Dirinya mengatakan, pemotongan untuk kader Posyandu sudah terjadi selama ia menjadi kader, tetapi besarannya hanya Rp50 ribu untuk kali ini (Semester I-2019) dipotong sebesar Rp110 ribu. Kemudian, yang diketahui, Kader Puskeskel yang insentifnya sebesar Rp1.350.000 dipotong Rp75 ribu-Rp110 ribu. “Tapi cuma satu orang aja yang dipotong Rp110 ribu,” ungkap sumber.

Terkait hal tersebut, sumber menyebutkan seluruh dana dikoordinir oleh dua orang Kader Sub PPKBD Pahoman yakni Yenni Bastian dan Era Wati. Berdasarkan konfirmasi keduanya membantah keterangan tersebut. Menurut Yenni potongan-potongan tersebut adalah dana penyisihan untuk kebutuhan organisasi.

“Itu bukan potongan. Kita kan ada kegiatan, masak semuanya saya yang nanggung, itu buat organisasi. Sudah saya jelaskan ke mereka. Semisalnya, saya keliling minta tanda tangan, masak bolak balik ke dinas. Cuma dikasih Rp50 ribu loh buat tranport kami berdua,” katanya.

Menurutnya dana tersebut sepenuhnya untuk kepentingan organisasi seperti dana kas, transportasi, perkumpulan, seragam, buku, dan sebagainya. “Selama ini kader-kader di sini fakum enggak ada buku sama sekali. Saya malu. Saya ingin membuat mereka maju. Ini dana oleh dan untuk kita, untuk kekompakan,” tetangnya.

Meskipun demikian, Yenni dan Wati tidak membantah adanya potongan tersebut yang mereka sebut sebagai dana penyisihan yang digunakan untuk kebutuhan organisasi. Namun, mereka juga mengungkapkan bahwa tidak tercatat dalam pembukuan.

Jumlah Kader Sub PPKBD berjumlah 33 orang, Sub BKB sebanyak 13 orang, Posyandu sebanyak 15 orang, dan Puskeskel sebanyak 5 orang. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Bandarlampung Yurida, yang membawahi kader sub BKB dan sub PPKBD Pahoman.

Menurutnya, tidak ada yang dinamakan pemotongan melainkan dana tersebut untuk disisihkan dalam menjalankan aktvitas organisasi. “Seperti yang kemarin bahwa tidak ada yang namanya pemotongan. Itu dana penyisihan buat beli pakaian, kas, buku-buku, dan kegiatan mereka-mereka itulah,” katanya. (Rrd/red)