
Bandar Lampung, sinarlampung.co – Persimpangan Pasar Kangkung, tepatnya di pertemuan Jalan Sultan Hasanuddin dan Jalan Laksamana Malahayati, Kelurahan Kangkung, Kecamatan Bumi Waras, Bandar Lampung, kerap menjadi lokasi kecelakaan lalu lintas. Warga menilai ketiadaan lampu peringatan (warning light) dan rambu-rambu menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tingginya risiko kecelakaan di kawasan tersebut.
Persimpangan yang berada di depan Bengkel Dunlop dan Kantor BNM RI itu merupakan jalur dengan arus kendaraan yang cukup padat setiap hari. Kondisi tersebut diperparah dengan kendaraan yang melintas dari Jalan Laksamana Malahayati yang cenderung melaju dengan kecepatan tinggi.
Jalan Laksamana Malahayati merupakan jalur utama satu arah yang sering dilintasi kendaraan dalam kecepatan tinggi. Akibatnya, pengendara yang keluar dari Jalan Sultan Hasanuddin maupun gang sempit dari arah Jalan Ikan Kiter kerap menjadi korban tabrakan.
Terbaru, kecelakaan kembali terjadi pada Rabu (10/6/2026) siang. Dua sepeda motor terlibat tabrakan di lokasi tersebut. Beruntung, insiden itu tidak menelan korban jiwa.
Meski belum tercatat adanya korban meninggal dunia, warga menyebut kecelakaan maupun insiden nyaris tabrakan cukup sering terjadi di persimpangan tersebut.
Roi Maulana (30), petugas parkir yang sehari-hari bekerja di kawasan itu, mengaku kerap menyaksikan kecelakaan lalu lintas di lokasi tersebut.
“Kalo di sini mah emang sering banget bang (kecelakaan, red). Kadang mobil, apalgi motor sering banget tabrakan di sini, gak siang gak malem,” ucap Roi, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, sebagian besar kecelakaan melibatkan pengendara sepeda motor yang melintas dari arah Jalan Laksamana Malahayati.
“Emang belum ada yang sampe meninggal, palingan patah kaki, cacat, ada yang sampe koma. Yang sering banget itu motor bang. Kan dari arah sana itu (Jalan Laksamana Malahayati) rata-rata ngebut. Emang kayaknya di sini perlu dipasang lampu kuning-kuning itu (warning light, red),” tambahnya.
Hal serupa disampaikan Riki Vinaldo (26), karyawan salah satu perusahaan swasta yang berada di sekitar lokasi. Meski baru beberapa bulan bekerja di kawasan tersebut, ia mengaku cukup terkejut dengan frekuensi kecelakaan yang terjadi.
“Saya aja yang baru di sini bang, sering lah ngeliat orang tabrakan. Kalo seingat saya, terkadang emak-emak, anak sekolah, pokoknya yang make motor itu sering nabrak atau pun tertabrak. Waktu malem-malem itu aja tukang becak jadi korban, mobil yang kabur. Terakhir kemaren siang, sesama motor. Sumpah, seumur-umur baru ini ada tempat yang sering banget jadi langganan kecelakaan bang,” kata Riki, Kamis (11/6/2026).
Senada dengan warga lainnya, Ida, penjual pecel dan kopi di sekitar lokasi juga membenarkan bahwa persimpangan tersebut sering menjadi lokasi kecelakaan lalu lintas. Ia menilai pemasangan lampu peringatan perlu segera dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan pengendara sekaligus mengurangi risiko kecelakaan di kawasan itu.
“Iya emang harus dipasang ya bang, lampu peringatan di sini. Yang paling penting itu yang dari arah sana (menunjuk arah jalur Jalan Laksamana Malahayati) Sering banget di sini soalnya (kecelakaan, red). Kemaren siang itu kan di depan ini ada yang tabrakan. Terus ada lagi yang kasian kemaren itu, kan ada pedagang soto numbur mobil nyampe lampu belakangnya pecah, sampai urusan polisi sama disuruh minta ganti rugi, kasian banget ngeliatnya,” ujar Ida sembari mengaduk kopi di warung mini miliknya, Kamis (11/6/2026).
Untuk meminimalisir tingkat kecelakaan di jalur tersebut, pemerintah setempat diminta melakukan berbagai upaya termasuk mengupayakan pemasangan warning light/rambu-rambu lalu lintas di kawasan tersebut. (Tama)