
Kota Metro, sinarlampung.co-Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, tengah menggodok penetapan tanggal 13 Agustus sebagai Hari Pers dan Literasi Publik Muhammadiyah. Tanggal ini diusulkan untuk memperingati hari lahirnya majalah legendaris Suara Muhammadiyah (SM) edisi pertama pada tahun 1915, yang diakui sebagai tonggak sejarah pers Islam tertua di Tanah Air.
“Usulan ini secara resmi diajukan oleh Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah dan telah disetujui oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Rencana penetapan ini kini tinggal menunggu pengesahan final dalam forum musyawarah tertinggi organisasi, Tanwir,” kata Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Muchlas, M.T. saat membuka Festival Pers dan Literasi Muhammadiyah Lampung pada hari ini Sabtu, 13 Desember 2025.
Acara yang berpusat di Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro) Kampus 1 ini berlangsung selama dua hari Sabtu-MInggu 13–14 Desember 2025 dan bertujuan strategis untuk memperkuat narasi Islam Berkemajuan melalui pendokumentasian sejarah dan peningkatan kapasitas literasi kader. “Literasi muhammadiyah itu menjadi tradisi muhammadiyah, sejak berdirinya Muhammadiyah,” kata Muchlas yang juga Rektor Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta..
Menurut Muchlas, literasi dan pers merupakan identitas fundamental yang melekat pada gerakan Muhammadiyah sejak didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan. Kehadiran Suara Muhammadiyah pada 13 Agustus 1915 menandai cikal bakal persyarikatan dalam menjalankan dakwah melalui media cetak, menanggapi pemahaman Kiai Dahlan akan perintah Al-Qur’an (Surat Ali Imran ayat 104) untuk mengajak kepada kebajikan.
“Tidak ada keraguan, [Suara Muhammadiyah] menjadi simbol eksistensi dan dakwah yang mencerahkan, meneguhkan, dan menggembirakan. Majalah ini telah meraih Rekor MURI sebagai majalah Islam tertua yang konsisten terbit,” ungkap Muchlas.
Penetapan tanggal 13 Agustus sebagai hari khusus diharapkan dapat mempererat hubungan antara media, pegiat literasi, dan seluruh warga Muhammadiyah, serta memperkuat tradisi literasi di tengah gempuran informasi digital.
Peran MPI Mengawal Literasi di Era Digital
Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) merupakan lembaga kunci dalam organisasi Muhammadiyah yang bertugas mengelola perpustakaan, dokumentasi, penerbitan, dan penyebaran informasi. MPI berfungsi sebagai garda terdepan Muhammadiyah dalam urusan literasi dan media di era modern.
Tugas dan fungsi utama MPI meliputi Perpustakaan dan Dokumentasi yaitu mengembangkan, mengelola perpustakaan, dan mendokumentasikan khazanah keilmuan serta sejarah Persyarikatan. Kemudian penerbitan dan informasi dengan memanfaatkan media massa dan digital (website, media sosial) untuk penyebaran dakwah dan informasi.
“Melakukan digitalisasi koleksi pustaka dan arsip untuk memudahkan akses publik. Meningkatkan minat baca warga (mengamalkan Iqra’) dan menyelenggarakan pelatihan jurnalistik dan public relation untuk memperkuat syiar di era digital,” katanya.
Sebagai bentuk konkret merayakan tradisi ini, Muhammadiyah telah rutin menyelenggarakan Festival Pers dan Literasi Muhammadiyah setiap tahun. Festival ini biasanya diadakan di kampus-kampus Muhammadiyah, seperti yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Metro Desember 2025 ini.
“Kegiatan yang diselenggarakan mencakup seminar, diskusi media, lomba penulisan sejarah, dan lain lain. Inisiatif ini menegaskan kembali komitmen Muhammadiyah untuk memastikan dakwah dan pengetahuan Persyarikatan terus berkembang dan menjangkau masyarakat luas di era digital saat ini,” kata Ketua MPI PW Lampung Saat Sobari. (Red).