
Satu tahun sudah duet Bambang–Rafieq menduduki kursi kepemimpinan di Kota Metro. Namun, bagi warga di Jalan Bulak Sari, Kelurahan Hadimulyo Timur, atau mereka yang harus berjibaku dengan genangan air saat hujan, satu tahun ini hanyalah pergantian kalender tanpa perubahan nasib. Kota Metro yang dijuluki “Bumi Sai Wawai” kini lebih terasa seperti kota yang sedang “hibernasi”.
Secara geografis, Metro sebenarnya memiliki tantangan unik. Dengan topografi yang landai dan kemiringan lahan hanya 0–8%, kota ini secara alami memiliki aliran air yang lambat. Tanpa sinkronisasi drainase yang radikal, air akan selalu “parkir” di badan jalan. Inilah musuh utama aspal.
Namun, alih-alih mengeksekusi janji “Solusi Permanen Banjir Kota” dengan rekayasa hidrologi yang saintifik, pemerintah justru seolah membiarkan air merusak infrastruktur yang ada.
Kita tentu belum lupa dengan janji-janji heroik saat masa kampanye 2025 lalu. Narasi tentang “Metro Terang Benderang” dan “Jalan Mulus hingga Gang Rumah” kini berbenturan dengan kenyataan di Jalan Bulak Sari yang hancur lebam.
Sebagai kota seluas 68,74 km², seharusnya tidak ada alasan bagi Pemkot untuk “luput” memantau kerusakan di tingkat lingkungan. Jarak koordinat yang sempit seharusnya memudahkan mobilisasi alat berat, bukan justru memperpanjang birokrasi perbaikan.
Kemana DPRD
Namun, dosa ini tidak bisa ditanggung sendiri oleh eksekutif. Kita patut bertanya: Di mana DPRD Kota Metro?
Sebagai pemegang fungsi pengawasan, para wakil rakyat di Jalan Ah Nasution seolah kehilangan “taring”. Ke mana fungsi checks and balances saat program prioritas infrastruktur yang dijanjikan justru jalan di tempat?
DPRD terkesan asyik dengan rutinitas administratif, perjalanan dinas, sementara di dapil mereka sendiri, warga mengeluhkan aspal yang hancur akibat beban logistik kendaraan yang melintasi jalur strategis Metro. Jika DPRD hanya diam, maka mereka pun turut andil dalam mengkhianati kepercayaan rakyat.
Warga tidak butuh konten seremonial di media sosial. Warga butuh realisasi janji “Metro Maju” yang nyata. Jika di tahun kedua ini tidak ada gebrakan teknis untuk mengatasi problem drainase dan jalan rusak, maka narasi kemajuan hanyalah slogan kosong.
Sudah saatnya Bambang–Rafieq dan DPRD bangun dari tidurnya. Jangan biarkan Metro tenggelam dalam genangan janji yang tak kunjung surut. *****