
Bandarlampung, sinarlampung.co – Bagi siapa saja yang tumbuh atau pernah tinggal di Bandar Lampung pada akhir abad ke-20, lanskap Jalan Dr. Susilo di kawasan Sumur Batu, Teluk Betung Utara, pernah menyimpang satu ingatan yang sama. Di atas perbukitan yang menghadap ke arah teluk, berdiri sebuah bangunan beratap piramida merah yang megah.
Dialah Hotel Marcopolo. Bukan sekadar tempat menginap, melainkan penanda zaman, monumen prestise, dan saksi bisu bagaimana Bandar Lampung perlahan berani membuka diri menjadi sebuah metropolitan.
Pada era 1980-an hingga awal 2000-an, ketika hotel berbintang di Bumi Ruwa Jurai masih bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, Marcopolo adalah mahkota. Namanya membawa prestise tersendiri. Rapat-rapat penting pemerintahan, gala dinner pejabat publik, resepsi pernikahan termewah di kotanya, hingga jamuan tamu negara selalu berpusat di convention hall miliknya.
Namun, daya tarik Marcopolo tak hanya milik kaum elite. Bagi warga kelas pekerja, Marcopolo adalah ruang nostalgia tempat cerita-cerita kecil dirajut: tentang anak-anak yang pertama kali belajar mengapung di kolam renangnya, tentang sepasang kekasih yang memandang gemerlap lampu teluk di waktu senja, atau tentang riak tawa keluarga saat akhir pekan.
“Usia kami memang sudah tidak muda, tapi itu artinya kami sudah cukup pengalaman,” kenang Kris Mintarekno, Manager Promosi Hotel Marcopolo, saat diwawancarai media pada September 2015 lalu.
Kala itu, meski hotel-hotel modern berkonsep minimalis dan kekinian mulai mengepung dari berbagai sudut kota, Marcopolo masih berupaya berdiri tegak. Dengan tarif sekitar Rp325 ribu per malam, mereka masih menawarkan keramahan lama lengkap dengan akses kolam renang dan pemandangan laut yang tak dimiliki tempat lain.
Namun, roda zaman bergerak tanpa kompromi. Industri perhotelan kian agresif, selera wisatawan bergeser cepat, dan lanskap kota terus bersolek. Perlahan namun pasti, gaung Marcopolo yang dulunya riuh mulai senyap di balik kilau hotel-hotel jaringan nasional.
Luka bisnis itu akhirnya tak sanggup lagi disembunyikan. Maret 2025 menjadi titik balik yang getir ketika ratusan karyawannya bersuara menuntut penuntasan Tunjangan Hari Raya (THR) yang tertunda bertahun-tahun. Pada malam hari, sudut-sudut Marcopolo tak lagi menyalakan lampu terang. Bangunan tua itu nampak redup dan letih.
Memasuki pertengahan 2026, babak penutup itu benar-benar dieksekusi. Kompleks bersejarah itu dikelilingi seng rapat. Lalu, suara-suara manis yang pernah memenuhi lobi kini berganti sepenuhnya oleh raungan excavator dan benturan besi hantam beton.
Hari-hari ini, atap piramida merah yang legendaris itu tak lagi utuh. Alat-alat berat bekerja dingin mengikis dinding demi dinding yang menyimpan puluhan tahun memori. Puing-puing beton berserakan di tanah, menyisakan debu membumbung tinggi yang diterbangkan angin ke arah laut.
Foto-foto pembongkaran yang beredar di media sosial seperti membuka paksa album foto lama warga Bandar Lampung. Ratusan komentar mengalir deras—sebuah kepedihan kolektif atas hilangnya salah satu landmark paling berkesan di kota ini.
“Di kolam itulah saya pertama kali diajari berenang oleh almarhum Ayah,” tulis seorang warga di kolom komentar.
“Tempat saya dan suami mengikat janji 25 tahun lalu, kini tinggal puing,” timpal warga lainnya.
Hingga kini, belum ada pengumuman resmi dari pemilik lahan mengenai apa yang akan berdiri di atas tanah bekas Hotel Marcopolo tersebut. Apakah akan menjelma menjadi pusat perbelanjaan baru, kawasan komersial modern, atau kembali menjadi proyek properti lainnya.
Namun, apa pun yang akan berdiri di sana nanti, ia harus melangkah di atas jejak sejarah yang sangat dalam.
Piramida merah itu mungkin kini telah rata dengan tanah, dan debunya perlahan hilang disapu angin Teluk Betung. Namun bagi warga Bandar Lampung, yang runtuh pekan ini bukan sekadar susunan batu dan semen—melainkan sepotong masa lalu, selembar nostalgia, dan satu babak perjalanan kota yang resmi mengucapkan selamat tinggal. (Juniardi)