
Bandar Lampung (SL)-Sekitar 5.500 pengungsi korban kerusuhan Wamena di markas Komando Distrik Militer 1702 Jayawijaya membutuhkan bantuan pakaian, makanan, dan barang-barang keperluan anak dan perempuan. Komandan Distrik Militer 1702 Jayawijaya Letkol Inf Candra Dianto menyebutkan warga yang mengungsi di markas Kodim umumnya hanya membawa baju di badan saat berusaha menghindari dampak kerusuhan di Wamena.

Sementara , menurut dia, bantuan pangan pokok dari pemerintah untuk pengungsi korban kerusuhan Wamena baru difokuskan ke satu posko pengungsian yaitu posko pengungsian Gedung Okumarek yang dibuka oleh Pemerintah Kabupaten Jayawijaya. “Kami minta informasi ini disebarkan seluas-luasnya agar banyak pihak yang tergerak untuk membantu para korban yang kini tengah mengungsi,” katanya dilansir dari Antara, Sabtu (28/9), .
Hingga kini, sambungnya, Komando Distrik Militer 1702 Jayawijaya hanya mengandalkan bantuan logistik yang masih tersedia di markas. “Pengungsi tidak mau ke Okumarek. Warga maunya di Kodim, sementara dapur lapangan Pemda ada di Okumarek,” tuturnya.
Ia menambahkan, selain pakaian dan makanan, pengungsi juga membutuhkan susu untuk balita, popok bayi, dan pembalut untuk perempuan. Sebagai informasi, kerusuhan pecah di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua pada Senin (23/9) lalu. Aksi unjuk rasa yang melibatkan ribuan peserta itu berujung pada perusakan fasilitas publik hingga kantor bupati setempat.
Informasi lain, warga luar selain orang Papua telah diusir dari Papua, korban sudah berjatuhan, info dari Papua, Anton Purnama, menyebutkan dia berkomunikasi dengan warga disana. “Barusan ambo juga sudah dapat berkomunikasi langsung dgn warga kito di Wamena, berbincang dengan Wagub Pak Nasrul Abit di HP, bersama Anggota SubDenPOM TNI AD di Wamena.

Informasi yang ambo dapatkan pagi ini pukul 09.45 WIB via HP adalah sebagai berikut..
1. Korban nyawa meninggal warga Minang di Wamena pagi ini tercatat sudah 28 orang (dari total 32 yang diberitakan). Dan ratusan lagi luka-luka berat. Kena kampak, parang, tombak, dan dibakar.
2. Pengungsi warga minang di Wamena diperkirakan 200-300 orang yang sekarang tersebar berlindung di Mapolres, Kodim, Koramil, Polsek setempat.
3. Kondisi warga Minang disana sangat memprihatinkan. Karena ruko, kios, rumah mereka hampir semua hangus dibakar massa. Sekarang untuk makanpun sudah susah karena sembako langka dan terbatas
4. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah kondisi anak-anak, perempuan dan ada juga orang tua. Karena sdh ada yg mulai sakit sakitan. Belum lagi yg terluka karena penganiayaan massa yg brutal.
5. Informasi intel lapangan yang perlu juga di disikapi adalah. Didapat informasi pada tanggal 27-28 september ini, masyarakat di pegunungan wamena akan turun gunung dan akan melakukan penyerangan besar besaran terhadap orang non-Papua. Dan diperkirakan orang pegunungan ini membawa senjata api. Berupa 5 arsenal, senapan serbu AK 47, M 16, dan SS 1 hasil rampasan dari TNI-Polri.
6. Warga minang dan masyarakat non-papua pasrah. Sekarang mereka berpikir bagaimana menyelamatkan anak/anak dan wanita, dan selanjutnya mereka bersiap membela diri sampai titik darah penghabisan.
7. Wakapolda sekarang sudah berada di Wamena. Dan siang ini Pangdam juga mengunjungi Wamena.
8. Harapan warga Minang di Wamena hanya bagaimana mereka dapat keluar dan mengungsi keluar dari Papua.
Minimal ke kota terdekat yang aman seperti Makasar, Ambon, dan selanjutnya baru bisa berpikir untuk pulang kampung.
9. Kondisi warga Minang di Wamena sekarang juga kehabisan dana dan logistik makanan. Butuh langkah konkrit dari pemerintah, perantau Minang dimanapun berada.
“Bagaimana bisa membantu dunsanak kita di Wamena. Aparat personil setempat sangat terbatas jumlahnya. Semoga informasi ini dapat berguna dan menggugah hati nurani kita terhadap dunsanak kita di Wamena,” katanya. (red)