
Tulang Bawang, sinarlampung.co – Satu tahun adalah waktu yang cukup bagi seorang pemimpin untuk meletakkan fondasi dan arah pembangunan yang jelas. Namun, bagi masyarakat Kabupaten Tulang Bawang, setahun kepemimpinan Bupati Qodratul Ikhwan dan pasangannya Hankam Hasan justru menyisakan tanda tanya besar: Ke mana arah masa depan kabupaten ini dibawa?
Publik mulai meragukan apakah duet kepemimpinan ini memiliki visi yang kuat (visioner) atau sekadar menjalankan rutinitas birokrasi tanpa terobosan berarti. Visi seorang pemimpin diukur dari prioritasnya.
Saat ini, wajah Tulang Bawang adalah wajah infrastruktur yang bopeng. Dengan tingkat kemantapan jalan yang hanya menyentuh angka 40 persen, sulit untuk mengatakan bahwa pemerintah memiliki visi kemajuan.
Tragedi “jalan batang kelapa” di Rawa Pitu pada 2025 bukan sekadar masalah teknis anggaran, melainkan bukti ketidakmampuan visioner dalam memetakan skala prioritas.
Seorang pemimpin yang visioner seharusnya mampu melakukan lobi lintas sektoral sejak hari pertama, bukan membiarkan rakyatnya melakukan perbaikan jalan secara swadaya dengan alat seadanya di tengah keputusasaan.
Alibi Klasik dan Kurangnya Inovasi
Alasan keterbatasan anggaran (APBD) sebesar Rp20 miliar untuk jalan adalah lagu lama yang terus diputar. Di sinilah letak ujian seorang pemimpin visioner. Jika hanya mengandalkan anggaran rutin, siapa pun bisa menjadi Bupati.
Kepemimpinan Qodratul-Hankam Hasan dianggap kurang inovatif karena cenderung mengambil jalan pintas melalui pinjaman daerah senilai Rp40 miliar pada 2026.
Alih-alih menciptakan kemandirian ekonomi atau menarik investasi besar yang mampu mendongkrak PAD, Pemkab justru memilih menambah beban utang daerah. Ini menunjukkan pola pikir yang pendek, bukan visi jangka panjang yang berkelanjutan.
Kucuran dana Rp135 miliar dari Gubernur Lampung untuk Rawa Pitu pada Maret 2026 memang menjadi angin segar. Namun, di sisi lain, ini adalah “tamparan” halus bagi kepemimpinan daerah.
Hal ini menegaskan bahwa tanpa intervensi tangan dari atas (Provinsi), pemerintah daerah Tulang Bawang tampak lumpuh dan tak berdaya menghadapi persoalan di halaman rumahnya sendiri.
Butuh Pemimpin, Bukan Sekadar Manajer
Tulang Bawang tidak butuh manajer yang hanya pandai mengelola administrasi dan meresmikan acara seremonial. Rakyat butuh pemimpin visioner yang mampu melihat potensi tersembunyi Tulang Bawang dan mengubahnya menjadi kekuatan ekonomi.
Setahun telah berlalu dengan narasi “transisi” dan “perencanaan”. Jika di tahun kedua Qodratul tetap terjebak dalam pola kepemimpinan yang pasif dan minim terobosan, maka label “Tulang Bawang Tanpa Kemajuan” bukan lagi sekadar persepsi, melainkan sebuah fakta pahit yang akan diingat sejarah.
Jangan biarkan Tulang Bawang hanya menjadi penonton di saat daerah tetangga mulai berlari kencang. Kepemimpinan tanpa visi adalah jalan buntu bagi kesejahteraan rakyat. (Juniardi/*)