
Lampung Utara (SL)-Salah satu kendala dalam menjalankan agrobisnis peternakan dalam hal pembudidayaan pembesaran ayam kampung dan perikanan, adalah besarnya biaya operasional pemenuhan kebutuhan pakan. Namun, ternyata beberapa peternak menemukan solusi alternatif guna memangkas biaya produksi tinggi.

“Dalam menjalankan agrobisnis pembesaran ayam kampung ataupun ikan lele, yang menjadi kendala bagi para peternak, yakni besarnya biaya operasional pemenuhan pakan,” ujar Saniman, peternak pembesaran ayam di Desa RH IX, Kec. Seputih Raman, Lampung Tengah, saat mendapat kunjungan Kepala Dinas Kominfo Lampura, Sanny Lumi; dan Kepala Desa Wonomarto, Waskita Yusika, Minggu, (2/6/2019).
Dikatakan Saniman, untuk memangkas biaya operasional pakan ayam di peternakannya, dirinya memanfaatkan pakan organik magot (ulat pengurai sampah pasar). “Dengan menggunakan magot, saya mampu memangkas biaya pakan hingga 75%,” kata Saniman.
Menurutnya pengetahuan yang diperolehnya mengenai budidaya magot didapatnya secara otodidak. “Pengelolaan budidaya magot yang saya jadikan pakan alternatif untuk ternak dan pembesaran ayam, saya dapatkan dengan mempelajari informasi dari internet,” tutur Saniman.
Dengan menggunakan magot, jelas Saniman, masa panen ayam dari peternakannya mampu dipercepat. “Ayam di peternakan saya ini bisa dipanen dalam periode waktu 55 hari dengan bobot antara 8-9 ons per ekor,” jelasnya.
Diuraikan lebih lanjut, magot yang diproduksinya secara mandiri itu diperolehnya dengan olahan onggok dan ampas tahu. “Selain itu, dari limbah sampah pasar berupa sampah organik (sayuran dan buah-buahan) juga dapat menjadi bahan dasarnya,” ujar Saniman.
Dirinya pun mengajak rombongan Kadis Kominfo Lampura dan Kades Wonomarto untuk meninjau secara langsung ruangan khusus proses produksi pakan alternatif magot.
Sementara Kadis Kominfo Lampura, Sanny Lumi, menyampaikan, pola pembesaran ternak ayam yang dilakukan oleh Saniman itu pada prinsipnya merupakan salah satu studi banding yang dapat diterapkan di Kabupaten Lampung Utara.
“Teknik budidaya yang diterapkan oleh Saniman prinsipnya sangat memungkinkan untuk ditularkan dengan pembudidaya maupun kelompok peternak yang ada di Lampung Utara,” tutur Sanny Lumi, sesaat usai melihat proses pembudidayaan di peternakan tersebut.
Penerapan magot, ujar Sanny, sangat efektif dan efisien serta mampu meningkatkan penghasilan yang sangat signifikan. Diakui Sanny Lumi, informasi pola budidaya ternak ayam dengan memanfaatkan pakan organik ini juga sangat memungkinkan untuk diterapkan bagi para peternak di Bumi Ragem Tunas Lampung.
Senada hal tersebut, Kades Wonomarto, Waskita Yusika, mengatakan, akan mencoba untuk menerapkan pola budidaya pembesaran ayam kampung dengan memanfaatkan pakan organik. “Setelah melihat dan menggali informasi secara mendetail terkait budidaya ternak ayam kampung dengan memanfaatkan pakan organik ini, saya akan mencoba untuk terapkan bersama warga di Desa Wonomarto,” kata Waskita Yusika.
Selain mampu memangkas biaya operasional yang sangat ekonomis, kata Waskita, pakan organik dinilai tidak memiliki dampak negatif bagi kesehatan. “Langkah awal mungkin akan dikembangkan melalui beberapa warga sebagai langkah percontohan. Tentunya dengan pemikiran mewujudkan inovasi desa dan alternatif agrobisnis yang ditularkan kepada warga,” tutur Waskita. (ardi)