
Lampung Utara (SL)-Penanganan medis dokter spesialis bedah di RSUD Ryacudu Kotabumi diduga malapratik, sehingga salah dalam mendiagnosa dan mengambil tindakan medis atas pasien Reski Putra Pratama, (17), warga Jalan Raden Intan, Kelurahan Kota Alam, Kecamatan Kotabumi Selatan, Kabupaten Lampung Utara (Lampura).
Pasalnya, pasien yang semula di diagnosa menderita hernia, hingga dilakukan operasi, ternyata penyakitnya adalah wasir. Sementara tindakan dan obat obatan yang dikonsumsi hingga operasi tindaknnya untuk mengatasi hernia. Namun pihak rumah sakit membantah salah prosedur.

Menurut Sauki, (41), ayah kandung Reski, putranya itu pada Kamis lalu, (3/1), mengeluh sakit dan mengalami gangguan fisik di tubuhnya. Lalu diputuskan pihak keluarga untuk dibawa ke RSUD Ryacudu Kotabumi.
“Sesampai di rumah sakit, kami dibawa ke ruang Poli Penyakit Dalam untuk mendapatkan penanganan medis dari dr. Dian Markus. Ketika itu, hasil diagnosa dr. Dian Markus, anak saya terkena penyakit Hernia,” ujar Sauki, kepada sejumlah wartawan, Rabu, (9/1), di kediamannya.
Selanjutnya, tutur Sauki, anaknya tersebut harus dilakukan perawatan secara intensif. Lalu, keesokan harinya, pada Jum’at, (4/1), Riski Putra Pratama kembali mendatangi RSUD Ryacudu Kotabumi untuk memberikan hasil pemeriksaan kepada dr Horison, yang merupakan dokter ahli bedah di rumah sakit tersebut.
“Dari pemeriksaan dr. Horison, kandungan jumlah darah anak saya HB-nya rendah. Dokter menganjurkan agar anak saya dengan segera mendapatkan tranfusi darah sebanyak lima kantong,” kata Sauki.
Kata dokter, tranfusi darah itu dilakukan guna menjalani operasi Hernia yang diderita anaknya. “Penyakit Hernia yang diderita anak saya itu merupakan hasil dari diagnosa dr. Markus,” jelas Sauki.
Di hari itu juga, Jum’at, (4/1), pasien pun dibawa ke ruangan bedah untuk mendaftar dan menunggu jadwal operasi. “Selanjutnya, dr. Horison memanggil kami untuk menjelaskan prosedur dan administrasi melakukan operasi Hernia pada anak saya,” kata Sauki.
Setelah penjelasan prosedur dan penandatanganan administrasi operasi Hernia selesai dilakukan, maka pada Selasa, (8/1), sekitar pukul 08.00 WIB, pasien di bawa ke ruangan operasi. Setelah beberapa saat menunggu, salah seorang perawat ruangan bedah memberi tahu jika tindakan operasi harus ditunda keesokan harinya, Rabu, (9/1).
Tak lama berselang, perawat kebali memberitahu keluarga pasien Riski Putra Pratama jika pasien harus segera di operasi, sekitar pukul 10.00 WIB, di hari yang sama Selasa, (8/1). “Meski kami sebagai orang tua agak sedikit bingung dengan mekanisme dan prosedur yang dilakukan, demi kesembuhan anak saya maka diputuskan melakukan operasi di hari itu juga,” jelas Sauki.
Anehnya, setelah selesai di operasi, kata Sauki, pihak rumah sakit memberitahu jika operasi yang dilakukan bukanlah penyakit Hernia seperti yang didiagnosa awal, melainkan operasi penyakit Wasir (ambeien), yang bukan diagnosa penyakit sebelumnya. “Dan operasi Wasir ini, kami ketahui setelah selesai dijalani, bukan saat penjelasan dan penandatanganan administrasi sebelumnya,” sesal Sauki.
Bahkan obat-obatan yang diterima pun adalah obat untuk penyembuhan penyakit Hernia. Dikarenakan adanya dugaan kelalaian diagnosa dan kesalahan Standar Operasional Prosedur (SOP) tindakan medis, pihak keluarga pasien Riski Putra Pratama meminta pertanggungjawaban dari pihak RSUD Ryacudu Kotabumi.

RSUD Bantah Lalai
Direktur RSUD Ryacudu Kotabumi, dr. Syah Indra Husada Lubis, membantah jika pihaknya dinyatakan telah lalai dan melakukan kesalahan SOP tindakan medis dan diagnosa penyakit yang diderita pasien Riski Putra Pratama.
“Ya, pertama harus saya jelaskan bahwa informasi tersebut tidak benar. Jadi, untuk diketahui, semua informasi dari pihak yang menangani pasien dimaksud berikut data-data serta rekam medis yang dimiliki telah dikumpulkan. Bahwa dari awal, pasien tersebut masuk ke rumah sakit pun sudah dijelaskan mengenai penyakitnya oleh dokter yang menanganinya,” jelas dr. Syah Indra Husada Lubis, kepada wartawan, Rabu, (9/1), di ruang kerjanya.
Dijelaskannya lebih lanjut, mula-mula pasien Riski Putra Pratama masuk rumah sakit dengan rawat jalan. “Ditemukan dari hasil laboratorium pasien jika jumlah darahnya berkurang. Kalau istilah medisnya HB-nya turun. Kenapa bisa begitu? Hal ini dikarenakan ada keluhan pasien, saat BAB selalu mengeluarkan darah. Dan itu tercatat dengan baik di dokumen. Saat diselidiki lebih lanjut, ternyata penyakit yang dideritanya adalah Wasir. Dan itu sudah terdokumentasi dan telah dijelaskan kepada yang bersangkutan,” beber Syah Indra.
Dikatakannya, penyakit Hernia tidak menyebabkan jumlah darah yang berkurang. “Itu berbeda. Kemudian, dokter yang menanganinya pun menyampaikan agar pasien ini perlu dirawat dan dilakukan tindakan untuk memperbaiki keadaannya. Keluarga pasien menyetujui untuk dirawat dan ditambahlah darah untuk persiapan operasi,” urainya.
Sebelum pasien ditentukan penyakit Wasir, kata Syah Indra, memang dokter yang sebelumnya menemukan adanya penyakit Hernia. Tetapi keluhan pasien masuk dirawat inap bukan karena Hernianya, tetapi karena penyakit Wasirnya.
“Nah, itulah kemudian diambil tindakan oleh dokter setelah kondisi pasiennya membaik malah sebelum tindakan operasi itu diambil, tertulis penyakit pasien adalah Wasir dengan gread tiga, artinya Wasir dengan tingkat yang sudah parah dan perlu diambil tindakan untuk menghentikan perdarahan yang terjadi di dalam tubuh pasien,” urai Syah Indra.
Lalu, dilakukan tandatangan hitam di atas putih berikut saksi-saksi sebagai prosedur administrasi awal sebelum dilakukan operasi. “Prinsipnya, hal ini tidak ada permasalahan dan itulah memang tujuan dokter spesialis melakukan tindakan. Dan saya juga sudah memanggil dokter yang bersangkutan dan telah melakukan diskusi terkait adanya permasalahan ini,” ujar dr. Syah Indra Putra Husada Lubis. (ardi)