
Bandar Lampung, sinarlampung.co-Ada pemandangan tak biasa yang kini menjadi rutinitas baru di kompleks Kantor Gubernur Lampung. Dulu, suara adzan zhuhur atau ashar kerap kali hanya dianggap sebagai penanda jam istirahat atau jeda rapat. Namun kini, panggilan itu memiliki “magis” yang berbeda.
Sejak Rahmat Mirzani Djausal (Mirza) menduduki kursi BE 1, atmosfer spiritual di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung berubah drastis. Masjid At Tanwir di jantung pusat pemerintahan itu, yang dulunya lengang dan hanya terisi beberapa shaf di barisan depan, kini seolah tak pernah tidur.
Perubahan itu bukan karena adanya Surat Edaran (SE) yang mewajibkan absensi sholat, bukan pula karena ancaman sanksi indisipliner. Perubahan itu bermula dari satu hal sederhana yaitu keteladanan.
Pemimpin di Shaf Terdepan
Sudah menjadi rahasia umum di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemprov, Gubernur Mirza hampir tak pernah absen melangkahkan kaki ke masjid setiap kali muadzin mengumandangkan adzan.
Tak peduli sepadat apa agenda rapat, atau sebanyak apa tumpukan berkas di meja kerjanya, Mirza selalu menyempatkan diri. Ia tidak meminta perlakuan khusus. Seringkali, ia terlihat berjalan kaki dari ruang kerjanya, berbaur dengan staf, tenaga honorer, hingga petugas kebersihan, mengambil wudhu di keran yang sama, dan berdiri di shaf sholat yang sama.
“Dulu kalau adzan, kita santai saja, paling sholatnya nanti-nanti. Tapi sekarang, malu rasanya. Pak Gub saja yang sibuknya luar biasa bisa tepat waktu ke masjid, masa kita yang bawahan masih leha-leha,” bisik seorang staf Biro, saat ditemui usai sholat Ashar, kemarin Senin 19 Januari 2025.
Efek Domino Kesalehan
Dampak dari “Gerakan Diam” Gubernur ini luar biasa. Masjid Pemprov yang berarsitektur megah itu kini selalu full house.
Saat waktu Zhuhur tiba, gemuruh langkah kaki pegawai memenuhi koridor menuju masjid. Mulai dari Kepala Dinas, Kepala Biro, hingga staf pelaksana, seolah berlomba mendapatkan tempat.
Pemandangan sepatu dan sandal yang berjejer rapi hingga ke pelataran masjid kini menjadi pemandangan lumrah setiap hari, bukan hanya saat hari Jumat.
Di waktu Ashar dan Maghrib, ketika biasanya kantor mulai sepi, masjid ini tetap hidup. Kajian-kajian singkat ba’da sholat (kultum) seringkali terdengar, menambah kesejukan di tengah panasnya dinamika birokrasi dan politik pemerintahan.
Bukan Pencitraan, Tapi Kebiasaan
Bagi mereka yang mengenal Mirza jauh sebelum menjadi Gubernur, hal ini bukanlah kejutan. “Beliau memang begitu dari dulu. Menjaga sholat itu prinsip,” ujar salah satu kerabat dekatnya.
Namun, ketika prinsip itu dibawa ke tampuk kekuasaan tertinggi di provinsi, ia menjelma menjadi role model. Mirza membuktikan bahwa revolusi mental di birokrasi tidak melulu harus lewat seminar motivasi atau diklat kepemimpinan.
Cukup dengan menggelar sajadah tepat waktu, ia telah “menampar” kesadaran ribuan bawahannya. Ia mengajarkan bahwa setinggi apapun jabatan di dunia, kening ini tetap harus bersujud menyentuh bumi di hadapan Sang Pencipta.
Kini, di bawah langit Pemprov Lampung, produktivitas kerja berpadu dengan spiritualitas. Dan itu semua dimulai dari langkah kaki seorang pemimpin yang rajin ke masjid. (Juniardi)