
Lampung Utara (SL)-Kapolres Lampung Utara, AKBP Budiman Sulaksono, S.Ik, mengatakan bahwa dalam menjalankan tugasnya, setiap personel kepolisian dituntut untuk bersikap tenang, responsif, serta dalam kondisi apapun harus tetap berpikir jernih.
“Personel kepolisian itu wajib cepat tanggap, responsif, dan siap siaga untuk melayani masyarakat,” kata Budiman Sulaksono, Kamis, (27/12/2018).

Dijelaskannya, dalam hal memberikan pelayanan prima kepada seluruh warga yang ada di Bumi Ragem Tunas Lampung, Polres Lampung Utara memiliki satu program inovasi pelayanan dengan menggunakan Sistem Management Terpadu (Simamet).
“Dalam program Simamet, mencakup beberapa hal penting, yakni SP2HP Online, Smart City, Call Center 110, Pelayanan Cepat Terpadu, Rumah Aman Anak dan Perempuan, CJS Online, Panic Button, E-3 Pilar Kamtibmas. Semua kegiatan ini sebagai hasil dari inovasi di bidang pelayanan dan telah dilaksanakan seluruh jajaran Polres Lampura,” kata Perwira Melati Dua yang dikenal ramah dengan wartawan di Lampung Utara ini.
Kamis, (27/12/2018), sekitar pukul 07.30 WIB, matahari mulai menampakkan teriknya, menggeser kabut, dan embun yang masih menggigit pori-pori. Embun bergelayut tipis didaun ilalang, perlahan jatuh. Aspal di sepanjang jalan Wonogiri, Kelurahan Kelapa Tujuh, Kecamatan Kotabumi Selatan, Kabupaten Lampung Utara, masih terlihat menghitam lembab, akibat hujan deras sejak Rabu sore, (26/12/2018).
Jalan Wonogiri, masih lengang. Sesekali deru mesin truk fuso dengan raungan khas melintas. Klaksonnya berbunyi, saat melintasi Posko Pelayanan Masyarakat Arus Mudik Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 di depan Rumah Makan Taruko Jaya I Kotabumi.

Kepala Pos Pelayanan (Kaposyan) Polres Lampura, Ipda Farikhin, didampingi Wakil Kaposyan Ipda Syaiful Anwar, sudah berseragam rapi di Pos jaga bersama lima anggota lainnya. Mata mereka bersiaga memantau setiap detik arus lalu lintas di jalan Alamsyah RPN, Kecamatan Kotabumi Selatan itu, yang pagi itu mulai padat lancar, aktifitas masyarakat. Dipos itu ada juga personil dari satuan instansi lainnya, yang bersinergi dengan pihak kepolisian.
“Ini semua dilakukan demi memberikan rasa nyaman dan aman bagi para pengguna jalan pada khususnya serta masyarakat yang ada di Kabupaten Lampung Utara pada umumnya,” kata Ipda Farikhin, kepada sinarlampung.com, dan mengajak sinarlampung.com ikut memantau aktifitas di sekitar Posyan Masyarakat Taruko Jaya I Kotabumi.
Asyik berbincang dengan Farikhin, menunjukkan pukul 08.15 WIB, tiba tiba seorang pemuda datang memperkenalkan diri sebagai utusan sebuah komunitas motor di Kotabumi. Pemuda itu menghadap Kaposyan Ipda Farikhin, dan menjelaskan maksud kedatangannya. “Kami siang ini bermaksud untuk melakukan penggalangan dana bantuan sosial bagi korban Tsunami di Lampung Selatan, Pak. Untuk itu, kami mohon agar pihak kepolisian dapat membantu dalam hal mengamankan situasi sekitar,” ujarnya.

Kaposyan Ipda Farikhin menyatakan sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, harus siap dalam hal menjaga keamanan dan kelancaran, termasuk arus lalu lintas di seputar Tugu Pahlawan Alamsyah RPN, yang akan dijadikan lokasi penggalangan dana dimaksud.
“Namun sebelumnya, sebagai prosedur komunitas kalian harus mendapatkan ijin resmi terlebih dahulu dari Sat. Intelkam Polres Lampura. Kami yang ada di Posyan ini sifatnya hanya membantu kelancaran dan keamanan kegiatan kalian,” jelas Farikhin kepada pemuda itu. Setelah pemuda itu pamitan, Farikhin kemudian melanjutkan obrolan dengan sinarlampung.com.
Farikhin mengingatkan masyarakat Lampung Utara, lahir dan dibesarkan di Lampura, bahkan mungkin akan menghembuskan nafas terakhir juga di Kotabumi, Lampung Utara. “Sebagai masyarakat aslu daerah, sudah sepantasnya keamanan serta kenyamanan dalam menjalin hubungan sosial kemasyarakatan ada di pundak kita semua selaku warga Kutobumi Bettah,” kata Farikhin.

Keberadaan seluruh personel kepolisian yang ada dalam lingkup Polres Lampura, kata Farikhin, semata-mata menunaikan tugas negara untuk memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, juga pelayanan prima bagi seluruh warga masyarakat.
“Sesuai arahan pimpinan kami, bapak Kapolres, kita harus jamin kenyamanan masyarakat. Istilah saya, jangan biarkan seekor semut merah pun menggigit warga Lampung Utara,” kata Farikhin sesekali memastikan anggotanya menyelesaikan tugas yang sedang dikerjakan.
Ipda Farikhin, adalah salah satu Polisi, yang ditugaskan di Pospam, dan juga melayani masyarakat. Dipos pos lain, juga banyak Farikhin yang lain, termasuk hingga Polsek Polsek di Lampung Utara. Melayani, juga memberikan penjelasan kepada masyarakat, tentang prosedur yang harus dilalui masyarakat.
Citra Polisi
Citra polisi dari tahun ke tahun sepertinya memang pasang surut, kadang kurang begitu baik di mata masyarakat karena banyaknya kasus yang melibatkan intern di dalamnya. Akan tetapi, bukan berarti bahwa semua polisi buruk, setidaknya masih ada beberapa di antara mereka yang layak diteladani.
“Ya tidak dipungkiri banyak polisi yang nakal, tapi banyak juga yang menjadi inspirasi, Kita terus berjuang meningkatkan kinerja Polisi, yang di amanatkan UU itu adalah untuk kepentingan masyarakat. Kami belum sempurna, tapi ingin melakukan yang terbaik bagi masyarakat,” kata Budiman Sulaksono.
Meski bisa dikatakan sangat langka untuk dapat menemukan polisi-polisi baik, jujur dan dapat dijadikan teladan serta inspirasi bagi semua orang karena cap jelek yang sudah melekat selama bertahun-tahun terhadap instansi pemerintah satu ini sudah sangat kuat.

Dari berbagai catatan sinarlampung.com menemukan nama nama polisi-polisi yang layak diacungi jempol karena kerja keras, usaha, kejujuran dan kebaikannya. Agus Setyoko misalnya, dia adalah seorang polisi yang pernah menjabat sebagai Kapolres di Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Masa jabatannya di daerah tersebut terbilang singkat, yaitu hanya 6 bulan, karena dia harus pindah ke Jakarta untuk menduduki posisi lain.
Di mata masyarakat Ketapang dan Kayong Utara, sosok Agus Setyoko layak dianggap sebagai polisi yang luar biasa. Walaupun saat itu menjabat sebagai Kapolres, akan tetapi setiap hari dia berangkat dan pulang kerja mengendarai sepeda onthel miliknya. Selain itu, sepak terjangnya dalam melawan mafia-mafia di daerah tersebut juga patut diacungi jempol.
Kerap kali dia menolak sogokan yang diberikan pihak tertentu untuk memuluskan suatu tender atau proyek. Tidak hanya itu saja, Agus Setyoko juga memerangi ilegal logging, membereskan oknum-oknum nakal di instansinya sampai dengan mengawasi secara ketat penyaluran BBM.
Ada nama Aiptu Jailani. Dia Polisi baik yang ada di Kota Gresik, Jawa Timur, Dia adalah seorang anggota Satlantas Polres Gresik yang terkenal dengan ketegasan, kedisiplinan dan kejujuran dia saat mengemban tugasnya. Bahkan karena nilai plus yang dimilikinya tersebut, pernah ada kejadian, yaitu banyak anak yang lebih mengenal namanya dibandingkan dengan nama Kapolres Gresik sendiri.
Jaelani bukanlah seorang kaya ataupun lahir dari keluarga berkecukupan yang dapat mengantarkannya ke pendidikan polisi tingkat tinggi, dia hanyalah anak seorang petani yang berusaha terus meneladani dan melaksanakan apa yang diajarkan ibunya sejak kecil, yaitu kejujuran dan kerapian.
Masih di Jawa Timur, kali ini di Kota Malang, ada seorang polisi yang menjadi buah bibir banyak orang di Indonesia karena keuletan, kejujuran, kesederhanaan dan kerja kerasnya dalam bertugas dan menjalani hidup, yaitu Brigadir Kepala (Bripka) Seladi.
Dia adalah penguji SIM A di Polres Malang yang tiap hari berangkat dan pulang kerja menaiki sepeda onthel. Selain kesederhanaan tersebut, Seladi juga terkenal karena kejujurannya. Sejak bertugas di bagian SIM selama 16 tahun, dia tidak pernah sekalipun menerima uang suap dari orang-orang yang ingin cepat lulus mudah dan mendapatkan SIM.
Kisah lain dari Seladi yang tak kalah menarik adalah selepas bertugas, dia kembali bekerja sebagai pemulung. Menurutnya bekerja seperti itu lebih baik daripada harus menerima uang haram dan mencoreng nama instansi juga merugikan negara.
Jika Anda pergi ke daerah kawasan Monumen Mandala, Makassar, Sulawesi Selatan, setiap sore pastinya akan dapat menemui seorang tukang tambal ban yang jika ditilik dari umurnya, pria tersebut sudah berusia lanjut. Siapa sangka tukang tambal ban itu adalah seorang anggota satuan Sabhara Polsek Ujung Pandang bernama Aiptu Mustamin. Selama 20 tahun lebih, Mustamin melakoni pekerjaan sebagai tukang tambal ban seusai pulang bertugas.
Mustamin beranggapan bahwa dia tidak malu bekerja sebagai tukang tambal ban karena memang tidak ada yang harus dibuat malu dengan profesi tersebut. Selain itu, Mustamin juga terus memupuk sifat sabar dan jujur dalam segala hal yang mana dia praktikkan juga dalam kesehariannya ketika bertugas.
Jika selama ini ada pandangan bahwa seorang polisi tentunya bergaji besar dan memiliki tempat tinggal layak, maka coba koreksi lagi pandangan tersebut dengan melihat kehidupan Bripda M Taufiq Hidayat atau seorang anggota korps Bhayangkara di Yogyakarta yang tinggal di bangungan bekas kandang sapi dengan orang tua dan adik-adiknya.
Sontak namanya menjadi terkenal karena dia mengaku bekerja keras untuk mewujudkan cita-citanya tersebut menjadi seorang abdi negara. Taufiq menganggap bahwa kemiskinan bukan suatu penghalang peraihan cita-cita dan hal tersebut dia buktikan dengan hanya berbekal pengalaman sebagai anggota pramuka dan ijazah SMAK, Taufiq berhasil lulus di Sekolah Polisi Negara (SPN) Selopamioro tahun 2014 silam. Keteguhan, keuletan dan kesabarannya tersebut membuatnya dianugerahi penghargaan sebagai ikon Kepolisian Republik Indonesia dari World Peace Committee.
Brigadir Rochmat Tri Marwoto adalah seorang anggota Brimob Detasemen C Satbrimob Polda Jawa Timur yang namanya melambung karena memiliki hati yang mulia, yaitu menyekolahkan 54 anak kurang mampu, walaupun jabatan dan gaji yang diterimanya tidak terlalu tinggi.
Dalam sebuah wawancara di stasiun TV swasta Tanah Air, Rochmat mengatakan bahwa dia melakukan hal tersebut sejak tahun 2007 silam. Rata-rata anak yang dia sekolahkan berstatus yatim piatu, anak jalanan dan anak yang terlantar. Kegigihan dalam menjalan tugas serta mengarungi kehidupan pantas diacungi jempol. Dengan gaji yang tidak seberapa, Rochmat rela membagi rezekinya untuk menyekolahkan anak kurang mampu. Bahkan dia pernah menjadi tukang ojek untuk mencari tambahan penghasilan ketika ditugaskan di Jakarta.
Bagi warga Kota Malang asli, pastinya akan mengenal nama Miran, seorang mantan anggota polisi di Polresta Malang. Dia juga pernah menjabat sebagai waka primko (Wakil Kepala Primer Koperasi) dan Kasat Sabhara (Satuan Bhayangkara) Polresta Malang. Dalam pencapaian dan meraih jabatan tersebut, Mayor Miran mengatakan bahwa dia tidak menggunakan apapun, apalagi uang pelicin. Miran meniti karirnya dari bawah dan dilakukan dengan kerja keras. Kejujuran dan ketegasannya tersebut berbuah manis dengan didapatkannya penghargaan dari mantan Presiden Soeharto pada tahun 1997 silam.
Mungkin bagi seseorang yang sudah menjabat sebagai kepala unit, tentunya akan malu jika harus bekerja sebagai tukang sol sepatu di pasar. Akan tetapi, hal ini tidak dirasakan oleh aiptu Ruslan, seorang Kanit Binmas Polsek Pidie di Aceh.
Dia melakukan pekerjaan tersebut dengan iklas dan tanpa malu sedikitpun. Bahkan profesinya sebagai tukang sol sepatu selepas bertugas tersebut dilakoninya sejak bertahun-tahun. Dalam prinsipnya, Ruslan mengatakan bahwa mencari rezeki itu dapat dari mana saja, yang penting halal.
Kaharoeddin Dt Rangkayo Basa adalah seorang perwira polisi pertama di Indonesia yang diangkat untuk menduduki jabatan sebagai gubernur berdasarkan keputusan mantan Presiden Soekarno. Walaupun memiliki jabatan yang sangat tinggi, akan tetapi Pak Kahar atau nama panggilan dari Kaharoeddin Dt Rangkayo Basa tetap memegang teguh kejujuran, kedispilinan dan ketegasan dalam setiap langkah yang diaambil dan dilaluinya, termasuk ketika bertugas.
Bahkan dia selalu menolak menerima uang di luar gaji yang wajib diterimanya. Tak ayal, hingga akhir hayatnya, Pak Kahar tidak memiliki rumah sendiri dan melarang keluarganya untuk menggunakan fasilitas negara, sampai-sampai menolak tawaran Kapolri pada waktu itu yang ingin memberangkatkannya ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji.
Yang paling menjadi panutan serta legenda di Korps Kepolisian adalah Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso. Dia dianggap sebagai salah satu dari pejuang kepolisian yang ingin menegakkan hukum dan kebenaran di Indonesia walaupun banyak halangan menghadang.
Ketegasan dan kejujurannya serta dianggap sebagai icon polisi anti-suap sangat melekat pada diri pria yang juga turut berperang melawan penjajah Belanda ini. Dia pernah menjabat sebagai Kapolri namun hanya sebentar saja karena ‘diturunkan’ secara halus oleh mantan Presiden Soeharto pada tanggal 2 Oktober 1971 karena terlalu jujur dan tidak dapat menerima suap.
Bahkan banyak hal yang membuat banyak pihak termasuk pejabat negara geram terhadap Hoegeng karena dia selalu ingin membongkar kasus yang dirasanya aneh dan tidak berkesudahan, seperti kasus SUm Kuning sampai dengan penyelundupan mobil mewah oleh Robby Tjahjadi.
Dia dicopot dari jabatannya dan ditawari untuk kembali bertugas sebagai diplomat di negara lain. Akan tetapi Hoegeng menolak karena dia merasa hal tersebut merupakan langkah halus untuk menyingkirkannya. Semoga kelak di Lampura bisa melahirkan polisi inspiratif. (Ardiansyah)