
BANDAR LAMPUNG — Sabtu subuh itu, Jalan ZA Pagar Alam masih diselimuti sisa embun dan sepi. Jarum jam baru menunjuk angka 05.30 WIB. Di depan etalase Toko Roti Yussy Akmal, Brigadir Arya Supena menghentikan motornya. Pria berusia 32 tahun itu mungkin hanya ingin membawakan buah tangan hangat untuk istri dan dua anaknya yang menanti di rumah setelah ia menuntaskan shift malam yang panjang di Polda Lampung.
Namun, takdir memiliki rencana lain. Insting seorang intelijen yang terlatih tak bisa berkompromi saat melihat sebuah keganjilan. Di sudut parkiran, dua pria tengah sibuk mengutak-atik sebuah motor milik karyawan toko. Tanpa ragu, Arya melepaskan statusnya sebagai “pembeli” dan kembali menjadi “penjaga”.
Bripka Anumerta Arya Supena Dimakamkan Secara Kedinasan, Polda Lampung Kejar Pelaku Begal Keji?
Rekaman CCTV merekam detik-detik dramatis itu: sebuah teguran yang dijawab dengan perlawanan sengit. Terjadi pergulatan. Duel satu lawan satu di aspal dingin itu pecah. Di tengah hiruk-pikuk pergumulan, sebuah letusan memekakkan telinga merobek kesunyian pagi. Arya tersungkur. Sang Bhayangkara jatuh dalam pelukan tugasnya sendiri.
Di lingkungan kerjanya di Direktorat Intelkam Polda Lampung, Arya dikenal sebagai sosok yang berdedikasi. Namun di mata Galung, sepupunya, Arya adalah “Mas Arya” yang tak pernah ingin terlihat berbeda hanya karena ia seorang polisi.
“Kalau pulang ke Metro, hal pertama yang ia lakukan adalah melepas seragam dan menggantinya dengan kaus biasa. Ia tidak suka menonjolkan diri. Ia ingin tetap menjadi warga biasa yang membaur dengan kami,” kenang Galung dengan suara parau.
Baginya, Arya adalah kawan lari pagi, teman bulu tangkis, dan sosok yang selalu memberi semangat lewat pesan WhatsApp—seperti dukungannya pada kanal YouTube Galung yang baru saja berkembang. Tak ada kesan kaku seorang aparat; yang ada hanyalah seorang ayah penyayang yang kerap bersepeda santai bersama sang istri, Jovita, di akhir pekan.
Meninggalkan Luka dan Kebanggaan
Kini, rumah di Jalan Mata Intan, Segala Mider, terasa jauh lebih sunyi. Jovita harus mendekap dua buah hatinya yang masih terlalu kecil untuk memahami mengapa ayahnya tak lagi pulang membawa roti subuh itu. Anak-anak yang masih di usia PAUD dan balita tersebut kini menjadi saksi bisu dari pengorbanan tertinggi seorang ayah.
Pemakaman militer di TPU Mulyo Sari, Kota Metro, pada Sabtu sore itu menjadi penghormatan terakhir yang khidmat. Salvo kehormatan meletus ke langit, seolah mengantarkan kenaikan pangkat luar biasa bagi sang almarhum menjadi Bripka Anumerta Arya Supena.
Kapolda Lampung, Irjen Pol Helfi Assegaf, berdiri tegak di depan pusara. Pesannya jelas: tidak ada tempat bagi pelaku kejahatan keji untuk bersembunyi. Negara tak akan tinggal diam saat salah satu putra terbaiknya gugur saat menjaga ketenangan warga.
Bripka Anumerta Arya Supena pergi bukan karena ia sedang bertugas secara formal, melainkan karena jiwanya memang tidak pernah berhenti bertugas. Di balik uap panas roti yang mungkin tak sempat ia beli, ada keberanian yang kini abadi.
Ia meninggalkan kita dengan sebuah pengingat bahwa keamanan yang kita nikmati setiap pagi sering kali dibayar dengan harga yang amat mahal oleh mereka yang bekerja dalam diam. Selamat jalan, Arya. Tugasmu telah usai, namun keberanianmu tetap hidup di setiap sudut jalanan Lampung yang kau jaga. (Juniardi)