
Lampung Timur, sinarlampung.co – Di saat banyak pihak memilih menunggu bantuan yang tak kunjung datang, warga Dusun 02, Desa Sriminosari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur justru mengambil jalan berbeda.
Dipimpin langsung sang Kepala Dusun 02, puluhan warga terjun bersama membangun jembatan secara swadaya, Sabtu (4/5/2026).
Tanpa proyek, tanpa anggaran resmi, hanya bermodalkan tekad, kepedulian, dan rasa tanggung jawab bersama terhadap desa tercinta.
Di antara tetesan peluh dan adukan semen, Parsidi, sang Kepala Dusun 02 melontarkan kritik tajam yang menohok mental sebagian masyarakat.
“Jangan cuma mengeluh ke pemerintah! Desa ini tanggung jawab kita semua. Kalau hanya terus menunggu bantuan, sampai kapan pun tidak akan selesai,” tegasnya dengan berapi – api.
Pernyataan Parsidi tersebut bukan tanpa alasan. Jembatan yang ada sebelumnya, hanyalah terbuat dari batang pohon kelapa yang sudah lapuk, licin dan rapuh. Sehingga, kehawatiran warga akan ancaman keselamatan saat melintas diatasnya selalu menghantui warga. Dari anak-anak sekolah yang mempertaruhkan nyawa, hingga para petani yang kesulitan mengangkut hasil panen menjadi menjadi darama setiap hari.
Alih-alih pasrah, warga memilih melawan keadaan. Secara kolektif para warga dusun 02 dan sekitarnya patungan, bersama – sama mereka bekerja, mereka membuktikan bahwa kepedulian tidak perlu menunggu ketidakpastian anggaran yang turun dari pemerintah.
Di lokasi, suasana gotong royong terasa hidup. Tangan-tangan kasar mengangkat batu, kaki-kaki berlumpur berpijak di pondasi, cucuran keringat menjadi saksi bahwa perubahan bisa dimulai dari kepedulian.
Dilokasi pengerjaan tampak terlihat pengurus LPM dan BPD Desa Sriminosari ikut turun bergotong royong, secara kolektif warga dusun 02 memastikan setiap rupiah dana yang terkumpul secara swadaya digunakan secara terbuka, tidak ada ruang untuk kong kalikong anggaran, semua terserap demi kepentingan warga.
Hingga sore hari, suara cangkul dan adukan semen masih menggema. Di Dusun 02 Sriminosari, pelajaran berharga tampak jelas. “Perubahan tidak lahir dari keluhan, tapi dari keberanian untuk bertindak”.
Di akhir kegiatan, Parsidi menegaskan. Jembatan yang sedang kami bangun ini bukan sekadar bangunan fisik. Tetapi, merupakan sebuah simbol perjuangan warga dusun 02 dan sekitarnya.
“Ini urat nadi ekonomi kami. Kalau akses terputus, kami semua lumpuh. Daripada menunggu janji yang belum tentu datang, lebih baik kami bergerak. Ini bukti cinta kami pada desa,” tutupnya. (Afandi)