
Bandar Lampung, sinarlampung.co – Pemerintah Provinsi Lampung akan menghidupkan kembali 16 desa budaya sebagai upaya melestarikan warisan adat sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat meninjau Desa Wisata Budaya Marga Teluk yang berpusat di Rumah Adat Lampung Lamban Dalom, Olok Gading, Bandar Lampung, Kamis (25/6/2026).
Dalam kunjungannya, Gubernur Mirza menegaskan bahwa kemajuan Lampung tidak bisa dilepaskan dari peran budaya dan adat yang telah menjadi fondasi kehidupan masyarakat selama ratusan tahun.
Menurutnya, lima falsafah utama masyarakat Lampung, yakni Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, Sakai Sambayan, dan Juluk Adok, telah membentuk karakter masyarakat yang mampu hidup berdampingan secara harmonis di tengah keberagaman.
“Melalui lima falsafah ini, masyarakat Lampung selama ratusan tahun dapat hidup berdampingan, damai, dan berkemajuan bersama masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Gubernur Mirza.
Ia menilai nilai-nilai budaya tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Lampung mampu menjaga kerukunan antarsuku dan antarumat beragama serta meminimalkan konflik sosial.
Karena itu, pembangunan daerah, menurut Mirza, harus tetap berpijak pada adat dan budaya sebagai pembentuk karakter masyarakat.
“Kita ingin Lampung maju, tetapi tetap memiliki karakter. Kita ingin masyarakat makmur, tetapi tetap menjunjung tinggi adat dan budaya yang menjadi jati diri daerah,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Mirza mengungkapkan bahwa Pemprov Lampung telah mengidentifikasi 16 desa budaya yang akan dikembangkan untuk menghidupkan kembali aktivitas budaya masyarakat.
Program tersebut tidak hanya berfokus pada pelestarian bangunan bersejarah, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi, kesenian, aktivitas sosial, hingga kegiatan ekonomi masyarakat berbasis budaya.
Salah satu kawasan yang akan didorong pengembangannya adalah Kampung Marga Teluk di Olok Gading. Kawasan ini dikenal sebagai pusat perdagangan yang ramai sebelum letusan Gunung Krakatau pada 1883.
“Ke depan, kawasan seperti ini akan kita hidupkan kembali agar masyarakat Indonesia dapat melihat seperti apa Lampung yang sesungguhnya,” jelasnya.
Selain menjaga warisan budaya, program revitalisasi desa budaya juga diarahkan untuk memperkuat daya tarik wisata Lampung.
Mirza menyebutkan, sepanjang tahun lalu Lampung menerima sekitar 27 juta kunjungan wisatawan nusantara. Namun, rata-rata lama tinggal wisatawan masih berkisar antara satu hingga tiga hari dengan tingkat belanja yang relatif rendah dibandingkan daerah tujuan wisata lainnya.
Karena itu, pemerintah berupaya menghadirkan destinasi-destinasi baru yang mampu membuat wisatawan tinggal lebih lama di Lampung.
“Kami berharap desa-desa budaya yang dihidupkan kembali ini dapat menjadi destinasi wisata baru yang membuat wisatawan lebih lama tinggal di Bandar Lampung maupun Provinsi Lampung, sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Program pengembangan desa wisata budaya tersebut juga akan diintegrasikan dengan berbagai program pembangunan daerah, termasuk pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). (*)