
BOGOR, sinarlampung.co – Keberadaan fasilitas penginapan mewah berstandar apartemen di kawasan Lapas Kelas IIA Cibinong (Lapas Pondok Rajeg), Kabupaten Bogor, memicu sorotan publik. Temuan tersebut terungkap saat tim Ombudsman Republik Indonesia menggelar inspeksi mendadak (sidak) di lembaga pemasyarakatan tersebut.
Dalam sidak tersebut, Ombudsman RI menemukan adanya bangunan berupa rumah singgah eksklusif dengan pengawalan ketat yang diduga diperuntukkan bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP) tertentu, lengkap dengan keberadaan sejumlah mobil mewah seperti Toyota Alphard di area terbatas tersebut.
Merespons temuan tersebut, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Jawa Barat, Yudi Suseno, memberikan klarifikasi. Yudi menegaskan bahwa lokasi yang didatangi tim Ombudsman tersebut merupakan kawasan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE).
Menurut Yudi, bangunan yang disorot sejatinya adalah rumah dinas jabatan bagi jajaran pejabat Lapas Pondok Rajeg.
“Lokasi yang dimaksud adalah lokasi asimilasi, yaitu dulu yang namanya SAE. Di sana terdapat beberapa rumah dinas jabatan. Jadi yang didatangi oleh tim Ombudsman adalah rumah dinas jabatan dengan SK rumah jabatan,” ujar Yudi Suseno, Jumat (25/9/2026).
Kendati demikian, menyikapi adanya dugaan penyalahgunaan fasilitas tersebut oleh narapidana, Yudi memastikan pihaknya tengah menerjunkan tim untuk melakukan pendalaman dan pemeriksaan secara menyeluruh.
“Manakala ada hal-hal yang mungkin tidak pada tempatnya, tetap menjadi komitmen pimpinan untuk melakukan pemeriksaan. Akan kita tindak lanjuti dan kita tindak sesuai dengan porsinya secara proporsional,” tegasnya.
Ombudsman RI Mengaku Dihalangi dan Temukan Perlakuan Diskriminatif
Sebelumnya, tim pengawas pelayanan publik Ombudsman RI menggelar sidak ke Lapas Kelas IIA Cibinong di Kelurahan Pondok Rajeg, Kecamatan Cibinong, pada Rabu (23/9/2026).
Anggota Ombudsman RI, Fikri Yasin, membeberkan bahwa kedatangan timnya sempat mendapat penolakan dan perlakuan tidak kooperatif dari oknum petugas lapas hingga memicu ketegangan di lapangan.
“Beberapa waktu yang lalu kita sidak ke sini ditolak, nah sekarang kita datang lagi, kemudian ditolak lagi. Kami semakin bertanya, ada apa kok kita dihalang-halangi,” kata Fikri Yasin.
Fikri menjelaskan, saat tim berhasil menembus area bagian belakang, ditemukan deretan bangunan rumah singgah berfasilitas mewah yang dihuni oleh narapidana.
“Setelah kami turun ke wilayah belakang, ada penginapan-penginapan atau rumah singgah. Ada beberapa yang diduga ada narapidana di dalamnya, dan sudah kami wawancarai. Tentu ini mengindikasikan adanya pembeda atau perlakuan khusus, mulai dari kamar khusus, pengawalan ketat, hingga keberadaan mobil mewah seperti Alphard di lokasi,” pangkas Fikri. (Red)