
Oleh: Tari Pratama
Ribuan ikan kembali ditemukan mati dan mengapung di permukaan Danau Ranau pada September 2026. Ikan yang mati bukan hanya berasal dari keramba jaring apung, tetapi juga ikan liar yang hidup di perairan danau.
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Danau Ranau, fenomena tersebut bukan sesuatu yang baru. Mereka mengenalnya dengan istilah “Bentilehan”, sebutan lokal untuk peristiwa kematian ikan secara massal yang biasanya berlangsung dalam waktu relatif singkat.
Bentilehan umumnya berlangsung selama dua hingga tiga hari. Namun, pada kondisi tertentu, fenomena tersebut dapat bertahan hingga sekitar satu pekan.
Bagi pembudidaya ikan, Bentilehan menjadi persoalan serius karena kematian ikan dapat menimbulkan kerugian ekonomi. Sebaliknya, bagi sebagian warga, kemunculan ikan mati dalam jumlah besar justru menjadi kesempatan untuk mendapatkan ikan tanpa membeli.
Warga biasanya berdatangan ke tepian danau untuk memungut ikan yang mengambang.
Kondisi ini secara tidak langsung juga dapat memengaruhi perdagangan ikan karena masyarakat memiliki sumber ikan alternatif yang diperoleh langsung dari danau.
Namun, Bentilehan tidak hanya menyimpan persoalan ekonomi.
Di balik ribuan ikan yang mengambang di permukaan air, terdapat cerita lama yang hidup dalam ingatan penulis sejak kecil.
Cerita tentang Bentilehan dan penghuni Danau Ranau bukan cerita yang baru saya kenal. Sebagai orang yang tumbuh tidak jauh dari Danau Ranau, saya sudah mendengar kisah tersebut sejak masih kecil.
Di Desa Padang Ratu, yang lebih dikenal masyarakat setempat sebagai Pekon Tuha, Kecamatan Buay Pematang Ribu Ranau Tengah, OKU Selatan, cerita semacam itu dahulu kerap disampaikan oleh orang-orang tua kepada anak-anak.
Ketika Bentilehan terjadi, bujang dan gadis perawan yang belum menikah mendapat sejumlah pantangan. Salah satunya adalah larangan turun atau bermain di kawasan danau secara sembarangan.
Pakaian berwarna merah juga menjadi salah satu hal yang dahulu dianggap pantangan.
Anak-anak hingga remaja bahkan mengenal tradisi mewarnai kuku menggunakan tumbuhan yang disebut batang pacar atau pohon pacar.
Tumbuhan tersebut ditumbuk, kemudian diberi air dan sedikit arang. Hasilnya ditempelkan pada kuku dan dalam beberapa menit warna merah mulai terlihat.
Bagi saya ketika masih kecil, tradisi tersebut bukan sesuatu yang dipertanyakan. Ia merupakan bagian dari cerita orang tua yang diterima begitu saja oleh anak-anak pada masa itu.
Salah satu kalimat yang paling saya ingat adalah, “Hiblis Way Khanau lagi Nayuh, nyepok menantu.”
Kalimat tersebut menjadi semacam peringatan agar bujang dan gadis tidak turun ke danau ketika Bentilehan berlangsung.
Mitos Pesta Hibelis
Dalam cerita yang saya dengar sejak kecil, Hibelis dipercaya sebagai makhluk astral yang menghuni kawasan Danau Ranau.
Ketika Bentilehan terjadi, Hibelis Way Khanau dipercaya sedang menggelar pesta atau istilah lokal “Nayuh” alias hajatan sekaligus mencari “menantu”.
Karena itu, bujang dan gadis yang masih lajang dianggap perlu menjaga diri. Konon, Warna merah pada kuku dipercaya menjadi semacam penanda bahwa seseorang telah memiliki status seperti orang yang baru menikah.
Dengan tanda tersebut, mereka dipercaya tidak akan dipilih atau dibawa oleh penghuni gaib danau karena sudah ada “Pemilik”.
Ada pula cerita bahwa seseorang yang dipercaya akan “dibawa” ke alam lain (gaib) akan mengalami sakit sebelum akhirnya meninggal dunia. Ada yang dipercaya diambil melalui insiden tenggelam.
Namun, seluruh cerita tersebut berada dalam ranah mitos dan folklor lokal. Tidak terdapat bukti ilmiah yang membuktikan keberadaan Hiblis Way Khanau ataupun kaitannya dengan kematian manusia.
Bagi penulis, cerita tersebut lebih tepat dipandang sebagai bagian dari warisan tutur yang menggambarkan bagaimana masyarakat masa lalu memaknai fenomena alam yang terjadi berulang di lingkungan mereka.
Mitos tersebut kemudian memiliki kaitan tersendiri dengan Bentilehan.
Dalam cerita yang berkembang dan saya dengar sejak kecil, setelah “Hibelis Way Khanau” selesai menggelar pesta dan mendapatkan “menantu”, penghuni danau dipercaya memberikan hadiah kepada masyarakat.
Hadiah tersebut berupa ikan yang mati secara massal.
Itulah yang kemudian dikaitkan dengan Bentilehan.
Masyarakat meyakini fenomena tersebut tidak muncul setiap tahun. Ada yang menyebutnya terjadi sekitar dua hingga tiga tahun sekali, sementara sebagian lainnya menyebut jedanya bisa lebih lama.
Namun, tidak ada kepastian mengenai kapan Bentilehan akan kembali terjadi.
Begitu ikan mulai mengapung dalam jumlah besar, warga biasanya segera mengetahui bahwa fenomena tersebut tengah berlangsung.
Karung-karung dibawa ke tepian danau. Ikan dikumpulkan sebanyak mungkin, sementara pembudidaya harus menghadapi kemungkinan kerugian akibat kematian ikan di keramba.
Namun, ikan yang dipanen dari hasil Bentilehan dipercaya memiliki rasa hambar.
Penjelasan Ilmiah Fenomena Bentilehan
Di luar cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Bentilehan juga telah menjadi objek perhatian pemerintah dan kalangan akademisi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), bersama peneliti LIPI/BRIN dan akademisi telah mengkaji fenomena kematian ikan di Danau Ranau.
Studi awal menggunakan metode geokimia dan seismik menemukan adanya hubungan antara kemunculan gas sulfur atau belerang ke permukaan dengan aktivitas kegempaan mikro.
Dinamika bawah tanah pada zona sesar diduga membuka jalur keluarnya gas magmatik dari kawasan Gunung Seminung ke dalam air danau.
Saat Bentilehan berlangsung, salah satu gas yang menjadi perhatian adalah hidrogen sulfida (HβS). Dalam konsentrasi tinggi, gas tersebut bersifat toksik dan dapat membahayakan organisme perairan.
Pemeriksaan teknis juga menunjukkan perubahan kondisi kimia air selama fenomena berlangsung. Setelah kondisi danau kembali normal, kandungan HβS, COβ, dan CHβ di udara permukaan berangsur tidak terdeteksi, sedangkan pH air kembali berada pada kisaran sekitar 7,7 hingga 8,0.
Penelitian mengenai kualitas air Danau Ranau juga menemukan adanya pencemaran ringan hingga sedang di sejumlah wilayah. Penurunan oksigen terlarut (dissolved oxygen) secara drastis pada kondisi tertentu menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko kematian biota perairan.
Artinya, kematian ikan secara massal dapat berkaitan dengan perubahan kualitas air, kandungan gas vulkanik, dinamika geologi, hingga penurunan kadar oksigen di dalam danau.
Bentilehan dan Dua Cara Memandang Alam
Bentilehan akhirnya memiliki dua sisi yang hidup berdampingan.
Bagi masyarakat, terutama generasi yang tumbuh dengan cerita para leluhur, fenomena tersebut memiliki kisah tentang Hiblis Way Khanau yang sedang berpesta.
Bagi pembudidaya ikan, Bentilehan merupakan ancaman nyata terhadap mata pencaharian.
Sementara dari perspektif ilmiah, kematian ikan secara massal menjadi fenomena lingkungan yang perlu terus dipantau melalui pemeriksaan kualitas air, aktivitas kegempaan dan dinamika vulkanik kawasan Danau Ranau.
Bagi penulis yang sejak kecil mendengar cerita tersebut, Bentilehan bukan sekadar pemandangan ribuan ikan yang mengapung di permukaan danau.
Ia adalah bagian dari ingatan tentang bagaimana masyarakat di sekitar Danau Ranau membaca alam.
Dahulu, fenomena itu dijelaskan melalui cerita tentang “Hibelis Way Khanau lagi pesta, nyepok menantu.”
Kini, ilmu pengetahuan mencoba membacanya melalui gas vulkanik, aktivitas seismik, kualitas air dan kadar oksigen.
Mitos tetap menjadi bagian dari sejarah tutur masyarakat. Sementara penyebab ilmiahnya terus dicari dan dipelajari.
Di antara keduanya, Bentilehan tetap menjadi salah satu fenomena paling khas yang melekat pada kehidupan masyarakat di sekitar Danau Ranau.