
Bandarlampung, sinarlampung.co – Pengelolaan anggaran Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Lampung Tahun Anggaran 2025 disorot. Penelusuran dokumentasi pengadaan mencatat sedikitnya 100 paket belanja dengan total pagu mencapai Rp16,15 miliar.
Dari total alokasi tersebut, sebanyak dua paket belanja hibah menyedot porsi terbesar hingga Rp14,03 miliar—atau setara 87 persen dari keseluruhan pagu. Besarnya nilai hibah ini memicu desakan agar Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung melakukan audit komprehensif terkait transparansi, ketepatan sasaran, serta keabsahan dokumen pertanggungjawaban di lapangan.
Daftar Alokasi Anggaran Utama Disperindag Lampung TA 2025
| Kategori Pengadaan | Detail / Nomenklatur Paket | Pagu Anggaran | Metode Pengadaan |
| Belanja Hibah | Hibah Barang kepada Badan/Lembaga Nirlaba, Sukarela & Sosial | Rp10,23 Miliar | E-Purchasing |
| Belanja Hibah | Hibah Barang (APBD Perubahan) | Rp3,80 Miliar | E-Purchasing |
| Operasional | Sewa Bangunan Gedung Tempat Pertemuan | Rp204,00 Juta | E-Purchasing |
| Operasional | Jasa Kebersihan (Cleaning Service) | Rp194,40 Juta | E-Purchasing |
| Operasional | Sewa Kendaraan Operasional Eselon II | Rp161,16 Juta | E-Purchasing |
| Operasional | Sewa Alat Kantor Lainnya | Rp115,35 Juta | E-Purchasing |
| Operasional | Belanja Bahan-Bahan Kimia | Rp73,37 Juta | E-Purchasing |
| Fasilitas | Pemeliharaan Alat Besar & Sewa Gedung | Rp18,50 Juta – Rp75 Juta | Pengadaan / Penunjukan Langsung |
Sorotan Pertanggungjawaban dan Dugaan Pelanggaran
Selain porsi hibah bernilai fantastis, sejumlah alokasi belanja operasional rutin turut mendapat perhatian, di antaranya paket konsumsi kegiatan (bernilai Rp59,5 juta, Rp23,9 juta, dan Rp20,48 juta) serta pengadaan alat tulis kantor dan cetak (bernilai Rp35,97 juta, Rp16,47 juta, dan Rp14,15 juta).
Meski sebagian besar pengadaan memanfaatkan skema e-purchasing dan pengadaan langsung, proses penetapan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) serta kesesuaian spesifikasi teknis dinilai perlu diuji ulang secara terbuka. Penelusuran awal mengindikasikan perlunya klarifikasi atas dugaan mark-up harga, potensi kekurangan volume pekerjaan, hingga kelengkapan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ).
Kejati Lampung didorong untuk segera memanggil Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Disperindag Lampung serta pihak penerima hibah guna memverifikasi Berita Acara Serah Terima (BAST) dan fisik barang.
Hingga berita ini diterbitkan, media masih berupaya meminta konfirmasi resmi dari Kepala Disperindag Provinsi Lampung mengenai mekanisme pengelolaan paket-paket anggaran tersebut. (Red)