
Bandarlampung, sinarlampung.co – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung menekankan pentingnya penerapan pendekatan humanis serta penguatan nilai-nilai kerukunan di lingkungan sekolah. Langkah ini menjadi bagian dari strategi komprehensif dalam membendung penyebaran paham radikalisme di kalangan pelajar dan remaja.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amrico, menegaskan bahwa satuan pendidikan memegang peranan krusial dalam menciptakan ekosistem belajar yang aman, inklusif, dan ramah bagi seluruh siswa.
Menurut Thomas, hubungan pertemanan yang sehat serta sikap saling menghargai harus terus ditanamkan agar tidak ada peserta didik yang merasa terisolasi atau dikucilkan saat menghadapi persoalan pribadi.
“Kalau ada siswa yang memiliki masalah secara pribadi, perlu dilakukan pendekatan secara humanis. Anak-anak harus tetap mendapatkan kesempatan untuk belajar dengan baik dan menjalin hubungan yang baik dengan teman-temannya,” ujar Thomas Amrico di sela agenda pemutaran Film Ageman di lingkungan Pemprov Lampung, Rabu (28/10/2026).
Sinergi dengan Program Deradikalisasi Pemprov Lampung
Upaya penguatan karakter di lingkungan sekolah ini sejalan dengan komitmen Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, yang terus memperketat pencegahan paham radikal di kalangan generasi muda melalui edukasi, literasi digital, dan penguatan wawasan kebangsaan, khususnya bagi siswa tingkat SMP dan SMA.
Pemprov Lampung juga menggulirkan program Digital Peace Creator yang melibatkan kalangan pelajar untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam mengelorakan pesan-pesan perdamaian, toleransi, dan persatuan.
Thomas menambahkan, pembentukan karakter peserta didik harus berjalan beriringan dengan capaian akademik. Jajaran guru dan pengelola sekolah dituntut untuk membangun komunikasi yang empatik serta mampu menyelesaikan potensi konflik antarsiswa secara bijaksana tanpa kekerasan.
Melalui pendekatan yang inklusif ini, sekolah diharapkan bertransformasi menjadi ruang aman yang menumbuhkan toleransi dan rasa saling menghormati—sesuai dengan semangat falsafah masyarakat Lampung yang heterogen. Sinergi antara pemerintah daerah, tenaga pendidik, orang tua, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam memproteksi generasi muda dari paparan paham radikalisme sejak dini. (Red)