
LAMPUNG TENGAH, sinarlampung.co – Di bawah langit Kecamatan Kalirejo, aroma tanah basah dan kesibukan hajatan besar mulai terasa. Di sepanjang Jalan Merdeka, Kampung Sripurnomo, gerak kolektif dari ribuan kepala tengah bersiap menyambut sebuah ritus tua: Ruwat Bumi Nusantara 2026.
Kegiatan yang digelar selama dua hari, Sabtu dan Minggu (11-12 Juli 2026) ini, bukan sekadar ritual tahunan melarung doa atau memotong tumpeng. Tahun ini, ada beban moral yang lebih besar yang digotong di atas pundak masyarakat Sripurnomo.
Di tengah sisa-sisa polarisasi sosial pasca-pemilu yang sempat menyisakan sekat di pos ronda hingga grup percakapan warga, Ruwat Bumi hadir sebagai penawar. Mengusung tema “Satu Doa Untuk Bumi Pertiwi, Satu Rasa Untuk NKRI”, agenda ini menjadi ruang refleksi untuk merajut kembali persaudaraan yang sempat merenggang.
Ketika Doa Lintas Agama Bertemu di Satu Meja
”Ini bukan cuma soal tradisi leluhur, tapi soal bagaimana kita kembali duduk bersama tanpa melihat kemarin milih siapa,” ujar Tri Wiyadi, SE., MM., tokoh pemuda setempat yang juga CEO PT PAS, di sela-sela acara.
Puncak kebersamaan itu mengkristal dalam prosesi Kembul Bujana Persaudaraan. Sebuah kenduri raksasa di mana ribuan warga—tanpa memandang strata sosial, suku, maupun agama—duduk bersila mengepung hamparan nasi tumpeng yang sama.
Sebelum suapan pertama dimulai, atmosfer hening seketika. Doa-doa dipanjatkan secara bergantian oleh ratusan tokoh lintas agama dari Islam, Kristen, Hindu, hingga Buddha. Sebuah pemandangan kontras yang menyejukkan: wewangian dupa dan sesaji adat bersanding harmonis dengan rapalan doa keselamatan. Di atas meja yang sama, ada kesepakatan tak tertulis yang mereka sepakati: menjaga keutuhan NKRI. Esensi silih asih, asah, dan asuh benar-benar dihidupkan kembali di sini.
Panggung Budaya dan Kolaborasi Multi-Pihak
Malam harinya, suasana Kampung Sripurnomo berubah magis. Riuh rendah tabuhan gamelan dari Paguyuban dan Sanggar Seni Putro Wahyu Aji mengiringi lekuk eksotis Pagelaran Kuda Kepang dan filosofi mendalam dari Pagelaran Wayang Kulit. Budaya adiluhung sengaja ditempatkan di garis depan untuk mengetuk kesadaran generasi muda bahwa mereka memiliki identitas besar yang merekatkan perbedaan.
Menariknya, gaung dari pelosok Lampung Tengah ini bergema hingga ke tingkat provinsi. Momentum ini rupanya bertepatan dengan dua perayaan besar: Hari Jadi Kabupaten Lampung Tengah yang ke-80 sekaligus menyambut HUT LPP TVRI Stasiun Lampung ke-35 yang jatuh tepat pada 12 Juli.
Kehadiran Bupati Lampung Tengah, I Komang Heri, bersama Kepala Stasiun TVRI Lampung, M. Ikhsan, menegaskan bahwa gerakan dari akar rumput ini mendapat dukungan penuh dari elemen birokrasi dan media publik.
Kolaborasi ini pun berkembang menjadi aksi nyata yang menyentuh masyarakat. Sepanjang dua hari pelaksanaan, Jalan Merdeka menjelma menjadi pusat pelayanan sosial. Warga tampak antusias mengantre di tenda-tenda kemanusiaan; mulai dari aksi donor darah bersama PMI Provinsi Lampung, pengecekan kesehatan gratis oleh UPTD Puskesmas Poncowarno, hingga khitanan massal gratis.
Tidak ketinggalan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) Provinsi Lampung bersama BAZNAS Lampung Tengah turut menggelar Pasar Murah dan penyaluran santunan, menjadi bantalan ekonomi yang nyata bagi warga di tengah tantangan global saat ini.
Membasuh Diri, Menatap Esok
Secara filosofis, ‘meruwat’ berarti membebaskan atau memurnikan dari marabahaya dan energi negatif. Melalui Ruwat Bumi Nusantara 2026, Kampung Sripurnomo sedang mengirimkan pesan kuat dari ceruk kecil Lampung ke seluruh penjuru negeri: bahwa keragaman adalah kekayaan, dan gotong royong adalah kompasnya.
Ketika pagelaran usai dan lampu-lampu panggung padam, yang tersisa bukan hanya cerita tentang kemeriahan wayang kulit atau penuhnya kantong belanjaan dari pasar murah. Yang tertinggal di dada warga Sripurnomo adalah rasa aman yang pulih—sebuah keyakinan bahwa bumi yang mereka pijak akan tetap subur, dan bangsa yang mereka cintai akan tetap utuh. (Red)