
Oleh: Nurzaim, S.Pd.
(Penyair, Cerpenis, dan Kabiro Sinarlampung Wilayah OKU Selatan)
Tabik!
Apresiasi ini saya haturkan untuk sebuah kumpulan karya sastra puisi Nusantara bertajuk Nusantara Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat, yang diterbitkan oleh Lampung Literature (cetakan pertama, November 2025). Buku setebal 63 halaman ini merangkum 9 judul puisi yang sarat akan perenungan mendalam.
Ulasan singkat ini saya bagi ke dalam dua bagian: pertama, penelusuran bait dan larik puisi—baik ditinjau dari kacamata semiotika, struktur, maupun citraan bahasanya; dan kedua, sekilas pemaknaan personal yang tumbuh dari hasil pembacaan sederhana tentang relasi cinta dan kasih.
Membaca Nusantara Amnesia di Era Serba Akseleratif
Nusantara Amnesia lahir di tengah pusaran zaman milenial dan era digital yang serba cepat. Sebuah masa ketika bahasa berkembang begitu elastis, indah, sekaligus gaul; masa ketika realitas hidup terasa padat oleh peradaban bernuansa global—mulai dari pergeseran lifestyle, fenomena identitas media sosial, hingga konstruksi selera yang serba megah. Segala hal hadir membanjiri ruang hidup kita bagaikan arus deras sungai peradaban.
Namun, di tengah keriuhan itu, penyair seperti mengingatkan bahwa cinta kasih, kesejatian nilai, serta dimensi keilahian dalam diri setiap individu tidak boleh larut dalam kekacauan (chaos), apalagi terlena dan tersesat dalam kegelisahan yang membingungkan.
Ari Pahala Hutabarat—yang dalam karya ini mengumpamakan dirinya sebagai “planet kecil yang tekun menunggu kata-kata”—tampak berjuang keras merenungi dan memetakan zaman. Ia menyampaikan persuasi puitisnya melalui citraan-citraan yang begitu dahsyat dan memikat.
Dialektika Diksi dan Esensi Kehidupan
Penyair secara cermat memainkan kontras diksi umum dan khusus:
Antara Nusantara dan Amnesia: Perpaduan antara ruang semesta/bumi dengan gejolak perasaan, asmara, dan ekspresi jiwa.
Metafora Gender & Peran: Penyair melabeli figur lelaki dengan kata-kata karakteristik pengembara seperti petualang, musafir, hingga biadab. Sementara figur perempuan dihadirkan dengan kehangatan simbolis sebagai ibu, perahu, dan ketulusan.
Pada akhirnya, melalui Nusantara Amnesia, saya memetik pemahaman bahwa dua hal yang bertentangan tidak selamanya harus dipertentangkan secara destruktif. Kesetiaan dan pengkhianatan, misalnya, dapat menjadi daya pemicu—sebuah daya pompa untuk lompatan spiritual yang lebih indah apabila mampu dicerna secara arif.
Waktu yang terus merangkai bilah-bilah takdir—bagaikan tumbuh dan tumbangnya pepohonan—sepantasnya menuntun kita untuk senantiasa bertafakur, terkagum, sekaligus meresapi nikmat Tuhan dan keagungan kehidupan.***
Catatan Redaksi:
Catatan apresiasi ini ditulis sebagai bentuk penghormatan atas karya Ari Pahala Hutabarat melalui buku kumpulan puisi Nusantara Amnesia—sebuah karya yang turut memperkaya khazanah sastra Indonesia dan berhasil meraih Anugerah Kusala Sastra Nusantara. Tabik!