
Bandar Lampung (SL)-Pimpinan Redaksi sinarlampung.co Juniardi, memberikan materi pemahaman seputar berita kepada mahasiswa magang Fakultas Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) di kantor redaksi media setempat, Jalan Laksamana Malahayati, Kecamatan Bumi Waras, Bandar Lampung Senin, 19 Desember 2022 sore.
Di kesempatan itu, Juniardi menjelaskan materi secara sederhana, singkat dan jelas agar mudah dimengerti para mahasiswa. Adapun bahasan materi pada seminar tersebut, diantaranya seputar pengertian, jenis, contoh dan cara membuat berita.
Menurut Juniardi, dalam membuat berita, data dan informasi yang ada di dalamnya harus tersaji sedetail mungkin, supaya pembaca atau pemirsa mudah memahami terhadap apa yang disampaikan. Maka itu, unsur 5W + 1 H (what, who, when, where, why, dan how) sangat penting agar berita lebih terstruktur. “Berita itu adalah kejadian yang menarik, unik dan aneh. Berita juga bisa diartikan sebagai peristiwa atau kejadian baru yang dianggap tidak biasa secara umum,” ujarnya.
Informasi dikatakan sebuah berita, lanjut Juniardi, jika tiga rangkaiannya terpenuhi, yaitu ada kejadian, penggiat media massa dan pembaca atau pemirsa. Dikatakannya, foto yang dibubuhi keterangan (Caption) sudah termasuk sebuah berita, asalkan sesuai kaidah piramida terbalik 5W + 1H.
Berita juga tidak semata-mata tentang kejadian, namun juga tentang pendapat seseorang mengenai suatu hal. “Bukan semata-mata karena pristiwa saja tetapi juga ide-ide, pikiran-pikiran dan analis-analisi tentang berbagai masalah yang hangat dan banyak menarik perhatian masyarakat,” paparnya.
Juniardi juga menyebut satu persatu ragam berita, yakni, staightnews, indept news report, comprehensive news report, interpretative report, precision jurnalis, feature story, investigative reporting dan opinion news. Untuk mendapatkan bahan berita, tambah Juniardi, ketika mendengar informasi atau menyaksikan langsung sebuah peristiwa yang sedang terjadi, maka wartawan wajib mencari tahu tentang data dan fakta yang ada.
“Setelah melihat kejadian unik dan aneh, pasti muncul ide pertanyaan yang timbul dalam pikiran kita. Maka dari itu kita harus mencari tahu, yaitu dengan mewawancarai narasumber atau referensi lain untuk mengumpulkan data. Langkah selanjutnya adalah merangkai dan menjadikannya data atau laporan tersebut menjadi berita,” jelas dia.
Masih kata Juniardi, berita yang baik akan memberi kesan dan bisa mempengaruhi emosi pembacanya. Pembaca seolah-oleh merasakan apa yang dirasakan penulis. Namun perlu diingat, bahwa pembuat berita dilarang menuangkan opini atau melampiaskan perasaan dalam hasil karyanya.
“Kita tidak boleh melibatkan perasaan atau terpancing emosi ketika melihat sebuah kejadian. Misalnya, ketika mendengar kasus tidak senonoh orang tua terhadap anak kandungnya, kemudian serta merta kita tulis menurut amarah kita, itu tidak boleh,” imbaunya. (Red)