
LAMPUNG UTARA, sinarlampung.co– Suara gemericik air yang melintasi saluran irigasi kini menjadi musik paling merdu bagi warga di empat desa Kecamatan Sungkai Jaya, Kabupaten Lampung Utara. Bagi warga Desa Sri Jaya, Sri Agung, Cempaka Barat, dan Cempaka, air yang mengalir jernih ini bukan sekadar benda cair, melainkan “nadi” kehidupan yang telah mati suri selama 12 tahun.
Sejak tanggul jaringan irigasi di Desa Sri Jaya jebol belasan tahun silam, air yang semestinya mengairi sawah meluber sia-sia ke sungai alami. Sawah mengering, panen tak pasti. Namun, di awal tahun 2026 ini, senyum petani kembali merekah. Proyek rehabilitasi daerah irigasi Way Bumi Agung yang dikerjakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung akhirnya rampung dan berfungsi.
“Sudah 12 tahun kami menunggu perbaikan ini. Begitu air mengalir, rasanya lega luar biasa. Manfaatnya langsung terasa,” ujar Heri, warga Desa Sri Jaya dengan mata berbinar.
Kebahagiaan serupa dirasakan Yanti dan Yuli, warga Cempaka dan Cempaka Barat. Bagi kaum ibu, air irigasi yang jernih ini memiliki fungsi ganda. Selain untuk pertanian, kualitas air yang baik memungkinkan mereka memanfaatkannya untuk keperluan Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK). “Airnya jernih, sangat membantu kami untuk mencuci dan mandi. Dulu susah sekali,” ungkap Yuli diamini oleh Yanti.
Johan, warga Sri Agung, menambahkan bahwa berfungsinya kembali irigasi ini adalah anugerah besar bagi ekonomi desa mereka.
Menepis Isu Miring “Tanggul Jebol”
Namun, di tengah sukacita warga menikmati air, sempat beredar kabar tidak sedap yang meresahkan. Sebuah isu menyebutkan bahwa tanggul hasil rehabilitasi proyek senilai Rp 12,8 miliar tersebut kembali jebol dan ambruk. Kabar ini segera dibantah keras di lapangan.
Humas PT Bajasa Manunggal Sejati (BMS), Alafiah, selaku kontraktor pelaksana, memberikan klarifikasi tegas pada Rabu 28 Januari 2026.
Ia menyayangkan adanya oknum yang menyebarkan informasi tidak akurat—atau hoaks—yang menyebut gorong-gorong ambruk.
“Ini bukan jebol atau ambruk. Faktanya, gorong-gorong tersumbat tanah dan sampah akibat intensitas hujan yang sangat tinggi pekan lalu,” jelas Alafiah saat ditemui di lokasi.
Ia menepis narasi menyeramkan yang beredar. “Lihat saja, pekerjaan kami ini bagus. Struktur bangunan aman. Isu itu ulah oknum yang mencari-cari kesalahan. Bahkan ketika tim ahli datang, tuduhan mereka tidak terbukti dan pembicaraannya jadi tidak nyambung,” tambahnya.
Fakta Lapangan: Masalah Sampah, Bukan Struktur
Berdasarkan laporan inspeksi lapangan yang dilakukan Tim Ahli BBWS Mesuji Sekampung bersama kontraktor pada Selasa (20/1/2026), fakta teknis pun terungkap. Insiden di Bangunan Gorong-gorong BBA.4b, Saluran Primer Way Bumi Agung, Desa Sri Jaya tersebut murni disebabkan faktor hidrometeorologi (cuaca).
Hujan deras yang mengguyur terus-menerus membawa sampah dan endapan tanah merah, menyumbat saringan air (screen inlet). Akibatnya, air meluap (overflow) ke bagian sayap bangunan dan menyebabkan gerusan lokal (scouring) di tanah sekitarnya sepanjang 10 meter.
“Jadi gorong-gorongnya hanya tertutup tanah yang mengendap. Tidak ada bangunan utama yang rusak. Integritas struktural dan stabilitas bangunan tetap aman,” jelas Dwi Hartanto dan Sabilillah dari tim inspeksi PU, yang didampingi Eko Wijianto dan Miftah Hudin dari pihak kontraktor.
Respons Cepat dan Mitigasi
Tidak tinggal diam, pihak PT Bajasa Manunggal Sejati langsung menerjunkan alat berat dan tim untuk melakukan normalisasi. Tumpukan lumpur digali, sampah penyebab sumbatan dibersihkan, dan tanggul yang tergerus air diperbaiki kembali. Ada bagian yang sengaja dibongkar ulang untuk memastikan pembersihan lumpur berjalan maksimal.
Langkah cepat ini dilakukan demi menjamin distribusi air ke empat desa tidak terganggu kembali. Pihak kontraktor kini juga tengah menelusuri asal muasal tumpukan sampah yang menjadi biang kerok sumbatan tersebut.
Kini, dengan penanganan yang tepat dan klarifikasi yang transparan, warga Desa Sri Jaya, Sri Agung, Cempaka Barat, dan Cempaka bisa bernapas lega. Air Way Bumi Agung tetap mengalir, membawa harapan baru bagi panen yang melimpah dan kehidupan sehari-hari yang lebih mudah, mengakhiri dahaga panjang selama satu dekade lebih. (Tim/Red)