
Bandar Lampung (SL)-Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Lampung dalam Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) APBD tahun anggaran 2020 mencapai Rp7,866 triliun, dan disahkan oleh DPRD Provinsi Lampung dalam rapat paripurna yang disetujui oleh seluruh anggota DPRD Lampung, Selasa, 26 November 2019.
Dalam APBD 2020 bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp3,319 triliun, dana perimbangan Rp4,495 triliun dan pendapatan lainnya Rp51,65 miliar. Sedangkan Belanja Daerah dalam APBD 2020 dianggarkan sebesar Rp7,756 triliun; belanja langsung Rp4,94 triliun dan belanja tidak langsung Rp2,816 triliun.
Maka berdasarkan kondisi pendapatan daerah dan belanja daerah tersebut, APBD Provinsi Lampung tahun anggaran 2020 mengalami surplus Rp110.180.000.000,- dibanding Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tahun 2019 Pemda Provinsi Lampung bertambah Rp56 Miliar, sehingga total APBD Provinsi Lampung menjadi Rp7,3 Triliun.
PAD Provinsi Lampung mayoritas bersumber dari berasal dari Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Pajak Kendaraan Bermotor, dan Hasil retribusi daerah juga dari pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.
Sinarlampung.com menyusuri keberadaan lebih dari 50 perusahaan perusahaan besar export-impor, yang ada di Lampung, mulai dari Jalan Lintas Sumatera dari Pelabuhan Bakauheni-Panjang, Jalan Soekarno Hatta Panjang, Jalan Yossudarso, Jalan Ir Sutami, yang diantaranya beraktifitas perusahaan milik Negara Prancis, Belanda, Korea, Kanada, Singapura, hingga perusahaan milik Negara Amerika.
Sinarlampung.com mencatat berusahan besar diantaranya PT AMANJAYA, PT SURITAMI (pakan ternak), PT SAWSIONG milik Korea industri peleburan Baja, PT TEXNIKO (korea), PLTU SEBALANG, PT TIGA RODA, PT HOLCIM, PT SEMEN PADANG, PT SINAR MAS, PLTU TARAHAN, PT BUKIT ASAM, PT TEL, PT NESTLE ( Australi), PT BGR, PT NOATU (RDU) (Industri Kapal), PT HISAB ( Prancis), PT Bumi Waras, PT LAUTAN TEDUH, PT, GUDANG GARAM, PT BALI KENCANA.
Lalu PT OLAM (India) eksport Kopi, PT PUTRA BALI (lada dan kopi), PT LDC (bio Solar), PT PERINDO JAYA (Export Kopi), PT ANTAR SAUDARA, PT. SINAR LAUT, PT SWADAYA, PT LDC (Perancis, exsport kopi), PT. LUWIS (Prancis) ekspor kopi, PT. NET Coffe (BELANDA), PT SENTRAL PROFIT, PT Pusat Alfar Mart dan Indomart.
PT. Tora Bika, PT Philips (Amerika), PT, Setia Utama (kopi), PT. Nata Boga (India) kopi, PT Bumi Menari Intanusa (MBI), PT Java Comfeed, PT. Nework Cofee (Kopi), PT POKPAN, PT. Coca Cola, PT. Toyota Bio, (Ubi Jalar/Mantang), PT Sugar Labinta (gula, PT. Permatex, PT. Humas Jaya (Pisang dan Buah Buahan), PT. Sari Makmur.
Belum termasuk perusahaan perusahaan lain, yang ada di wilayah Kabupaten Kota, seperti PT Indo Lampung, Sugar Group, Pertamina, AKR, Pupuk KCL, Penggemukan Sapi, Karet PTP VII, Batu Marmer, Beras, Bibit Benur, PT Subur Jaya (Lampung Tengah), Industri CPUdi Way Kanan, dan lain lain.
Dalam Ketentuan Undang-Undang No.42 tahun 2009 pasal 7, Tarif PPN adalah 10% (sepuluh persen), untuk setiap transaksi jual-beli barang dan jasa yang dilakukan oleh wajib pajak pribadi atau wajib pajak badan yang telah menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP) adalah dikenakan Pajak Pertambahan Nilai atau PPN. Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan Jasa Kena Pajak (JKP) di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha, termasuk Impor dan Ekspor.
Investigasi sinarlampung.com menyebutkan, pelabuhan Bakauheni dengan aktivitas penyeberangan manusia dan kendaraan di tujuh dermaga, dengan omset kurang lebih rata rata Rp2 miliar perhari. Estimasi PPN 10 persen Rp200 juta perhati ditambahn pajak omset 1 persen. Dari total Rp200 juta perhari 70% adalah milik pusat, dan 30% adalaah masuk ke Pemerintah Daerah, atau Rp60 juta perhari. Dari Rp60 juta x 30 hari = Rp180 juta x 12 bulan = Rp2,16 miliar. Itu belum dari Bandara, perusahaan ekspedisi, dengan ratusan armada.
Lalu, Pelabuhan Panjang, bongkar muat eksport-import, terdata mencapai 3,5 juta ton pertahun. Jika ditarik rata rata Rp1 triliun transaksi, maka pertahun dari pelabuhan paanjang itu ada pajak masuk sekitar Rp10 triliun. Jika 70% atau Rp7 trilun ke pusat, maka ada 3% atau Rp3 triliun ke daerah sebagai PAD, Yang kemudian dijadikan bagi hasil ke Pemda Provinsi dan 14 Kabupaten Kota, maka masuk Rp200 miliar sebagai PAD Provinsi Lampung.
“PT BW import gula Tailan, sementara PT SBM pakan ternak import Singapura. PT Sutomo cs misalnya, memiliki tujuh tangki CPU, dengan rincian tiga unit kapasitas 2000 ton, tiga unit 1500 ton, dan satu unit minyak BKO atau minyak sayuti. PT Sutomo juga memiliki 22 tangki BBM yang untuk suplai ke kapal tangker, tujuh diantaranya tangki gas. PT Indo Lampung dengan dua tangki etanol, dengan kapasitas 4000 ton pertangki. Barapa pajaknya, siapa yang pernah investigasi mendata seperti itu,” kata Agus Saripuddin, buruh bongkar muat pelabuhan Panjang, Sabtu 28 Desember 2019.
Agus menjelaskan PT AKR aktifitas 14 tangki, etanol 8000 ton pertiga bulan, artinya satu tahun 4 kali eksport. Harga etanol lebih mahal dari harga gula. Jika kita hitung samakan saja dengan harga gula misalnya Rp15 ribu. Dikalikan 8000 ton, di kalikan empat kali. Sudah Rp480 miliar pertahun. Artinya 30 persen dari Rp480 juta, dari Etanol setiap tahunnya.
“Ekspor PTP VII, 2500 Ton Karet setiap tahun, lalu PT Bukit Asam, setiap hari 12 trip kali 60 gerbong, dengan berat 50 ton setiap gerbong. Jika dihargai Rp1000 perkilo, Rp50 juta x60 gerbong Rp3 miliar sudah Rp36 miliar perhari. Kalikan 360 hari,” katanya.
Untuk Semen, PT Semen Padang, PT Holcim, PT Tiga Roda, rata rata 5000 ton perhari. PT TEL eksport kertas dalam sebulan sekitar 25 kontainer atau sekitar 250 ribu setiap bulan. “Silahkan bandingkan dengan data pemerintah, atau asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia. Belum lagi sapi big loter atau penggemukan sapi. Di Lampung ada 12 kandang. Satu kandang kapastas 10 ribu ekor, pertiga bulan, di kalikan 12 kandang. Jika rata rata harga rendah Rp7 juta, sudah berapa pajaknya,” kata Agus.
PT Sugar Labinta, Tanjung Bintang, eksport dengan muatan rata rata 20 ton pertruk, dengan armada 100 truk perhari. Artinya 2000 ton setiap hari.Atau sekitar 720 ribu ton pertahun, total triliunana setiap tahun. PT Aman Jaya memiliki 14 tangki CPU, yang terus beroperasi. PT Sinar Mas, export bengkul 7000 ton setiap hari. (besambung,..)