
Tulangbawang Barat, sinarlampung.co – Di balik rimbunnya rumput liar dan belukar yang merambat di Tiyuh Jaya Murni, Kecamatan Gunung Agung, berdiri sebuah bangunan beton bercat hijau. Sekilas, bangunan pagar besi itu tampak seperti aset tua yang telah puluhan tahun ditinggalkan pemiliknya. Namun siapa sangka, bangunan menyendiri tersebut adalah proyek fasilitas publik bernilai setengah miliar rupiah, Jum’at 7 Agustus 2026 siang.
SPAM Rp500 Juta Mangkrak dan Dipenuhi Semak, Warga Tubaba Minta Kejati Usut 10 Titik Lain
Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang dibangun Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) pada 2022 itu seharusnya menjadi oase bagi warga. Namun sejak selesai dikerjakan, jangankan mengalirkan air bersih, gemericik airnya pun tak pernah terdengar.
”Awalnya kami senang sekali waktu tahu mau dibangun fasilitas air bersih. Bayangan kami, kalau musim kemarau datang, tidak perlu bingung lagi cari air,” tutur SN, seorang warga lokal, Jumat (7/8/2026) tak jauh dari lokasi proyek.
Senyum dan harapan warga empat tahun lalu kini berganti kekecewaan mendalam. Bangunan yang menelan Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai Rp500.000.027 itu kini berubah fungsi secara drastis—bukan mengalirkan air untuk kehidupan, melainkan menjelma tempat sarang ular di tengah permukiman.
”Sampai sekarang manfaatnya tidak pernah kami rasakan sama sekali. Malah jadi bangunan terbengkalai dan dipenuhi semak. Kan kasihan uang rakyat habis cuma untuk bangunan mangkrak begini,” keluh SN penuh penyesalan.
Gumpalan Masalah dan Jejak Mangkrak
Proyek yang dikerjakan PT Bandar Syah Jaya ini hanyalah satu dari sekian deret portofolio fasilitas air bersih di Tubaba yang patut dipertanyakan. Berdasarkan dokumen perencanaan, pada Tahun Anggaran 2022 saja, Dinas PUPR Tubaba mengucurkan dana miliaran rupiah untuk sedikitnya 10 paket SPAM serupa di berbagai tiyuh.
Angka-angka bernilai ratusan juta berjejer di kertas anggaran: SPAM Sumber Jaya (Rp700 juta), Jaya Murni (Rp500 juta), Panaragan (Rp499 juta), Pulung Kencana (Rp499 juta), hingga beberapa tiyuh lainnya, dengan total hingga Rp4,5 miliar. Nilai fantastis yang semestinya mampu menyentuh ribuan dapur warga yang dahaga akan air bersih.
Sorotan publik semakin tajam ketika menilik rekam jejak penyedia jasa. Direktur PT Bandar Syah Jaya ditengarai juga memimpin PT LI—perusahaan yang namanya sempat mencuat dalam kasus hukum proyek SPAM di Kabupaten Pesawaran. Meski belum ada keterkaitan fakta hukum secara langsung antara proyek di Tubaba dan skandal di Pesawaran, pola dan hasil pekerjaan di lapangan mulai memicu keresahan publik.
Menagih Kehadiran Hukum
Bagi pengamat pembangunan Lampung, Erlangga, terbengkalainya SPAM Jaya Murni seharusnya menjadi alarm keras bagi aparat penegak hukum.
”Pembangunan tidak bisa hanya diukur dari megahnya bangunan fisik atau sekadar gugur kewajiban di atas kertas laporan administrasi. Indikator utamanya adalah manfaat yang dirasakan masyarakat,” ujar Erlangga.
Ia menyoroti dugaan praktik rangkap jabatan direksi kontraktor yang dinilai rentan menurunkan kualitas dan profesionalisme pengerjaan proyek. Erlangga mendesak Kejaksaan Tinggi Lampung maupun Kejari Tubaba untuk turun ke lapangan memeriksa tak hanya proyek di Jaya Murni, tetapi seluruh 10 titik SPAM yang dibangun pada tahun yang sama.
Kini, warga Tiyuh Jaya Murni hanya bisa memandang nanar ke arah bangunan hijau yang kian tenggelam ditelan belukar. Mereka masih menanti keberanian penegak hukum untuk mengusut ke mana muara uang rakyat tersebut mengalir. (Tim)