
PRINGSEWU, sinarlampung.co – Tepat satu tahun sudah pasangan H. Riyanto Pamungkas dan Umi Laila menakhodai Kabupaten Pringsewu sejak dilantik pada Februari 2025 lalu. Dalam kurun waktu 365 hari, duet kepemimpinan dengan visi “Pringsewu Makmur” ini mulai menunjukkan corak pembangunannya, meski tantangan besar di sektor infrastruktur dan ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah yang menuntut akselerasi.
Fokus Konektivitas: Antara Capaian dan Realita Lapangan
Infrastruktur jalan menjadi napas utama dalam setahun kepemimpinan Riyanto-Umi. Pemerintah Kabupaten Pringsewu tercatat telah menangani puluhan ruas jalan dengan total panjang mencapai 41,23 kilometer, termasuk terobosan jalan Banyumas–Way Kunyir senilai Rp48,83 miliar.
”Pembangunan jalan bukan sekadar urusan aspal, tapi tentang membuka urat nadi ekonomi, akses kesehatan, dan pendidikan masyarakat,” ujar Bupati Riyanto dalam sebuah pertemuan bersama insan pers belum lama ini.
Namun, di balik capaian tersebut, kritik tajam masih mengalir dari masyarakat. Kualitas pengerjaan fisik di beberapa titik disinyalir belum maksimal.
”Kami mengapresiasi adanya perbaikan, tapi jangan sampai aspalnya ‘seumur jagung’. Di beberapa ruas, baru hitungan bulan sudah mulai berlubang lagi. Kami butuh kualitas, bukan sekadar seremonial gunting pita,” cetus Supardi (45), salah seorang warga Kecamatan Gadingrejo.
Senada dengan itu, aktivis lokal Pringsewu, Andi Setiawan, menyoroti pentingnya pengawasan ketat dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). “Satu tahun ini harus jadi evaluasi. Jangan sampai anggaran besar habis untuk proyek yang daya tahannya rendah. Rakyat ingin melihat uang pajaknya jadi bangunan yang awet,” tegasnya.
Penguatan Ekonomi Lokal dan UMKM
Di sektor ekonomi, Pringsewu menunjukkan tren positif dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang naik ke angka 74,76—menduduki peringkat ke-4 se-Provinsi Lampung. Angka kemiskinan pun berhasil ditekan hingga 7,60 persen.
Salah satu program unggulan yang mulai digulirkan adalah hilirisasi pertanian melalui pengembangan Modified Cassava Flour (MOCAF). Bupati Riyanto mendorong agar komoditas singkong tidak lagi dijual mentah, melainkan diolah untuk meningkatkan nilai tambah bagi petani.
”Singkong harus jadi penggerak ekonomi baru. Ini peluang untuk membuka lapangan kerja dan memperkuat daya saing daerah,” kata Bupati.
Harapan Masyarakat: Tak Sekadar Slogan
Memasuki tahun kedua, ekspektasi masyarakat tetap tinggi. Warga di wilayah pelosok masih mendambakan pemerataan pembangunan jalan lingkungan dan perbaikan sistem drainase untuk mengatasi banjir tahunan di titik-titik strategis.
Wakil Bupati Umi Laila menegaskan bahwa tahun-tahun mendatang akan difokuskan pada pemantapan daya saing daerah. “Visi kami adalah memastikan setiap kebijakan berdampak langsung pada kesejahteraan sosial dan kualitas hidup warga Pringsewu,” tuturnya.
Satu tahun memang waktu yang singkat, namun fondasi yang diletakkan Riyanto-Umi menjadi tolok ukur penting. Masyarakat kini menanti bukti nyata bahwa slogan “Makmur” benar-benar menjadi realitas yang dirasakan hingga ke tingkat Pekon. (Juniardi)