
Lingga, Sinarlampung.co — Satuan Siswa, Pelajar, dan Mahasiswa (SAPMA) Pemuda Pancasila Kabupaten Lingga memberikan apresiasi terhadap sikap Anggota Komisi I DPR RI, Endipat Wijaya, yang dinilai menunjukkan kedewasaan politik dan tanggung jawab moral sebagai wakil rakyat dengan menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf secara terbuka atas pernyataannya yang sempat memicu polemik publik.
SAPMA PP Lingga menegaskan bahwa kritik yang disampaikan Endipat Wijaya sejatinya merupakan bentuk kontrol sosial terhadap tata kelola penyaluran bantuan bencana, bukan upaya provokasi apalagi pemecah belah masyarakat.
Ketua SAPMA PP Lingga, Muhammad Ilham, menyatakan bahwa klarifikasi dan permohonan maaf yang telah disampaikan Endipat sudah sangat jelas, terbuka, dan seharusnya menjadi penutup polemik, bukan justru diperpanjang oleh kegaduhan opini di ruang publik.
“Klarifikasi dan permohonan maaf Bang Endipat sudah tegas dan transparan. Ini seharusnya menjadi titik akhir, bukan bahan untuk terus memantik kegaduhan,” kata Ilham, Sabtu (13/12).
Ilham mengajak seluruh masyarakat Kepulauan Riau, khususnya pengguna media sosial, untuk menahan diri dan menjaga suasana tetap kondusif, terlebih di tengah situasi bencana yang masih melanda sejumlah wilayah di Sumatera.
“Hentikan narasi dan komentar yang berpotensi memecah belah. Dalam kondisi bencana, fokus utama kita adalah penyelamatan, pemulihan, dan solidaritas kemanusiaan,” tegasnya.
Menurut Ilham, pernyataan Endipat Wijaya tidak dapat dipandang sebagai serangan terhadap pihak tertentu. Kritik tersebut, kata dia, murni ditujukan untuk mendorong transparansi dan akuntabilitas agar penyaluran bantuan bencana benar-benar tepat sasaran dan tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.
“Bang Endipat tidak sedang menyerang siapa pun. Yang beliau suarakan adalah pentingnya keterbukaan dalam pengelolaan bantuan bencana demi kepentingan korban,” jelas Ilham.
Ia menilai polemik yang terus bergulir justru berisiko mengalihkan perhatian publik dari kebutuhan mendesak para penyintas bencana di Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara, wilayah-wilayah yang hingga kini masih membutuhkan dukungan penuh dari semua pihak.
Ilham juga menegaskan bahwa Endipat Wijaya telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dan menyatakan tidak memiliki niat menyinggung pihak mana pun.
“Permohonan maaf itu sudah disampaikan secara terbuka. Sebagai masyarakat timur yang menjunjung tinggi adab dan etika, sikap seperti ini patut dihargai, bukan dipelintir,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa dalam situasi bencana, sensitivitas publik memang meningkat. Namun justru di titik itulah sikap bertanggung jawab dari seorang pejabat publik perlu dilihat sebagai upaya meredakan ketegangan, bukan sebaliknya.
Saat ini, lanjut Ilham, para relawan, donatur, dan berbagai elemen masyarakat telah bekerja tanpa lelah sejak masa tanggap darurat dimulai. Polemik berkepanjangan di media sosial, menurutnya, hanya berpotensi melemahkan semangat solidaritas nasional.
“Kami mengajak netizen untuk lebih bijak. Energi publik seharusnya diarahkan pada kerja-kerja kemanusiaan, bukan saling serang di ruang digital,” tegasnya.
SAPMA PP Lingga juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh relawan dan pihak yang masih berada di garis depan membantu korban bencana.
“Kerja kemanusiaan tidak boleh terganggu oleh perbedaan persepsi atau kegaduhan opini,” tambah Ilham.
Menutup pernyataannya, Ilham mengingatkan bahwa masyarakat Kepulauan Riau dikenal sebagai masyarakat Melayu yang menjunjung tinggi adab, sopan santun, dan kebijaksanaan. Oleh karena itu, permohonan maaf Endipat Wijaya harus dipandang sebagai itikad baik, bukan alasan untuk memperpanjang polemik.
“Bang Endipat sudah menunjukkan sikap bertanggung jawab. Sudah saatnya kita menghargai itu dan kembali memusatkan perhatian pada kemanusiaan,” pungkasnya. (Wisnu)