
Lampung Timur, sinarlampung.co – Banjir merendam Jalan Ir Sutami dan wilayah Desa Bandar Agung, Kecamatan Sribhawono, Kabupaten Lampung Timur, Kamis, 25 Desember 2025. Peristiwa ini diduga kuat dipicu oleh luapan lumpur dari kawasan Register 38 yang mengalami kerusakan lingkungan.
Dua titik terparah berada di ruas Simpang 55 hingga Simpang Wakidi, yang selama beberapa jam lumpuh total akibat genangan air bercampur lumpur. Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur wilayah tersebut sejak pukul 16.30 hingga sekitar 22.50 WIB menyebabkan limpasan air turun dari kawasan perbukitan dan hutan di sekitarnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan lumpur cokelat pekat mengalir deras menutup badan jalan, membuat arus lalu lintas tersendat bahkan terhenti. Sejumlah kendaraan roda dua dan roda empat terpaksa berhenti, sementara sebagian pengendara nekat menerobos genangan air hingga mesin mati dan harus didorong bergotong royong oleh warga.
Tak hanya melumpuhkan jalur vital, banjir juga merendam rumah warga dengan ketinggian air mencapai 50 hingga 70 sentimeter. Warga tampak sibuk menyelamatkan barang-barang berharga agar tak terendam.
“Nek ngeneki suwi-suwi remok bolo (kalau begini, lama-lama hancur, red),” ujar seorang warga sambil mengangkat barang elektroniknya ke atas meja.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Timur, Tabrani Hasyim, mengatakan pihaknya langsung menurunkan tim ke lokasi setelah menerima laporan. Saat petugas tiba, kondisi air disebut sudah mulai surut dan banjir dipicu oleh curah hujan tinggi.
“Kita sudah imbau masyarakat, berkoordinasi melalui camat, bahwa dari Desember (2025) hingga Juli (2026), cuaca cukup ekstrem. Jadi kita harus waspada dan tetap siaga,” imbaunya, Jumat, 26 Desember 2025.
Tabrani menambahkan, banjir di Desa Bandar Agung baru kali ini terjadi dengan tingkat keparahan seperti sekarang. Ke depan, BPBD akan berkoordinasi dengan camat dan kepala desa untuk menyiapkan langkah antisipatif di titik-titik rawan.
“Paling kita berkoordinasi dengan camat dan kades, apakah dibuat talud yang lebih besar. Kemudian kita juga imbau masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Sehingga saluran (air) tidak tersumbat,” katanya.
Dalam peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa. Berdasarkan pendataan BPBD, kerusakan hanya terjadi pada satu tembok rumah warga yang ambruk akibat derasnya terjangan air.
Tabrani juga menyebutkan, banjir kali ini menjadi yang terparah sepanjang tahun 2025, meski durasinya relatif singkat, sekitar dua jam sebelum akhirnya surut dengan sendirinya.
Sementara itu, warga dan pengendara menuturkan bahwa hujan lebat menyeret material tanah, pasir, dan lumpur dari kawasan pegunungan serta Register 38 yang berada tak jauh dari lokasi banjir. Aktivitas pengelolaan lahan di kawasan tersebut, yang disebut-sebut dilakukan dengan dalih “meminjam tanah”, diduga mempercepat erosi dan memperparah limpasan lumpur ke permukiman.
Peristiwa ini kembali menjadi cermin buram kerusakan lingkungan di kawasan Register 38. Setiap hujan deras turun, jalan raya dan rumah warga seolah menjadi korban langganan, menandakan persoalan lingkungan yang belum disentuh solusi mendasar.
Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat penanganan darurat di lokasi banjir. Warga berharap pemerintah daerah tidak sekadar melakukan pembersihan lumpur pascabanjir, melainkan menghadirkan solusi jangka panjang dan berkelanjutan, agar bencana serupa tidak terus berulang setiap musim hujan. (Edo/Afandi)