
Pagar Alam (SL)-Seorang petani kopi, Yanto (35) warga Desa Karang Dalam, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, ditemukan tewas mengenaskan akibat diterkam Harimau, dikebun kopi dekat Hutan Lindung, Desa Tebat Benawa, Dempo Selatan kota Pagar Alam, Kamis 05 Desember 2019.
Korban ditemukan dalam kondisi tidak utuh dan tercabik cabik, tak jauh dari gubuk kebun korban. nformasi dilokasi kejadian menyebutkan Senin 2 Desember 2019 sekira pukul 08.00 Wib, Yanto berpamitan kepada istri dan anak-anaknya untuk pergi ke kebun, guna mengambil hasil petikan kopi yang masih di simpan di pondok kebunnya. Korban berencana pulang Sore harinya.
Namun, hingga hari ke tiga, korban tak kunjungan pulang. Lantaran mertuanya meninggal dunia, keluarga beberapa kali menghubungi korban menyuruh pulang. Keluarga pun meminta kerabatnya di Pagaralam untuk mencari korban. Korban pun ditemukan tewas mengenaskan di dekat sepeda motor dan kopi yang telah dipanennya.
“Yanto pergi ke-kebunnya dengan rencana pulang pada sore harinya. Namun sudah 3 hari korban tidak kunjung pulang. Karena mertuonyo meninggal, Kamis 5 Desember 2019 kami nyusul kekebun. Sampai disano, Yanto sudah tergeletak di samping pondok di tengah kebun kopi milik korban. Kondisi sudah meninggal badan dak utuh lagi,” kata Khoiri, kerabat korban.
Kapolsek Dempo Selatan Iptu Zaldi Jaya menjelaskan, mayat korban sudah rusak. Hanya menyisakan kaki utuh dan tulang-tulang yang diduga usai dimakan harimau. “Dugaan kuat korban dimakan harimau dilihat dari bekas gigitan. Lagi pula sepeda motor dan kopi habis dipanen masih ada di lokasi,” ungkap Zaldi.
Keterangan saksi Khoiri kerabat korban memperkuat hal itu. Setelah melihat korban, Khoiri, sempat melihat di area sekitar, masih ada harimau yang diduga menerkam korban. Khoiri kemudian berlari menuju kampung terdekat. “Saksi langsung berlari ke arah kampung guna menyelamatkan diri dan memberitahukan kepada pihak keluarga dan masyarakat,” ungkapnya.
Mendapat laporan dari saksi, pada pukul 14.00 Wib diadakan evakuasi gabungan TNI-POLRI, pemerintah dan masyarakat setempat. Pukul 15.00 Wib Jenazah berhasil di evakuasi dan di bawa ke RS Besemah Kota Pagar Alam guna otopsi. Setelah selesai otopsi direncanakan akan dibawa ke rumah duka di Desa Karang Dalam untuk dikebumikan.
TNI-POLRI dan pemerintah setempat menghimbau kepada masyrakat untuk tidak berkebun didekat habitat Harimau tersebut. Setelah selesai otopsi direncanakan akan dibawa ke rumah duka di Desa Karang Dalam untuk dikebumikan.
Teror Harimau Sejak Sebulan Lalu
Warga yang tinggal di sekitar Gunung Dempo diteror Harimau Sumatera yang masuk ke pemukiman dan perkebunan. Petugas masih menyisiri hutan untuk mencari jejaknya agar dikembalikan ke habitatnya. Dalam waktu sebulan, raja hutan itu telah melakukan lima kali penyerangan, di antaranya tiga terhadap manusia dan dua kasus hewan ternak. Serangan kepada manusia setidaknya telah menewaskan satu orang dan dua lainnya terluka.
Berdasarkan catatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, teror harimau Sumatera tahun ini terjadi sejak 15 November diawali dengan penemuan jejak kaki harimau di oleh warga di Dusun Margo Mulyo, Kelurahan Dempo Makmur, Pagaralam Utara, Pagaralam. Jejak kaki itu berada di sekitar kandang kambing milik Saparudin (67).
Di hari yang sama, terdengar raungan harimau di Kampung IV Gunung Dempo Pagaralam. Lalu sore harinya wisatawan dan pemetik teh melihat harimau berkeliaran di kebun teh. Warga pun sempat merekam penampakan dengan kamera ponsel.
Hingga menjelang malam, harimau kembali terpantau warga di sekitar kebun teh dan sekitar pukul sembilan malam, wisatawan yang tengah berkemah di jalur evakuasi pendakian Tugu Rimau, bernama Irfan (18) diserang. Beruntung, korban selamat dari kejadian itu.
Keesokan harinya, warga kembali melihat harimau berkeliaran di tempat yang sama. Penampakan tersebut terus terjadi selama beberapa hari hingga selanjutnya. Serangan memastikan harimau dialami petani kopi Kuswanto (58) di Desa Pulau Panas, Kelurahan Tanjung Sakti Pumi, Lahat, pada 18 November 2019. Ketika itu, korban memotong pohon besar menggunakan gergaji mesin di dalam kawasan hutan lindung.
Malam harinya, seekor kambing warga mati dimangsa. Desa Pulau Panas berada di kawasan Kantong Harimau Jambul Nanti Patah. Penampakan harimau di Koridor Harimau Bukit Dingin kembali terlihat di di Desa Rimba Candi, Kecamatan Dempo Tengah, Pagaralam, Jumat (29/11). Satu ekor ayam menjadi mangsa harimau tersebut.
Pada 1 Oktober 2019, warga melihat tiga ekor anakan harimau berkeliaran di Dusun Pematang Bango, Desa Curup Gare, Pagaralam Utara. Keesokan harinya, seorang petani diserang harimau di Desa Tebat Benawa, Kelurahan Penjalang, Kecamatan Dempo Selatan, Pagaralam, hingga mengalami luka parah.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Lahat BKSDA Sumatera Sumsel Martialis Puspito menjelaskan, habitat harimau terdapat di kawasan Kantong Harimau Bukit Dingin dan Jambul Nanti Patah yang berada di dua daerah, yakni Pagaralam dan Lahat.
Saat ini, pihaknya masih di lapangan untuk memastikan lokasi penyerangan terjadi di kawasan hutan lindung atau bukan. “Dalam waktu sebulan terakhir banyak teror harimau terjadi, baik penampakan hingga serangan yang menyebabkan korban tewas,” ungkap Puspito, Rabu (4/12).
Dugaan sementara, kata dia, kemunculan harimau karena terpisah jauh dengan tiga anaknya. Jumlah harimau yang menyerang sebanyak dua ekor dari dua habitat berbeda. “Kami imbau hindari aktivitas di sekitar koridor harimau. Kami tidak bisa pastikan kapan teror ini berakhir dan harimau itu kembali masuk ke hutan,” pungkasnya
Dijelaskannya, evakuasi korban terbilang cukup sulit. Petugas harus menuruni perbukitan selama satu jam perjalanan. Setelah dilakukan visum di rumah sakit, mayat korban dibawa ke rumah duka. “Kami minta warga waspada, hindari dulu menginap di kebun karena teror harimau masih terjadi,” pungkasnya. (red)