti ini. Waktu itu airnya sampai naik ke masjid, lantai masjid sampe basah,” katanya.
Dia mengenang peristiwa itu, saat banjir merendam kawasan Kesultanan Banten, dia masih seorang bocah yang duduk dibangku sekolah dasar. Banjir saat itu tidak lama, hanya beberapa jam saja. “Seingat saya, dulu terjadi banjir di sini hari kedua Lebaran Haji pada tahun 1973, saya waktu itu kelas 4 SD. Waktu itu tidak dibantu hujan, tiba-tiba banjir. Hujannya kayanya waktu itu di daerah Pamarayan dan sekitarnya,” katanya.
Bendungan Untuk Kendalikan Banjir
Bendungan Sindangheula dibangun pada 2015, pembangunan Bendungan Sindangheula bertujuan untuk mengendalikan banjir yang kerap terjadi di kabupaten Serang dan sekitarnya. Bendungan ini dianggap mampu mereduksi banjir hingga 50 meter kubik per detik dari Sungai Ciujung dan Sungai Cidurian. Tak hanya itu, pembangunan Bendungan Sindangheula juga dimanfaatkan untuk konservasi dan pariwisata serta pembangkit listrik yang menghasilkan 0,40 megawatt, faktanya justru membuat banjir parah.
Proyek Bendungan Sindangheula dikerjakan oleh PT PP (Persero) Tbk dan Pt Karya Hutama (Persero). Pembangunan dilakukan selama 4 tahun, yakni dari 2015 sampai dengan 2019. Selama proses pembangunan tersebut, total biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 458 miliar.
Bendungan Sindangheula pernah viral lantaran digunakan sebagai tujuan wisata oleh warga pada Juni 2020. Warga berbondong-bondong mengunjungi Bendungan Sindangheula untuk berseluncur di saluran pembuangan bendungan yang setinggi 50 meter.
Tindakan warga tersebut sempat dilarang oleh Pelaksana Teknik Bendungan Sindangheula Rommy Hamzah. Rommy mengatakan, tindakan warga bisa membahayakan keselamatan nyawa. Oleh karena itu, pihaknya memutuskan untuk menutup area bendungan dari masyarakat. Selain faktor keselamatan, ketika itu bendungan juga belum diresmikan.
Bendungan Sindangheula baru diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Maret 2021 lalu. Saat itu, Jokowi didampingi oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Gubernur Banten Wahidin Halim, dan Direktur Utama PT PP (Persero) Tbk Novel Arsyad.
Saat peresmian, Jokowi mengatakan bahwa bendungan ini akan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Bendungan Sindangheula memiliki kapasitas air 9,3 juta meter kubik ini bisa mengaliri 1.289 hektar sawah di Provinsi Banten.
Hal tersebut bisa menjadi nilai tambah bagi petani agar semakin produktif dalam menjaga ketahanan pangan. Bahkan, Bendungan Sindangheula juga dimanfaatkan untuk menyediakan air baku hingga 0,80 meter kubik per detik untuk kegiatan industri di Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon. (Ahmad/Suryadi)