
Tanggamus, Sinarlampung.co — Di tengah lambannya respons pemerintah, semangat gotong royong justru menyala dari warga. Puluhan masyarakat Pekon Talang Rejo, turun langsung memperbaiki jalan rusak yang selama ini menjadi salah satu akses utama menuju gerbang kompleks perkantoran Pemerintah Daerah Tanggamus.
Jalan tersebut bukan sekadar penghubung antarlingkungan, melainkan jalur vital yang setiap hari dilalui pegawai dan masyarakat. Ironisnya, kondisi jalan yang berlubang dan rusak parah itu telah berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan serius, meski berbagai keluhan dan usulan perbaikan telah berulang kali disampaikan.
“Ini bukan hanya untuk kami, tapi untuk semua. Jalan ini akses penting. Kalau rusak, semua kena dampaknya. Kami sudah sering lapor, tapi tidak ada tindakan nyata. Jadi kami sepakat bergerak sendiri,” ujar salah satu warga di sela kegiatan perbaikan swadaya.
Aksi ini sontak menjadi sorotan, terlebih lokasinya yang berada di sekitar gerbang pusat pemerintahan daerah. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: bagaimana mungkin akses menuju kantor pemerintah justru terabaikan?
Tokoh masyarakat setempat menegaskan, langkah ini bukan sekadar inisiatif biasa, melainkan bentuk kekecewaan yang memuncak akibat minimnya perhatian terhadap infrastruktur dasar.
“Kami tidak bisa terus menunggu tanpa kepastian. Jalan ini urat nadi aktivitas warga dan pegawai. Kalau dibiarkan, dampaknya meluas. Ini harus jadi teguran keras agar pemerintah segera membuka mata dan bertindak,” tegasnya.
Lebih dari sekadar memperbaiki jalan, kegiatan gotong royong ini mencerminkan kekompakan warga Talang Rejo, khususnya para pemuda yang masih menjaga nilai kebersamaan. Namun di balik itu, terselip pesan kuat “masyarakat tidak ingin terus menambal kelalaian pemerintah dengan tenaga sendiri”.
Warga berharap aksi ini menjadi titik balik bagi Pemerintah Kabupaten Tanggamus untuk lebih serius memperhatikan kondisi infrastruktur, terutama yang berdampak langsung pada mobilitas dan perekonomian masyarakat.
Jika tidak, bukan tidak mungkin, gelombang kekecewaan akan terus meluas dan gotong royong seperti ini akan berubah dari simbol kebersamaan menjadi simbol keputusasaan.(wisnu)