
Bandar Lampung (SL)-Marak pengecoran BBM jenis solar di SPBU di Bandar Lampung. Pengecor menggunakan mobil Truk Colt Diesel, dan L-300 yang telah di modip, dengan kapasitas angkutan 5-10 Ton solar. Solar kemudian ditampung disalah satu tempat, kemudian dikirim ke perusahaan Industri di Bandar Lampung, ironisnya pelaku melibatkan aparat, pengelola SPBU dan pertamina.

Pengecoran BBM itu disinyalir dengan keuntungan yang menjanjikan. Pengecoran BBM membeli dengan harga Rp5400 sampai dengan Rp5550, tergantung dengan kesepakatan pengelola, yang kemudian dijual ke Industri mulai dari harga ful dokumen Rp11 ribu, BN Rp7-8 ribu. Untuk mengelabui petugas lain, biasanya pengisian dilakukan berulang ulang dan bertahap. Berputas keluar SPBU kemudian masuk kembali.
Penyusuran sinarlampung.com, menemukan sekitar tujuh SPBU di Bandar Lampung kerap melakukan cor BBM dengan waktu bervariatif, raja rata dilakukan sekitar pukul 09.00, dan sore hari sekitar pukul 15.00 hingga malam hari. Mereka menyebut istilah mobil itu dengan istilah helikopter. Rata rata satu SPBU melakukan cor 3-15 ton setiap hari. Jika satu SPBU dapat jatah 12 Ton maka diperkirakan hanya 2 ton untuk kendaraan umum.

Beberapa SPBU yang melakukan cor BBM Solar diantaranya SPBU Jalan Zaenal Abidin Pagar Alam, Rajabasa, aktifitas jam 15.00 hingga SPBU Tutup. Sementara SPBU Jalan Soekarno Hatta, dekat Polinela, dan RS Imanuel, dilakukan pada malam hari sekitar pukul 22.00. SPBU Langkapura Jalan Imam Bonjol, pada pagi hari dan sore hari dengan mobil truk sekitar pukul 16.00.
Lalu, SPBU Pasar Kangkung yang ngecor pada jelang magrib. SPBU Way Lunik Panjang, SPBU Pahoman, sementara SPBU Palapa Kaliawi, yang kini masih disegel Tim Pomal Rabu (24/4).Β Bahkan Rabu (24/4) sinarlampung.com, memergoki tiga kendaraan mobil jenis Mitsubishi L 300 diduga dipergunakan oleh oknum tertentu, untuk melakukan pengecoran bahan bakar minyak (BBM) SPBU 24.352.43 Way Lunik.

Supri, yang mengaku pengawas SPBU itu megaku hanya memberi jatah untuk pengisian sebanyak 200 liter saja pada setiap kendaraan. βIa mas kalo tidak di kasih saya sering di samperin oleh oknum aparat. Saya juga pernah ribut mas sama aparat itu, kalu gak saya kasih,” kata Supri.
Sementara pengawas SPBU Kangkung mengatakan bahwa SPBUnya adalah milik pertamina. Pihaknya tidak pernah ngecor. “Ini punya pertamina mas, nggak pernah ngecor,” kata dia yang menolak disebut namanya.Β Belum ada konfirmasi dari pihak Pertamina, terkait hal tersebut. Sinarlampung masih terus berusaha menghubungi pihak pertamina. (Red)