
Lampung Selatan (SL) – Kuasa Allah SWT tak pernah ada yang tahu. Di tengah bencana tsunami Lampung yang menewaskan ratusan orang, seorang balita yang baru berusia satu bulan justru selamat.
Bayi kecil ini bernama Novalia Azkia Putri. Dia bersama ibunya berhasil selamat setelah tertimbun puing bangunan rumahnya, selama delapan jam lamanya. Novalia merupakan putri bungsu dari pasangan suami-istri Samali Khasan dan Sunenti. Kedua merupakan warga RT 2 dusun I, desa Waymuli Timur, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. Desa ini merupakan titik terparah terdampak tsunami.
Samali Khasan ayah Novalia menceritakan, saat tsunami terjadi, istrinya beserta kedua anaknya sudah melarikan diri duluan. Namun karena ombak sudah keburu datang, istri dan kedua anaknya terpental kembali ke dalam rumah. “Saat gelombang stunami datang, istri dan anak sudah melarikan diri duluan, posisi Novalia sedang dalam dekapan ibunya. Saya masih tinggal di dalam. Namun sayang ketika ombak datang, istri dan kedua anak saya terpental kedalam rumah, dan saya berhasil lolos,” kata dia.
Derasnya ombak yang menghantam rumah Samali, membuat rumahnya runtuh dan menimpa istri dan kedua anaknya. Samali yang panik terus melarikan diri ke dataran tinggi. “Setelah ombak mulai surut, saya kembali kerumah, saya shok melihat rumah saya sudah hancur. Saya coba mencari istri dan kedua anak direruntuhan. Tapi yang ketemu hanya anak yang laki-laki saja, Alhamdulillah selamat juga,” kenang dia.
Keyakinan akan istrinya dan putrinya masih hidup, membuat Samali dibantu keluarga terus mencari mencari keduanya. Pencarian ini membutuhkan hasil, setelah pukul enam pagi terdengar tangisan Novalia dibalik reruntuhan rumah. “Sekitar pukul 6 saya dengar suara bayi nangis dari reruntuhan rumah. Kemudian saya panggil keluarga dibantu tetangga untuk membantu mengeluarkan istri dan anaknya dari reruntuhan,” kata dia.
Sementara itu, Sunenti menceritakan selama delapan jam tertimbun reruntuhan rumah, dirinya hanya mampu berdoa dan sholawat, sambil menunggu adanya pertolongan. Sambil terus memeluk putrinya yang baru berusia satu bulan. “Difikiran saya hanya keselamatan bayi saja. Dan ada yang menolong. Sebab selama delapan jam dia teriak minta tolong tidak ada yang dengar,” kata dia.
Jumani keponakan korban yang ikut mengevakuasi Sunenti dan bayinya menceritakan, saat diketemukan posisi Sunenti sedang memeluk bayi. Kondisinya pun cukup memprihatinkan, sudah bermandikan lumpur. “Alhamdulillah, ketika ditemukan keduanya masih hidup. Semua ini kuasa Allah, setalah delapan jam tertimbun puing bangunan dan lumpur masih bisa hidup,” kata dia.
Keterbatasan alat, membuat evakuasi berlangsung lama dan dramatis. Novalia berhasil di evakuasi satu jam setelah ditemukan. “Novalia berhasil diangkat sekitar pukul 07.00 WIB, sedangkan ibunya berhasil diangkat sekitar pukul 08.00 WIB. Keduanya langsung dilarikan ke rumah sakit Bob Bazar Kalianda untuk mendapatkan perawatan,” kata dia.
Saat ini kondisi keduanya telah membaik dan telah kembali ke pengungsian di Gunung Rajabasa. Mereka menginap sebuah gubuk milik warga. Kondisinya sangat jauh sekali dari layak untuk seorang bayi berusia 1 bulan. “Bukannya nolak untuk ke pengungsian yang lebih layak, namun kondisi Bude saya ini masih belum bisa jalan,” kata dia. (suarapedia)