Bandar Lampung (SL)-Walikota Herman HN perintahkan proses hukum oknum kades Posyandu yang diduga melakukan pemotongan insentif kader Posyandu, Puskeskel, Sub BKB, dan Sub PPBKBD Pahoman, Kelurahan Enggal. Walikota mengaku kecewa dengan kasus itu.
Herman mengatakan bahwa insentif itu harus sampai ketangan yang berhak menerimananya. Jangan samapi uang tersebut dikelola untuk oknum-oknum yang tidak memiliki hak. “Emang uang nenek moyang dia, motong-motong. Masih ada saja yang seperti itu, padahal, pemberian insentif untuk kader Posyandu dan Puskeskel dilakukan via transfer. Penjarakan saja, ngepet uang engga jelas. Jangan sampai dikasih angin,” kata Herman HN, Senin (23/9).
Herman HN menegaskkan tidak boleh ada pemotongan dalam segala bentuk insentif yang telah diberikan oleh Pemerintah Kota Bandarlampung. “Pokoknya tidak ada pemotongan. Bahkan saya tidak pernah mengatakan berharap tidak ada pemotongan. Artinya bahwa tidak boleh ada sama sekali pemotongan-pemotongan,” ujarnya.
SEmentara Dinas Kesehatan (Diskes) Bandarlampung justru terkesan acuh terkait adanya dugaan oknum memotong insentif kader Posyandu dan Puskeskel di Kelurahan Pahoman, Kecamatan Enggal. Belakangan diketahui oknum kader bernama Yenni yang dikeluhkan sejumlah pihak dengan tudingan memotong insentif kader.
“Kami engga tahu ya. Kalau mereka sudah ada kesepakatan sebelum dibagikan enggak ada masalah, jadi kami enggak bisa apa-apa,” kata Kepala Diskes Bandarlampung Edwin Rusli, dilangsir Radar Lampung melalui sambungan telepon, Minggu (22/9).
Edwin menyatakan Yenni Bastian yang juga merupakan kader Posyandu itu tidak pernah melakukan koordinasi terkait adanya pemotongan tersebut. “(Komunikasi) dengan Dinas Kesehatan engga ada juga. Jadi boleh tanya saja ke kadernya atau ibu Yenni bagaimana terkait kesepakatannya, kalau dengan dinas tidak ada,” ujarnya.
Terkait sanksi yang akan diberikan kepada oknum bila tidak melakukan musyawarah, Edwin mengaku tak tahu. “Kalau tidak ada kesepakatan (musyawarah) itu namanya, ya engga tahu. Yang penting bukan dari Dinas Kesehatan aja gitu, karena uang itu sudah kami berikan secara langsung, jadi kami tidak sepeser atau seperak pun memotong itu,” ujarnya.
Mengenai kabar bahwa insentif kader Posyandu yang dipotong Yenni tersebut diperuntukan bagi dinas, lurah, juga bidan, Edwin membantah. “Engga ada itu,” tampiknya.
Dilangisr radarlampung.co pemotongan insentif terjadi pada 20 kader Posyandu dan Puskeskel. Besarannya sekitar Rp75 ribu hingga Rp110 ribu. Pemotongan insetif dikabarkan terjadi pada kader Sub Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Daerah (PPKBD) Kelurahan Pahoman, juga pada kader Sub Bina Keluarga Balita (BKB), Posyandu, dan Puskeskel.
Pemotongan tersebut terungkap setelah dilakukan penelusuran kepada beberapa sumber Radar Lampung lainnya dari yang mengatakan, setidaknya dalam catatan, dirinya yang kader Sub PPKBD mengalami pemotongan Rp230 ribu dari Rp600 ribu.
“Kami kaget dong waktu pembagian (22 Agustus 2019), begitu saya tanda tangannya Rp600 ribu, kok tiba-tiba saya hitung cuma Rp370 ribu, wajar dong kalau saya nanya. Saya bekerja capek, kadang dimarahi orang,” katanya kepada Radar Lampung di rumahnya, Sabtu (21/9).
Lalu, salah satu kader sub BKB Pahoman mengungkapkan, dirinya juga mengalami pemotongan sebesar Rp350 ribu. Pemotongan atas insentif Rp600 ribu per semester. “Kalau saya sub BKB waktu itu menerima gaji cuma Rp250 ribu, dipotong Rp350 ribu. Saya tanya dong. Kok saya dapatnya segini. Kata dia buat beli baju terus bayar pajak sama uang kas, loh kok engga musyawarah dulu, terus dia langsung marah kan sudah saya bilangin buat beli seragam, beli buku, emang kita bukunya dari mana kalau engga beli sendiri,” jelasnya
Lalu ada juga yang mengungkapkan pemotongan juga terjadi terhadap kader Posyandu. Kader terkait saat pembagian pada 28 Agustus 2019 meneima sebesar Rp1.240.000 padahal aslinya yang diaketahui sebesar Rp1.350.000. “Gaji itu besarannya Rp1.350.000, katanya mau dipotong Rp50 ribu tapi nyatanya saya terima Rp1.240.000. Jadi potongannya sebesar Rp110 ribu. (Pihak kelurahan) enggak ini (tidak memberikan keterangan), makanya kok gedek amat potongannya,” terangnya.
Dirinya mengatakan, pemotongan untuk kader Posyandu sudah terjadi selama ia menjadi kader, tetapi besarannya hanya Rp50 ribu untuk kali ini (Semester I-2019) dipotong sebesar Rp110 ribu. Kemudian, yang diketahui, Kader Puskeskel yang insentifnya sebesar Rp1.350.000 dipotong Rp75 ribu-Rp110 ribu. “Tapi cuma satu orang aja yang dipotong Rp110 ribu,” ungkap sumber.
Terkait hal tersebut, sumber menyebutkan seluruh dana dikoordinir oleh dua orang Kader Sub PPKBD Pahoman yakni Yenni Bastian dan Era Wati. Berdasarkan konfirmasi keduanya membantah keterangan tersebut. Menurut Yenni potongan-potongan tersebut adalah dana penyisihan untuk kebutuhan organisasi.
“Itu bukan potongan. Kita kan ada kegiatan, masak semuanya saya yang nanggung, itu buat organisasi. Sudah saya jelaskan ke mereka. Semisalnya, saya keliling minta tanda tangan, masak bolak balik ke dinas. Cuma dikasih Rp50 ribu loh buat tranport kami berdua,” katanya.
Menurutnya dana tersebut sepenuhnya untuk kepentingan organisasi seperti dana kas, transportasi, perkumpulan, seragam, buku, dan sebagainya. “Selama ini kader-kader di sini fakum enggak ada buku sama sekali. Saya malu. Saya ingin membuat mereka maju. Ini dana oleh dan untuk kita, untuk kekompakan,” tetangnya.
Meskipun demikian, Yenni dan Wati tidak membantah adanya potongan tersebut yang mereka sebut sebagai dana penyisihan yang digunakan untuk kebutuhan organisasi. Namun, mereka juga mengungkapkan bahwa tidak tercatat dalam pembukuan.
Jumlah Kader Sub PPKBD berjumlah 33 orang, Sub BKB sebanyak 13 orang, Posyandu sebanyak 15 orang, dan Puskeskel sebanyak 5 orang. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Bandarlampung Yurida, yang membawahi kader sub BKB dan sub PPKBD Pahoman.
Menurutnya, tidak ada yang dinamakan pemotongan melainkan dana tersebut untuk disisihkan dalam menjalankan aktvitas organisasi. “Seperti yang kemarin bahwa tidak ada yang namanya pemotongan. Itu dana penyisihan buat beli pakaian, kas, buku-buku, dan kegiatan mereka-mereka itulah,” katanya. (Rrd/red)