
Tulang Bawang Barat, sinarlampung.co – Suasana belajar berbeda terlihat di SD Negeri 24 Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat saat ratusan siswa mengikuti program “OREO Berbagi Seru” yang digelar selama empat hari, 20-23 Mei 2025. Melalui metode belajar sambil bermain, para siswa tampak antusias mengikuti berbagai aktivitas edukatif yang dikemas lebih interaktif dan menyenangkan.
Program hasil kolaborasi OREO bersama Indonesia Mengajar ini bertujuan membantu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui pembelajaran kreatif yang penuh imajinasi sekaligus menjembatani kesenjangan pendidikan di berbagai daerah.
Di SDN 24 Tulang Bawang Tengah, sejumlah siswa mulai mencoba alat pembelajaran interaktif yang diperkenalkan dalam program tersebut. Didampingi guru dan tim OREO Berbagi Seru, mereka mengikuti permainan edukatif yang dirancang untuk mendukung kemampuan literasi, numerasi, sains, hingga bahasa Inggris.

Project Director Indonesia Mengajar, Ilham Fathur Rahman, menjelaskan program OREO Berbagi Seru memperkenalkan 15 alat pembelajaran seru yang dikembangkan bersama Indonesia Mengajar.
Menurutnya, alat pembelajaran tersebut dirancang menggunakan metode belajar sambil bermain dan diselaraskan dengan kurikulum nasional yang menekankan prinsip pembelajaran meaningful, mindful, dan joyful.
“Dirancang menggunakan metode belajar sambil bermain dan diselaraskan dengan kurikulum nasional yang menekankan pada prinsip deep learning pembelajaran yang meaningful, mindful, dan joyful,” ujar Ilham, Sabtu (23/5/2026).
Ia menjelaskan, alat pembelajaran itu mencakup empat bidang utama, yakni literasi, numerasi, sains, bahasa Inggris, dan petualangan seru. Seluruh materi dibagi dalam tiga fase, yaitu Fase A untuk kelas 1-2 SD, Fase B kelas 3-4 SD, dan Fase C kelas 5-6 SD.

Lebih jauh, Ilham mengatakan metode pembelajaran kreatif sebenarnya telah lama digaungkan pemerintah. Namun melalui program ini, OREO dan Indonesia Mengajar ingin memberikan contoh implementasi pembelajaran yang lebih aplikatif di sekolah.
“Sebenarnya metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif itu sudah digaungkan kementerian. Bersama OREO dan Indonesia Mengajar, kami hadir memberikan contoh dan diharapkan ini bisa diimplementasikan,” katanya.
Menurut Ilham, konsep utama program ini adalah menghadirkan metode pembelajaran menyenangkan (joyful learning) yang sesuai dengan dunia anak.
“Jadi konsepnya melalui metode pembelajaran menyenangkan untuk mengembalikan anak-anak ke kodratnya. Anak usia 6 sampai 12 tahun itu kan memang dunianya bermain. Karena itu, permainan dijadikan media pembelajaran,” jelasnya.
Ia mengatakan, melalui permainan, siswa tetap dapat belajar sambil mengikuti aturan, berinteraksi, dan memahami materi pelajaran secara lebih natural.
“Banyak permainan yang menyenangkan, tapi tidak semuanya berhubungan dengan proses belajar. Makanya kami di sini ingin memberi pemahaman seperti apa proses pembelajaran yang menyenangkan itu, lalu kami kasih contoh permainan yang dihubungkan dengan capaian pembelajaran,” tambahnya.
Pantauan wartawan, alat pembelajaran tersebut mulai diterapkan di beberapa kelas, termasuk kelas lima. Para siswa tampak antusias mencoba berbagai media pembelajaran didampingi guru dan tim OREO Berbagi Seru.

Guru sekaligus wali kelas 5 SDN 24 Tulang Bawang Tengah, Rosita Noer Pratiwi, mengatakan siswa menunjukkan minat tinggi saat menggunakan alat pembelajaran tersebut.
“Dengan media tools kids ini, anak-anak sangat antusias sekali untuk mempraktikkannya. Dan besok-besok kita akan gunakan media-media yang lainnya,” ujar Rosita.
Hal senada disampaikan salah satu guru setempat, Sinta. Ia menilai program OREO Berbagi Seru sangat membantu guru menghadirkan metode belajar yang sesuai dengan kurikulum saat ini.
“OREO Berbagi Seru itu manfaatnya sangat besar di dunia pendidikan, baik bagi guru maupun anak-anak. Karena program ini sesuai dengan kurikulum yang berlaku sekarang,” kata Sinta.
Menurutnya, metode belajar yang menyenangkan membuat siswa lebih mudah menerima pelajaran.
“Guru bisa mengemas metode belajar-mengajar yang menyenangkan buat anak-anak. Kalau anak-anak sudah senang, otomatis itu jadi pengalaman yang membekas ketika mereka ke jenjang selanjutnya, karena mengena langsung ke anak-anak,” lanjutnya.
Kepala SDN 24 Tulang Bawang Tengah, Ponirin, menyambut baik program tersebut. Ia menilai metode pembelajaran yang dikenalkan cukup efektif memacu kreativitas dan pola pikir kritis siswa.
“Terima kasih atas program OREO. Tentunya ke depan kami berharap kalau ada program yang berkaitan dengan penunjang pembelajaran, kami siap berkolaborasi. Karena metode ini cukup efektif memacu pikiran kreatif dan kritis siswa,” ujarnya.
Ponirin mengatakan sekolah berencana mengatur jadwal penerapan metode pembelajaran tersebut agar dapat berjalan beriringan dengan pembelajaran reguler.
“Mungkin nanti kami bagi jadwalnya, misalnya setengah jam untuk metode pembelajaran ini, selebihnya untuk pembelajaran umum supaya tidak monoton,” tambahnya.
Sebelum diterapkan di sekolah, tim OREO Berbagi Seru bersama Indonesia Mengajar terlebih dahulu memberikan Training of Trainers (ToT) kepada guru. Pelatihan tersebut mencakup pengenalan filosofi belajar seru, penggunaan alat pembelajaran, hingga simulasi penerapannya dalam rencana belajar di kelas.
Selain guru, orang tua juga mendapat edukasi untuk memahami perkembangan anak, mengenali bakat dan minat, serta menerapkan metode belajar interaktif di rumah melalui permainan sehari-hari.
Marketing Director MondelΔz Indonesia, Anggya Kumala, mengatakan selama lebih dari 30 tahun hadir di Indonesia, OREO terus berkomitmen mendukung pendidikan sebagai salah satu fondasi penting kemajuan bangsa.
“Dengan mengangkat tema ‘OREO Berbagi Seru’, tahun ini OREO ingin mendukung fokus Kemendikdasmen RI dengan berkontribusi membantu para siswa mendapatkan pendidikan yang berkualitas, berkarakter, dan tentunya seru secara lebih merata dan inklusif,” ujar Anggya.

Program ini juga mendukung sosialisasi “Lima Pilar Pendidikan Karakter” yang digencarkan Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat, yakni cinta kepada Tuhan dan ciptaan-Nya, disiplin, sopan santun, bekerja sama, serta cinta tanah air dan peduli lingkungan.
Bupati Tulang Bawang Barat, Novriwan Jaya, menilai kolaborasi dunia usaha dalam pendidikan penting untuk menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.
“Di masa depan, anak-anak kitalah yang akan bertarung untuk menentukan sukses atau tidaknya Indonesia Emas 2045. Dalam mendidik, kita bukan sekadar mengejar prestasi, melainkan menyiapkan karakter sebagai fondasi,” ujar Novriwan.

Selama empat hari pelaksanaan, sebanyak 35 guru, 70 orang tua, dan 35 anggota komunitas mengikuti pelatihan interaktif. Selain itu, sebanyak 270 alat belajar seru disalurkan untuk membantu proses pembelajaran sekitar 1.400 siswa sekolah dasar di Tubaba.
Salah seorang guru SDN 24 Tulang Bawang Tengah, Erik Saputra, mengaku mendapat pengalaman baru setelah mengikuti pelatihan tersebut.
“Saya jadi sadar bahwa kegiatan belajar akan jauh lebih efektif ketika siswa merasa nyaman dan menikmati prosesnya. Media pembelajaran seru dari OREO membuat suasana belajar mengajar menjadi lebih aktif,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan orang tua, Miftah Widayatina, mengatakan pelatihan tersebut membantunya menghadirkan suasana belajar yang lebih menyenangkan di rumah.
“Selama ini cara saya belajar dengan anak di rumah biasanya sangat monoton, sehingga mereka mudah teralihkan dengan hal-hal lain seperti bermain gadget. Berkat pelatihan ini, saya jadi percaya diri menciptakan pengalaman belajar yang lebih seru,” katanya.
Sebagai tambahan informasi, program “OREO Berbagi Seru” dijalankan secara bertahap mulai April hingga November 2026 di tujuh kabupaten pada tujuh provinsi di Indonesia. Sejumlah wilayah sasaran merupakan daerah terdepan, terluar, tertinggal (3T) serta kawasan marginal.
Adapun daerah yang menjadi lokasi pelaksanaan program meliputi Kabupaten Lebak, Kecamatan Maja, Banten; Kabupaten Pangandaran, Kecamatan Langkaplancar, Jawa Barat; Kabupaten Purworejo, Kecamatan Purworejo, Jawa Tengah; Kabupaten Gunungkidul, Kecamatan Tanjungsari, Daerah Istimewa Yogyakarta; Kabupaten Tulang Bawang Barat, Kecamatan Tumijajar, Lampung; Kabupaten Ogan Ilir, Kecamatan Indralaya Selatan, Sumatera Selatan; serta Kabupaten Langkat, Kecamatan Bahorok, Sumatera Utara.
Secara keseluruhan, program ini ditargetkan menjangkau lebih dari 1.000 guru, orang tua, dan anggota komunitas, serta mendukung proses pembelajaran sekitar 7.000 siswa di berbagai daerah tersebut. (Tama/Red)