
Lampung Selatan, sinarlampung.co – Warga Desa Sabah Balau, Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan, terpaksa melakukan perbaikan jalan secara swadaya menggunakan dana patungan. Langkah ini diambil sebagai bentuk protes dan jalan pintas setelah keluhan mereka terkait kondisi jalan yang rusak parah tak kunjung mendapat respons dari pemerintah daerah.
Fokus perbaikan swadaya tersebut menyasar pada Jalan Abdul Kholik 2. Warga menilai, abainya instansi terkait terhadap infrastruktur ini telah melintasi batas kewajaran karena mulai menelan korban jiwa.
Seorang warga setempat, Yatna, mengungkapkan bahwa masyarakat sudah berulang kali menyuarakan aspirasi keluhan jalan rusak ini, baik melalui laporan langsung ke birokrasi setempat maupun via media sosial, namun hasilnya nihil.
“Sudah sering kami mengadu secara langsung maupun lewat media sosial kepada pemerintah setempat, tapi tidak ada tindakan. Jangankan ditindaklanjuti, direspons saja tidak,” cetus Yatna dengan nada kecewa, Minggu (14/6/2026).
Genangan Layaknya Kolam hingga Keguguran Kandungan
Kerusakan kronis di Jalan Abdul Kholik 2 ini menimbulkan dampak domino yang serius bagi mobilitas harian warga desa. Saat intensitas hujan tinggi, permukaan jalan berubah total menjadi kubangan air layaknya kolam, memicu tingginya angka kecelakaan kendaraan bermotor.
Tragisnya, buruknya akses jalan ini dilaporkan berdampak fatal pada keselamatan reproduksi salah satu warga yang sedang mengandung.
“Dampaknya sangat besar. Aktivitas kami sangat terganggu. Bahkan ada ibu hamil yang mengalami keguguran setelah sering melewati jalan ini yang kondisinya sangat buruk,” tegas Yatna.
Meskipun saat ini warga telah melakukan penambalan mandiri secara darurat agar jalan tetap bisa dilalui, mereka menekankan bahwa aksi swadaya ini tidak akan bertahan lama tanpa adanya rekonstruksi aspal yang permanen.
Warga menuntut Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan segera turun ke lapangan dan melakukan perbaikan menyeluruh secara struktural di Desa Sabah Balau. Kasus keguguran yang dialami salah satu warga harus menjadi alarm keras dan bukti nyata bagi pengambil kebijakan bahwa penundaan perbaikan jalan linear dengan ancaman keselamatan nyawa publik.
“Semoga jalan ini segera diperbaiki pemerintah. Sudah ada korban ibu hamil, aktivitas warga pun terganggu. Apakah harus menunggu lebih banyak korban baru jalan ini diperbaiki?” pungkasnya. (Red)