
Bandar Lampung (SL)-Peran media sangat penting, karena saran, keluhan dan informasi dari masyarakat bisa terkoneksi kepada pihak yang bergerak memberantas narotika. Seperti yang disampaikan Wakil Direktur Direktorat Reserse Narkoba Polda Lampung, AKBP FX Winardi Prabowo kepada Sinarlampung. Rabu, 12 Oktober 2022.
Menurut Winardi, informasi kepada masyarakat melalui media lebih efektif dan efisien. “Selain media, peran masyarakat juga perlu dengan memberikan informasi yang akurat bukan karena suka dan tidak suka. Arti kita perlu berkolaborasi dalam hal ini,” ujar dia.
Wadir juga menegaskan, baik anggota maupun masyarakat selalu diberikan himbauan tentang bahaya narkoba. “Kita sudah sampaikan pada masyarakat di setiap pertemuan di manapun, juga anggota kita dilapangan bahwa akibat narkotika berbahaya,” tegasnya.
Dia menambahkan, keterlibatan media dalam pemberantasan narkoba dapat berfungsi sebagai pemberi informasi berupa himbauan. Ia menilai, saat ini bahaya narkoba semakin meluas, tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat saja, tetapi sudah merambah ke badan institusi termasuk Polri itu sendiri.
“Ini penting sekali karena polisi tidak bisa kerja sendiri tetapi membutuhkan bantuan dari rekan media untuk menyampaikan informasi pada masyarakat karena objeknya adalah masyarakat,” ujarnya.
Selanjutnya, strategi yang harus dibangun dalam upaya pemberantasan yaitu menyelamatkan masyarakat sebagai target utama peredaran narkotika. “Polri dan media, kita bisa saling diskusi untuk saran dan masukan pada kami terhadap pelaksanaan tugas memberantas peredaran narkotika,” imbuhnya.
Kampung Tangguh Narkotika
Pada kesempatan ini juga Winard menceritakan Kampung Tangguh Narkotika serta kronologis penangkapan bandar narkoba di stasiun kereta api Blambangan Lampung Utara. Diterangkannya, Kampung Tangguh Narkotika berada di lima lokasi, yakni Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, Way Kanan, Lampung Utara dan Lampung Barat.
Terkait proses penangkapan bandar narkoba di stasiun kereta api Blambangan Lampung Utara, personil Polres mendapat serangan massa dan terpojok di dalam stasiun saat mengamankan tersangka. “Tiba-tiba diserang oleh masa sampai personil terpojok di dalam stasiun kerta api, sebabkan kerusakan beberapa fasilitas.untuk sementara akhirnya tersangka dilepas,” tutur Wadir.
Lebih lanjut menurut Wadir, pihaknya melakukan razia satu desa dengan cara door to door. Namun semua kaum laki-laki di kampung tersebut tidak berada di tempat. Setelah ada penegasan dari pihak kepolisian, bandar akhirnya diserahkan. Terlebih warga di sana tak ingin kampungnya di labeli buruk.
Menurut keterangan Wadir, di kampung tersebut selain sebagai aktivitas jual-beli juga disediakan tempat untuk pemakai narkoba terutama sabu-sabu. Sementara ibu rumah tangga dijadikan sebagai tameng untuk menghadapi razia polisi.
“Nah hal seperti inilah perlu adanya komunikasi dan edukasi agar masyarakat lebih tahu bahaya narkotika,” tandasnya.
Keterlibatan Media Terjun Langsung Dalam Upaya Pemberantasan
Winardi berharap, awak media agar dapat aktif membantu pihak kepolisian dalam memberikan informasi terutama publikasi berupa himbauan kepada masyarakat. “Kami berharap kolaborasi Polri dan Media berkesinambungan dengan melibatkan media pada waktu razia. Tentunya keselamatan media di lapangan akan kami prioritaskan,” pungkasnya. (Heny)