
Bandar Lampung, sinarlampung.co – Tingginya angka kunjungan wisatawan ke Provinsi Lampung sepanjang 2025 belum sepenuhnya diiringi dengan rasa aman dan nyaman bagi pengunjung. Isu keselamatan dan keterbatasan infrastruktur masih menjadi kekhawatiran di sejumlah destinasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara ke Lampung pada Januari-November 2025 mencapai 24.702.664 orang. Hingga akhir Desember 2025, total kunjungan diperkirakan menembus 27 juta orang.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Lampung, Tony Ferdiansyah, mengatakan pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas sektor pariwisata, meski diakui masih terdapat sejumlah tantangan.
“Potensi wisata di Lampung sangat banyak. Ini harus terus kita tingkatkan, baik dari sisi destinasi, sumber daya manusia, maupun pemasarannya,” ujar Tony.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan destinasi yang lebih baik, termasuk pemeliharaan sarana dan prasarana serta perhatian terhadap aspek lingkungan. Namun demikian, persoalan keselamatan dan akses infrastruktur masih menjadi perhatian utama.
“Keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas. Termasuk akses infrastruktur menuju destinasi wisata yang harus terus ditingkatkan,” katanya.
Selain itu, aspek keselamatan di kawasan wisata tirta seperti sungai, air terjun, dan laut juga menjadi sorotan, termasuk melalui penguatan peran Balawista.
Di sisi lain, Pemprov Lampung juga mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pengelola wisata melalui pendidikan dan pelatihan.
“Lampung punya potensi alam, tapi SDM juga harus mumpuni agar pengelolaan wisata bisa maksimal,” tegasnya.
Upaya penguatan juga dilakukan melalui strategi pemasaran, terutama di era digital dengan memanfaatkan media sosial serta melibatkan influencer dan brand ambassador untuk memperluas jangkauan promosi.
Tak hanya itu, pengembangan desa wisata berbasis pengalaman turut menjadi fokus. Saat ini tercatat sebanyak 133 desa di Provinsi Lampung telah terdaftar dalam Jejaring Desa Wisata (Jadesta). Namun, pemerintah akan melakukan verifikasi untuk menentukan desa yang diprioritaskan, termasuk melihat keaktifan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
“Wisatawan harus mendapatkan pengalaman yang utuh, bukan hanya melihat tempat wisata, tapi juga merasakan kehidupan desa,” jelas Tony.
Ia menambahkan, integrasi konsep desaku maju, desa wisata, dan desa budaya tengah disiapkan untuk menciptakan daya tarik yang lebih komprehensif.
“Kalau potensi wisata, infrastruktur, dan nilai budaya bisa digabungkan, maka akan terbentuk desa wisata yang lengkap dan memberikan pengalaman luar biasa bagi wisatawan,” pungkasnya. (*)