
Banyumas, sinarlampung.co – Kekayaan budaya dan kearifan lokal Nusantara dinilai memiliki andil besar dalam memperkuat fondasi kebangsaan. Falsafah khas masyarakat Banyumas, Jawa Tengah, yang berpijak pada tiga pilar utama—Gunung Slamet, Sungai Serayu, dan Blakasuta—dinilai sangat relevan untuk diinternalisasikan dalam penguatan Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.
Hal tersebut diungkapkan oleh Anggota MPR RI, Siti Mukaromah, dalam Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, di Banyumas, Rabu (16/9/2026) Menurutnya, kearifan lokal semacam ini merupakan energi kultural yang dapat menyokong integritas nasional.
“Falsafah Banyumas yang dirumuskan melalui keteguhan Gunung Slamet, keluwesan dan kemanfaatan Sungai Serayu, serta kejujuran beretika lewat Blakasuta adalah manifestasi nyata dari nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945,” ujar Erma, panggilan akrab Siti Mukaromah.
Dirinya menjelaskan, keteguhan Gunung Slamet (Gununge mulang kukuh) mengajarkan karakter warga negara dan pemimpin yang berintegritas tanpa kehilangan kerendahan hati—sejalan dengan sila-sila dalam Pancasila.
Sementara itu, aliran Sungai Serayu (Serayune mulang mili) merefleksikan semangat menjaga persatuan nasional, beradaptasi dengan perubahan zaman, serta menghadirkan pembangunan yang menyejahterakan rakyat sebagaimana diamanatkan konstitusi UUD 1945.
Adapun tradisi Blakasuta (Blakasutane mulang jujur), yang berarti berani bersikap jujur dan menyampaikan kebenaran dengan tata krama (Blakasuta tanpa gawe lara), dinilai sangat penting di era demokrasi modern saat ini. Budaya kritik yang jujur namun santun ini memperkuat kualitas demokrasi yang beradab.
“Pancasila dan UUD 1945 membutuhkan penguatan dari akar rumput melalui kebudayaan lokal. Karakter manusia yang teguh tanpa angkuh dan ngeli tanpa keli—mampu mengarungi arus modernisasi tanpa kehilangan jati diri—adalah teladan ideal bagi pembangunan karakter bangsa Indonesia ke depan,” pungkasnya.
Dirinya mengajak, masyarakat untuk menggali, melestarikan, dan mengamalkan nilai-nilai luhur kearifan lokal dari berbagai penjuru tanah air sebagai bagian dari komitmen nyata merawat Empat Pilar Kebangsaan demi Indonesia yang lebih kuat, berdaulat, dan berkarakter. (*)