Yogyakarta (SL)-Biro Kemahasiswaan dan Alumni (Bimawa) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta bekerjasama dengan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengadakan Seminar Nasional dengan tema “Menjadi Mahasiswa yang Unggul di Era Industri 4.0 dan Society 5.0”, dan Pelatihan Mahasiswa Kader Bangsa (PMKB) Tingkat Nasional, di Kampus Utama UAD, di Tamanan, Bantul, Sabtu hingga Selasa (28-31/12).
Kepala Bimawa UAD Dr Dedi Pranowo MHum menyampaikan dalam PMKB yang kedua ini ada lima kegiatan yakni Seminar Nasional, Pelatihan Mahasiswa Kader Bangsa, FGD, Mini Workshop Paper, dan Presentasi Paper. “Peserta seminar nasional berasal dari 15 PTMA se-Indonesia, sejumlah 304. Dengan 80 diantaranya akan mengikuti Pelatihan Mahasiswa Kader Bangsa,” ujar Dedi.
Wakil Rektor 3 Bidang Kehidupan Kampus, Kemahasiswaan, dan Alumni UAD Dr Abdul Fadlil MT menjelaskan pelatihan ini menjadi penting karena untuk memenangkan persaingan global sangat ditentukan oleh kemandirian dan kualitas yang unggul dari mahasiswa Indonesia.
“Dalam forum ini mahasiswa bisa saling berinteraksi. Komunikasi dan jejaring yang dibangun harapannya dapat melahirkan kreativitas dan ide-ide baru,” ungkap Fadlil.
Dirjen Belmawa Kemdikbud Prof Ismunandar PhD memaparkan tantangan di era disrupsi sekarang adalah perubahan yang terjadi sangat cepat. Mahasiswa harus lebih fleksibel, adaptif, memahami literasi dan jejak digital, bijak dalam bermedia sosial, dan mempelajari keterampilan baru dalam perkembangan teknologi informasi yang pesat. Meliputi Big Data, Internet of Things, dan Artificial Intelligent. Peserta PMKB kali ini adalah “sedikit dari yang terpilih”, yang diharapkan mampu menggerakkan, menginspirasi, mendorong, dan menarik gerbong rekan-rekan mahasiswa yang lain dari seluruh Indonesia.
“Pendidikan jangan sampai menghilangkan rasa kemanusiaan yakni simpati dan empati yang menjadi fondasi dari karakter. Ditambah unsur kepemimpinan, berpikir kritis, kemampuan adaptasi dan negosiasi, intuitif, dan kreativitas. Kecerdasan dan karakter adalah tujuan akhir dari pendidikan. Pendidikan tanpa karakter adalah kegagalan. Teknologi tidak bisa menggantikan kontak batin pendidikan yang terjadi di kelas, rumah, dan masyarakat. Teknologi hanya menggantikan hal yang bersifat teknis saja,” terang Ismunandar.
Wakil Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Dr Muhammad Samsudin SAg MPd mengatakan, komitmen dan semangat Muhammadiyah adalah Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Namun jangan dilupakan, keberhasilan seseorang ditentukan oleh Communication Skills, selain Technical Skillsnya.
“Perang secara fisik sudah tidak ada, tetapi sekarang kita berperang melawan faham-faham yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa,” jelas Samsudin.(*)