
Bengkulu (SL)-Konflik nelayan trawl dan nelayan tradisional kembali terjadi di Bengkulu, Jumat (5/4/2019). Konflik kesekian kalinya ini memakan korban. Lima nelayan tradisional menderita luka tempak senjata senapan angin, saat baku tembak di kawasan perairan Palik Kecamatan Air Napal Kabupaten Bengkulu Utara. Jumat (5/4) Pagi,
Dari informasi yang diperoleh media ini, akibat konflik yang terjadi, sedikitnya 4 nelayan tradisional mengalami luka tembak senapan angin. Sedangkan sekitar 21 nelayan tradisional diamankan oleh Polisi untuk mencegah konflik yang lebih besar.
Konflik diduga bermula dari adanya kapal trawl beroperasi di kawasan laut Palik, Kecamatan Air Napal Kabupaten Bengkulu Utara pada Jumat (5/4/2019) pagi. Akibatnya, nelayan tradisional tidak terima dan terjadilah keributan.
Versi lain menyebut, saat mendapati kapal trawl di kawasan Palik Bengkulu Utara, sekelompok nelayan tradisional melempari kapal trawl dengan batu. Nelayan tradisonal juga menyita jaring trawl. Tidak lama kemudian, diduga terjadi aksi balas dendam yakni 2 kapal nelayan tradional dibakar di sekitar area Pelabuhan Pulau Baai.
Bentrokan hampir terjadi, namun Polisi dan TNI AL bersigap dengan mencegah terjadinya bentrok kedua kubu. Aksi nyaris bentrok itu menguat karena solidaritas sesama nelayan. Setelah kabar terjadinya penembakan itu, dua kubu antara nelayan trawl dan nelayan tradisional hampir bertemu untuk terlibat bentrok di perairan Pulau Baai.
Setidaknya ada 3 kapal nelayan tradisional berisi puluhan nelayan yang akan menyerang kapal trawl. Polisi yang bersiaga sempat melepaskan tembakan sebagai tanda peringatan kepada nelayan agar tidak bentrok. Informasi yang dihimpun, tiga kapal nelayan tradisional itu merupakan nelayan di Malabero Kota Bengkulu.
Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Supratman yang mengetahui kejadian itu turun ke lapangan langsung. Bersama pihak Danrem, Lanal dan Pemerintah Provinsi Bengkulu, Kapolda memfasilitasi kedua kubu yang berkonflik.
Bertempat di Rumah Makan Kampung Pesisir, kedua pihak yakni nelayan tradisional dan nelayan trawl bertemu. Pertemuan itu menurut Kapolda untuk bersilaturahmi. “Kami prihatin dengan konflik yang terjadi, kami minta kedua pihak menahan diri dan menjaga keamanan menjelang pemilu ini,” kata Supratman.
Dijelaskan Supratman, konflik antar kedua kelompok nelayan itu akan dikaji setelah pemilu. “Setelah selesai pemilu kita akan kaji dan mencari solusi,” kata Supratman.
Atas inisiatif Kapolda itu, Plt Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu Ivan Syamsudin menyepakatinya. “Kita sebentar lagi akan pemilu, sesuai arahan dan intruksi Kapolda dan gubernur, maka kita fokus ke pemilu. Untuk masalah konflik nelayan, pemda akan terus mencari solusinya,” katanya.
Terkait pertemuan itu, kedua kelompok nelayan mengaku menyepakati untuk menahan diri agar tidak terjadi keributan. (bengkulutoday)