
Lampung Utara (SL)-Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM), Kabupaten Lampung Utara, mengajak seluruh elemen masyarakat kembali kepada pribadi bangsa serta tidak terkotak-kotak, pasca putusan sidang PHPU di Mahmakah Agung belum lama ini.
Hal itu dikatakan oleh Kokam Lampura, Yudi Saputra, mengomentari hasil putusan sidang perselisihan hasil Pemilu Serentak 2019, Sabtu, (29/6/2019). “Kini saatnya kita fokus ke masa depan, pasca ditetapkannya putusan Mahakamah Konstitusi (MK). Semua gugatan dari pemohon (Paslon 02) ditolak, maka bisa dipastikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Indonesia, yaitu Paslon 01, Joko Widodo dan Ma’ruf Amin,” kata dia.
Menurutny, dengan keadaan demikian tidak adalagi partisipasi masif, baik itu di dunia nyata maupun daring, seperti adanya dua kubu yang diidentikkan dengan istilah binatang melata (cebong) dan malam (kampret) untuk mengistilahkan kedua pendukung paslon pemilu presiden.
“Hakikatnya kita semua anak bangsa yang harus menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Serta cinta tanah air dan menginginkan bangsa ini bergerak maju ke arah yg lebih baik,” terangnya.
Oleh karena itu, pihaknya mengajak masyarakat untuk dapat melepaskan diri dari euforia pesta demokrasi yang telah berlalu itu. Kembali kepada substansi kehidupan bangsa, seperti mengawal mandat kepada kandidat yang ditetapkan sebagai pemenang.
“Salah satunya dengan mengawal janji pada saat kampanye, serta mengritisi kebijakan bila tidak sesuai dengan tujuan nasional yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Mengingatkan para pemimpin adalah partisipasi konstruktif pasca pemilu sebagai warga negara yang menginginkan kemajuan bangsa,” tambahnya.
Pihaknya juga mengapresiasi kepada semua pihak yang telah menyukseskan pagelaran Pemilu 2019. Sehingga dapat berjalan aman dan nyaman yang menghasilkam pemimpin banga seperti Presiden dan Wakil Presiden Periode 2019-2024.
“Selain itu perhelatan elektoral 2019 tentunya meninggalkan beberapa catatan dan harus mendapatkan perhatian agar kedepannya bisa lebih baik. Mulai dari meninggalnya petugas, ketersediaan logistik serta surat tertukar dan kesalahan mekanisme lainnya,” pungkasnya. (ardi)