
PESAWARAN, sinarlampung.co — Sudah hampir satu dekade Tri Septiana bersahabat rapat dengan ombak. Setiap pagi, perempuan asal Desa Gebang, Kabupaten Pesawaran, itu mengendarai sepeda motor menuju pesisir pantai, lalu menaiki perahu kayu kecil untuk menyeberangi perairan Teluk Lampung menuju Pulau Tegal.
Jika cuaca bersahabat, perjalanan laut itu memakan waktu sekitar 20 menit. Namun ketika angin kencang dan hujan deras melanda, hempasan gelombang membuat waktu tempuh menjadi jauh lebih lama dan berisiko.
Sesampainya di dermaga pulau, belasan anak telah berderet menunggu. Dengan senyum lebar, mereka menyapa perempuan itu dengan panggilan hangat: “Bu Guru.”
Tak banyak yang mengetahui bahwa pengajar yang saban hari mempertaruhkan keselamatan di tengah laut ini adalah seorang Persit/Jalasenastri—istri dari Serda Marinir Heri Dwi Santoso, prajurit Yonif 9 Marinir Brigif 4 Mar/BS. Namun bagi Tri, yang paling membekas bukanlah status tersebut, melainkan pertemuannya dengan anak-anak Pulau Tegal pada 2016 lalu.
Kala itu, Tri masih menjadi guru honorer yang mengikuti kegiatan bakti sosial bersama kepala sekolahnya, Uniroh. Di pulau tersebut, ia mendapati kenyataan pahit: mayoritas anak usia sekolah tidak mengenyam pendidikan formal.
”Anak-anak di sana waktu itu hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung seadanya dengan warga lokal yang dianggap mampu. Bahkan banyak yang tidak lulus SD,” kenang Tri saat diwawancarai, Jumat 24 Juli 2026.
Faktor geografis dan ekonomi menjadi benteng tebal yang memutus akses pendidikan mereka. Untuk bersekolah formal, anak-anak Pulau Tegal harus menyeberang laut menuju Desa Sidodadi, Kecamatan Teluk Pandan. Setibanya di daratan utama, mereka masih harus berjalan jauh atau menyewa ojek menuju gedung sekolah.
”Kalau tidak punya perahu sendiri, mereka harus menumpang dan bayar uang bensin. Tidak semua orang tua di pulau mampu,” tutur Tri. Keterbatasan itu memaksa banyak anak menyerah dan putus sekolah di usia muda.
Bertahan Saat yang Lain Angkat Kaki
Pada awal perintisannya, Tri tidak berjuang sendirian. Ia bersama enam guru honorer lainnya bergantian mengajar di Pulau Tegal. Namun, ganasnya alam perlahan menyurutkan langkah rekan-rekannya. Ada yang trauma dengan guncangan ombak, ada pula yang tak sanggup menanggung kelelahan fisik perjalanan laut saban hari.
”Dulu ada sekitar tujuh orang. Lama-kelamaan mereka berhenti satu per satu. Sekarang tinggal saya dan Ibu Kepala Sekolah yang masih bertahan,” ungkapnya.
Di masa-masa awal, kelas berjalan sangat memprihatinkan. Hanya ada enam murid dari rentang usia yang jauh berbeda dalam satu ruangan seadanya. Anak berumur tujuh tahun duduk berdampingan dengan remaja hingga dewasa yang belum lancar membaca. Tanpa seragam, tanpa jenjang kelas yang jelas—hanya ada dahaga akan ilmu pengetahuan.
”Yang sudah besar kadang malu karena harus belajar bareng adik-adiknya. Tapi mereka tidak punya pilihan lain,” kata Tri.
Pengalaman diterjang cuaca buruk di tengah laut sudah menjadi makanan sehari-hari. Ia pernah terjebak hujan lebat di atas perahu yang hanya beratap terpal seadanya. “Kalau sudah hujan di tengah laut, ya basah kuyup semua. Pernah mengalami itu, tapi mau bagaimana lagi,” ujarnya terkekeh kecil.
Di saat niat untuk menyerah sempat terlintas, sang suami hadir menjadi benteng penguat utama.
”Suami saya selalu bilang, ‘Kasihan anak-anak itu. Anggap saja mereka anak-anakmu sendiri. Kalau anak kita tidak ada yang mengajari, bagaimana?'” kenang Tri menirukan ucapan suaminya. Kalimat sederhana itu yang terus memantik semangatnya hingga detik ini.
Dari Enam Murid Menjadi Harapan Baru
Perjuangan tanpa henti Tri perlahan membuahkan hasil nyata. Bersama komunitas Sukarelawan Peduli Pendidikan Pulau Tegal (SP3T) serta dukungan dari satuan Yonif 9 Marinir tempat suaminya bertugas, bantuan mulai berdatangan.
Sebuah rumah baca sederhana akhirnya berdiri. Tak berhenti di situ, izin operasional Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Pulau Tegal resmi diterbitkan oleh Dinas Pendidikan setempat. Hal ini memungkinkan anak-anak pulau mengikuti pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C hingga mendapatkan ijazah resmi negara.
Kini, sekitar 20 anak aktif belajar di PKBM tersebut, mulai dari jenjang TK hingga SMA. Bahkan, tiga alumnus pertama PKBM Pulau Tegal berhasil menembus bangku perguruan tinggi.
”Ada yang mengambil jurusan Pendidikan Guru SD dan Olahraga. Harapan saya, kelak setelah sarjana mereka kembali ke pulau ini untuk mengajar adik-adiknya,” tutur Tri bangga.
Menyalakan Cahaya Cita-Cita di Pulau Remang
Hingga saat ini, Pulau Tegal masih minim fasilitas dasar. Listrik belum masuk sepenuhnya dan warga masih mengandalkan genset serta lampu minyak saat malam menjelang. Sinyal telekomunikasi pun masih menjadi barang langka. Namun, keterbatasan itu tak mampu memadamkan semangat belajar anak-anak pulau.
Tokoh masyarakat Pulau Tegal, Samian, menegaskan bahwa kehadiran Tri dan PKBM telah mengubah peta masa depan generasi muda di wilayahnya.
”Kalau sekolah ini sampai berhenti, bagaimana nasib anak-anak kami? Alhamdulillah sampai sekarang masih terus berjalan. Anak-anak di sini, walaupun angin dan hujan, tetap semangat berangkat belajar,” ujar Samian.
Samian menceritakan, keberadaan PKBM tidak hanya memberikan ijazah, tetapi juga memberikan keberanian bagi anak-anak pulau untuk bermimpi besar. Uniknya, ada satu profesi yang kini paling banyak diimpikan oleh anak-anak di sana.
”Dulu waktu bapak-bapak Marinir datang membantu mendirikan bangunan dan fasilitas, anak-anak melihat kegagahan mereka. Sekarang kalau ditanya cita-citanya, banyak sekali yang menjawab ingin jadi prajurit Marinir,” kata Samian tersenyum.
Di balik seragam loreng yang diimpikan anak-anak itu, ada sosok Tri Septiana yang setiap pagi setia menantang gelombang laut, serta seorang prajurit Marinir yang terus menjaga langkah istrinya dari kejauhan. Di pulau kecil yang belum sepenuhnya terang itu, mereka memastikan bahwa mimpi anak-anak pesisir tidak akan pernah karam di bibir pantai. (Red)