
HEARING soal tikus yang nakal dibahas di Ruang Komisi IV DPRD Bandarlampung. Di hadapan anggota dewan yang terhormat, duduk pihak manajemen Chandra Superstore, Senin (17/2).
Tikus telah membuat sejarah besar, menjadi topik penting untuk dibicarakan di gedung dewan, mengalahkan topik lain, seperti buruknya manajemen persampahan di kota, atau makin banyaknya jalan yang berlubang, atau soal politik pilkada yang makin memanas, atau soal makin ramainya para Penjaja Seks Komersial (PSK) yang mengadu nasib di belakang Lapangan Saburai.
Bisa dimaklumi, betapa khawatirnya Komisi IV DPRD Bandarlampung yang bidang kesehatan dengan penampakan tikus di supermaket itu Rabu (12/02) lalu. Jelas, tikus adalah hewan menjijikan, tapi itu bukan alasan utama pentingnya hearing digelar.
Nyatanya anggota dewan lebih condong menyoal upaya yang dilakukan pihak Chandra Superstore dalam memerangi tikus. Anggota dewan lebih suka menanyakan strategi yang akan dijalankan perusahaan ritel terbesar di Lampung supaya tikus tak “menari-nari” ladi di dalam freezer penuh makanan.
Sepanjang hearing, tak ada upaya meluaskan pembicaraan untuk mencari tahu, apa sebab tikus makin mewabah di Bandarlampung. Padahal ini lebih seru, bukan?
Pertanyaan anggota dewan pun dijawab Deni Wahyudi, Manajer Umum Chandra Superstore dengan lancar. Freezer box yang dimasukin tikus sudah disingkirkan, diganti dengan yang baru. Dan Chandra pun telah menggandeng PT Agricon Putra Citra Prima yang dinilai lihai dalam hal penanggulangan hama.
“Kami akan meningkatkan kontrol, terutama pada rawan seperti buah, sayur, dan daging,” jelas Deni.(iwa)