
Kota Metro, sinarlampung.co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Metro terus mempercepat penanganan tuberkulosis (TBC) sebagai bagian dari program prioritas nasional menuju eliminasi TBC 2030. Hingga pertengahan 2026, capaian penemuan kasus TBC di Kota Metro baru mencapai 434 kasus atau 47,85 persen dari target 907 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro Fitri Agustina melalui Sekretaris, Alfajar Nasution, menjelaskan berbagai langkah strategis telah dijalankan pemerintah daerah untuk menekan penyebaran TBC sekaligus meningkatkan keberhasilan pengobatan pasien.
“Penemuan kasus secara aktif (Active Case Finding) pada kelompok berisiko, investigasi kontak terhadap seluruh kontak serumah pasien TB, pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak yang memenuhi kriteria, pengobatan TB sesuai standar, penguatan jejaring layanan TB di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta, edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan dan pengobatan TB, pembentukan dan penguatan Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TB) sebagai wadah koordinasi lintas sektor, serta penyusunan dan implementasi Rencana Aksi Daerah (RAD) Penanggulangan Tuberkulosis,” jelas Alfajar melalui penjelasan resminya, Jumat (31/7/2026).
Berdasarkan data Dinkes Kota Metro, target penemuan kasus TBC pada 2025 sebanyak 820 kasus berhasil tercapai 100 persen. Sementara pada 2026, target meningkat menjadi 907 kasus, namun hingga saat ini baru ditemukan 434 kasus atau 47,85 persen.
Menanggapi tingginya jumlah kasus TBC di Kota Metro yang sempat menjadi salah satu yang tertinggi di Provinsi Lampung, Alfajar menegaskan kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan tingkat penularan yang lebih tinggi dibandingkan daerah lain.
“Jumlah kasus yang tinggi tidak selalu menunjukkan penularan yang lebih tinggi dibanding daerah lain. Salah satu penyebabnya adalah semakin baiknya sistem penemuan kasus melalui skrining aktif, investigasi kontak, serta meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan pemeriksaan TB,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Kota Metro juga merupakan pusat pelayanan kesehatan rujukan sehingga banyak pasien dari daerah sekitar datang untuk menjalani pemeriksaan maupun pengobatan.
“Selain itu, Kota Metro merupakan pusat pelayanan kesehatan rujukan sehingga banyak pasien yang berasal dari wilayah sekitar melakukan pemeriksaan maupun pengobatan di Kota Metro. Faktor risiko lain yang turut memengaruhi kejadian TB antara lain kepadatan penduduk, kondisi lingkungan, penyakit penyerta, status gizi, kebiasaan merokok, dan kepatuhan dalam menjalani pengobatan,” katanya.
Untuk mendukung pelaksanaan program, Dinkes Kota Metro mencatat alokasi anggaran khusus penanggulangan TBC dari APBD pada 2025 sebesar Rp594.519.000, sedangkan pada 2026 sebesar Rp25 juta. Anggaran tersebut dimanfaatkan untuk penyediaan cartridge dan bahan habis pakai (BHP) Tes Cepat Molekuler (TCM), serta kegiatan monitoring dan evaluasi program.
Dari sisi keberhasilan pengobatan, pada 2025 tercatat sebanyak 88 pasien dinyatakan sembuh. Selain itu, 381 pasien menyelesaikan pengobatan dengan tingkat keberhasilan 75 persen, sedangkan 12 pasien tercatat putus berobat.
Menanggapi informasi adanya warga di sekitar Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Karangrejo yang diduga terjangkit TBC, Dinkes memastikan langkah penanganan telah dilakukan.
“Dilakukan investigasi kontak terhadap pasien yang terkonfirmasi TB yang domisili di wilayah sekitar TPAS untuk memutus rantai penularan TB,” jelas Alfajar.
Ia juga memastikan Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TB) Kota Metro telah dibentuk melalui Keputusan Wali Kota dan aktif menjalankan koordinasi lintas sektor.
“Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis Kota Metro telah dibentuk melalui Keputusan Wali Kota dan saat ini aktif melaksanakan koordinasi lintas sektor. Rapat koordinasi dilaksanakan secara berkala sesuai kebutuhan program. Beberapa hasil yang telah dicapai antara lain penguatan komitmen lintas sektor, penyusunan Rencana Aksi Daerah, peningkatan koordinasi investigasi kontak, serta dukungan berbagai perangkat daerah dalam percepatan penanggulangan TB termasuk dalam pembentukan Kelurahan Siaga TBC,” ungkapnya.
Meski demikian, Alfajar mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam upaya eliminasi TBC di Kota Metro.
“Beberapa tantangan dalam penanggulangan TB antara lain masih adanya stigma terhadap penderita TB, kepatuhan pengobatan yang memerlukan waktu cukup panjang, belum optimalnya investigasi kontak, mobilitas penduduk yang tinggi, serta perlunya peningkatan peran masyarakat dan lintas sektor dalam mendukung eliminasi TB,” pungkasnya. (Tama)