
Bengkulu, sinarlampung.co – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) semakin dekat. Di tengah persiapan menuju forum tertinggi organisasi tersebut, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menawarkan sebuah gagasan yang ia sebut sebagai arah penguatan NU memasuki abad kedua. Gagasan itu yakni “NU Berdaulat, Bermartabat, dan Bermanfaat”.
Bagi Gus Rozin, pergantian kepemimpinan di lingkungan PBNU tidak hanya menjadi agenda regenerasi organisasi. Lebih dari itu, momen tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat khidmah kepada umat, menjaga persatuan, sekaligus memperbesar kontribusi NU bagi bangsa dan masyarakat dunia.
“Memasuki abad kedua bukan berarti meninggalkan warisan para muassis, melainkan memperkuat fondasi yang telah dibangun agar NU mampu menjawab tantangan baru di bidang sosial, ekonomi, politik, teknologi, dan hubungan global,” ujarnya.
Visi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam tiga arah utama.
Pertama, membangun NU yang berdaulat melalui tata kelola organisasi yang profesional, transparan, mandiri, dan berbasis partisipasi jamaah.
Kedua, menghadirkan NU yang bermartabat melalui kepemimpinan yang menjunjung tinggi integritas, akhlak, musyawarah, serta penghormatan kepada ulama.
Ketiga, mewujudkan NU yang semakin bermanfaat melalui penguatan layanan pendidikan, pesantren, ekonomi, kesehatan, filantropi, ilmu pengetahuan, hingga pelayanan sosial sampai tingkat ranting.
Namun, menurut Gus Rozin, arah tersebut tidak akan berjalan tanpa fondasi kepemimpinan yang kuat. Karena itu, ia menawarkan lima prinsip yang berpijak pada tradisi Nahdlatul Ulama, yakni akhlakul karimah, musyawarah, keadilan (‘adalah), khidmah, dan maslahah.
“Memimpin dengan akhlak, bermusyawarah dalam mengambil keputusan, menegakkan keadilan dalam mengelola amanah, berkhidmah kepada jamaah, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat merupakan fondasi kepemimpinan NU,” tegasnya.
Gagasan tersebut juga dilengkapi dengan sejumlah agenda strategis, mulai dari penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah dan Khittah 1926, pembangunan tata kelola organisasi yang transparan dan akuntabel, integrasi ekosistem pendidikan NU, penguatan kemandirian ekonomi organisasi, percepatan transformasi digital berbasis data, hingga penguatan kaderisasi ulama dan perluasan pelayanan sosial.
Di balik gagasan itu, Gus Rozin bukan sosok baru di lingkungan Nahdlatul Ulama. Putra Rais Aam PBNU almarhum KH MA Sahal Mahfudh tersebut tumbuh dalam tradisi pesantren, menempuh pendidikan hingga Monash University Australia, serta pernah mengemban berbagai amanah di lingkungan NU, di antaranya Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU, Katib Syuriah PBNU, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, dan Ketua Majelis Masyayikh.
Melalui visi yang ditawarkannya, Gus Rozin berharap Nahdlatul Ulama dapat memasuki abad kedua sebagai organisasi yang semakin kokoh dalam tata kelola, tetap berpijak pada nilai-nilai para pendiri, sekaligus menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi umat, bangsa, dan masyarakat dunia.
“NU yang besar bukan hanya karena sejarahnya, tetapi karena kemampuannya untuk terus menghadirkan kemaslahatan bagi umat di setiap zaman,” pungkasnya. (*)