
Lampung Utara (SL)-Usai hadiri undangan tahlilan, puluhan warga Desa Tanjungharta, Kecamatan Abung Barat, Lampung Utara alami gejala keracunan.

Informasi yang dihimpun, pada Rabu malam, (29/5/2019), usai menyantap nasi kotak berlauk ayam, sebanyak 98 orang disinyalir alami gejala keracunan. Bahkan, dua orang warga sempat mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Kecamatan Tanjung Raja. Sementara, korban lainnya memilih rawat jalan dengan petugas medis yang ada di desa tersebut.
Tercatat, empat orang korban yang diduga mengalami keracunan makanan ini, mendapat rujukan perawatan intensif di RSUD H.M. Mayjend. Ryacudu Kotabumi.
Warga setempat menduga, keracunan massal itu berasal dari lauk ayam yang ada di dalam nasi kotak yang dibagikan tuan rumah saat melaksanakan tahlilan ‘nujuh hari” salah satu keluarganya yang meninggal dunia.

“Banyak warga yang alami gejala keracunan usai menyantap nasi kotak dari tuan rumah. Ada yang memilih rawat jalan dengan petugas kesehatan di desa, ada juga karena panik langsung membawa ke puskesmas Tanjung Raja. Bahkan, ada juga yang sampai dirujuk ke rumah sakit umum karena kami khawatir kalau tidak ada penanganan cepat akan menelan korban,” ujar Dedi salah seorang warga setempat, kepada wartawan, Rabu, (29/5/2019).
Dijelaskan Dedi lebih lanjut, kejadian keracunan massal itu setelah warga mengonsumsi nasi ayam yang disinyalir terpapar zat beracun.
“Gejala yang dialami puluhan warga itu sama. Setelah menyantal makanan yang sama, para korban mengalami mual-mual, pusing, hingga buang air besar,” kata Dedi.
Menurut penuturan Dedi, warga yang menjadi korban jumlahnya terus bertambah. Sebab, bingkisan nasi kotak yang dibawa pulang warga dari tempat orang menggelar tahlilan itu dimakan bersama keluarga. Sehingga, menyebabkan banyak penduduk mengalami kejadian serupa.
“Jumlah korban keracunan terus bertambah. Karena mungkin warga yang ikut tahlilan ada yang menyimpan terlebih dahulu nasi tersebut dan baru dikonsumsi. Kami berharap pihak terkait dapat turun untuk memastikan asal gejala itu timbul agar tidak menimbulkan persepsi buruk di tengah masyarakat,” harapnya.
Belum diketahui secara pasti makanan yang menyebabkan gejala tersebut. Namun disinyalir berasal dari lauk ayam di konsumsi warga membawa pulang besek atau nasi dalam kotak dibungkus kantong asoy dari tempat tahlilan tersebut. Sehingga asumsi warga menduga berasal dari sana.
“Tadi sempat ada beberapa yang telah berkumpul dan berniat ngluruk ke desa tetangga tempat asal daging ayam yang diduga menjadi penyebab keracunan. Untung dapat diantisipasi aparat setempat, sehingga warga yang terpancing emosinya itupun mengurungkan niatnya,” imbuh Dedi.
Hal itu diamini oleh Kades setempat, Noven. Menurutnya, sampai saat ini, pihaknya telah mendata setidaknya ada 25 orang dirawat intensif di Puskemas Tanjung Raja dan RSUD. Ryacudu. Dan sempat terjadi pengumpulan massa guna meminta pertanggungjawaban di tempat yang diduga berasal lauk ayam di konsumsi warga yang berada tidak jauh dari kediaman tuan rumah. “Untungnya dapat diredam sehingga tidak terjadi bentrokan dan hal-hal lain yang tidak diinginkan,” terang Kades.
Dirinya juga berharap agar pihak terkait dapat membantu mencari solusi asal-muasal terjadi musibah keracunan massal ini. Sehingga, tidak ada persepsi negatif di tengah masyarakat yang berimbas adanya gejolak di masyarakat. (jar/ardi)