
Tanggamus (SL)-Pengerjaan Proyek Rigid Beton (rigid pavement) di Ruas Lengkukai-Sidoharjo Kelumbayan Barat Rp3,3 miliar, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Tanggamus diduga dikerjakan asal jadi. Proyek tersebut diekerjakan rekanan CV Cukuh Balak dengan konsultan pengawas CV Tri Mitra Jaya. Proyek dengan nomor kontrak 600/001/BM-07/04/2021, dengan waktu pelaksana 150 hari menurut kalender.
Kepala Pekon Sidoharjo Sunartok, mengatakan pengerjaan proyek tersebut memang jauh dari harapan masyarakat Kelumbayan Barat, dan benar-benar tidak sesuai dengan juknis pengerjaan. Seharusnya atas tanah dasar yang dilapisi bahan berbutir seperti batu kerikil berupa agregat.
“Dan lapisan Lean Concrete (LC) yang merupakan bagian dari lapisan dasar. Mempunyai waktu jeda, tunggu kering, nah itu masih basah langsung disiram dengan lapisan atas. Lokasi ini rawan longsor jadi kalau pengerjaanya amburadul maka dikhawatirkan tidak akan lama rusak kembali,” katanya.
Hal yang sama diungkapkan, Dawi (40), warga Kecamatan Kelumbayan Barat, mengatakan pembangunan tersebut sepertinya tidak sesuai dengan standar nasional, bahkan saat dikonfirmasi dengan pengawas sekaligus kepala tukangnya, menjawab tidak jelas dan buru buru berlalu saat akan diminta keteranganya.
“Adukan semen dan pasirnya tidak memakai mixer, mereka cuma memakai molen manual saja, bahkan pasirnya pun cuma pakai pasir lokal yang tidak melalui uji lab bahkan banyak bercampur tanah bahkan banyak juga menggunakan batu bekas,” kata Dawi.
Dawi menjelaskan bahwa tidak ada pengawasan dari pihak konsultan mau pun dari pihak PUPR Kabupaten Tanggamus. “Pada saat kami datang mereka tidak berada di lokasi yang seharusnya pengawas pelaksanaan konsultan ataupun tenaga ahli di bidang pengerjaan tersebut harus selalu berada di lokasi pengerjaan sesuai dengan kontrak yang telah di tanda tangani dalam perjanjian dengan pihak dinas PUPR kabupaten tanggamus”, ujar Dawi.
Agus Kepala Tukang, pelaksana proyek yang berada di lokasi kerja, mengaku tidah tahu menahu soal pekerjaan itu makaian molen. “Pihak penyedia jasanya tidak mau ke lokasi.Kami pernah manggil dari Sorento tapi mereka tidak sanggup, karena sebelumnya kami pernah mengerjakan 1,200 KM, dan yang sekarang cuma 200 meter, pada intinya pihak Sorento tidak sanggup, makanya kami cuma pakai molen,” kata Agus.
Saat dikonfirmasi Basuki, selaku pihak konsultan dari pembangunan proyek tersebut enggan merespon. Dihubungi melalui nomor WhatsApp +62 821-7572-9xxx pun enggan menjawab, bahkan Basuki memblokir wa wartawan. (Red)